Menyoal Hastag #INAElectionObserverSOS di Facebook

Akhir-akhir ini ramai Hastag #INAElectionObserverSOS di Facebook. Hastag ini berasal dari anjuran Rocky Gerung dalam salah satu kicauannya di Twitter agar menggaungkan tagar tersebut.

Pengguna media sosial facebook lalu ramai-ramai memviralkan hastag #INAElectionObserverSOS dalam bentuk status atau komentar. Tujuannya, agar dunia melihat bahwa ada sesuatu yang trending, viral di dunia maya, dan pesan dari tagar #INAElectionObserverSOS itu adalah agar dunia mengawasi proses demokrasi yang berjalan di Indonesia.

Jadi ceritanya, agar proses demokrasi berjalan sesuai rel, maka beberapa pihak mengharapkan pemantau asing hadir. Upaya menghadirkan para pemantau asing itu dengan menggugah mereka dalam satu kata permitaan yang trending melalui hastag.

Dahsyatnya hastag atau tagar di Twitter sudah terbukti beberapa kali. Bahkan, tagar sudah mulai efekti di media sosial Instagram. Beberapa minggu lalu bahkan terjadi perang tagar #UnisntallBukalapak vs #UninstallJokowi. Hasilnya, netizen luar negeri sampai bertanya, “Ini aplikasi apa?”

Nah, sekarang efektifkah hastag #INAElectionObserverSOS di facebook? Melihat pengguna media sosial lebih familiar dengan aplikasi besutan Mark dibanding Twitter.

Mari kita lihat. Hashtag atau tagar adalah kata yang dimulai dengan tanda “has” (#). Awalnya, has adalah bahasa program yang ada di MIRC, lalu kemudian digunakan media sosial Twitter sebagai ajang memburu trending topic atau topik yang paling banyak dibicarakan di dunia twitter sejak tahun 2007.

Pengguna hastag yaitu menuliskan simbol # plus kata kunci. Jika menggunakan dua kata atau lebih, maka ditulis bersambung tanpa menggunakan spasi.

Di media sosial Twitter, ini digunakan untuk mengkategorikan tweet mereka dan membantu pengguna agar lebih mudah menggunakan fitur pencarian Twitter. Misal, pengguna Twitter akan mencari topik pemilu, maka diketiklah #pemilu. Hasilnya semua Tweet yang menggunakan hastag itu akan muncul.

Berbeda dengan facebook, hastag memang pernah digunakan di facebook pada tahun 2013. Saya bahkan sempat menggunakan itu sebagai alat memudahkan, mengelompokkan, dan menemukan status saya dengan cepat. Saya masih ingat, hastag saya waktu itu, “Nyaung.” Artinya, waktu itu jika mengetik #Nyaung di pencarian Facebook, maka semua post status saya akan muncul teratur.

Namun sayang, hastag di Facebook tidak seperti dulu. Hastag terbaca dalam sistem Facebook sebagai kalimat biasa dan bukan modul yang membantu pencarian. Artinya, tagar #INAElectionObserverSOS di facebook tidak memiliki pengaruh apapun seperti maksud tagar ini digaungkan pertama kali.

#INAElectionObserverSOS di Facebook

Bukti kedua, silahkan gunakan tool trending topik apapun, maka tagar #INAElectionObserverSOS Facebook tidak terbaca. Bahkan Anda mencoba mengetik di browser dengan search Engine Google sekalipun, maka yang terdeteksi adalah tagar #INAElectionObserverSOS di Twitter.

Kenapa demikian, karena uji viralitas konten pada facebook bukan pada tagar. Sampai artikel ini saya tulis, saya melihat sudah banyak akun yang disuspend, dianggap spam, group dihapus, halaman dihapus, akun ditangguhkan, dan komentar spam. System Facebook bekerja.

Saya merasa kasihan, para pengguna media sosial yang dengan mudah ikut saran, tanpa mengetahui maksud dan cara melakukan. Saat Rocky Gerung menyarankan hastag itu di melalui cuitan di Twitter, bahkan dari situ sudah tersirat, kalau hastag itu juga disebar di Twitter, dan bukan di media sosial lain.

Alih-alih mengharap bantuan asing untuk proses demokrasi yang lebih baik, justeru Facebook menganggapnya sebagai spam. Kalau seperti itu mending, cari uang di facebook kan? Syukur-syukur tidak dianggap sebagai Saracen nantinya. Semoga tidak ya….

Tinggalkan Balasan