Menyebut Kafir kepada Non Muslim; Opini Terkait Rekomendasi Munas PBNU

Hasil Musyawarah Nasional PBNU 2019 sangat mengejutkan di tengah riak politik menuju pemilu serentak 27 April 2019. Said Aqil Siraj selaku ketua PBNU menyampaikan beberapa rekomendasi salah satunya tidak menyebut kafir kepada non muslim.1

Saya lama merenung memikirkan hal ini. Setidaknya ada beberapa poin menjadi sebab dan bahan berpikir terlepas dari argumen, dalil dan segala macam referensi agama atas nama dan nalar kemanusiaan serta toleransi antar umat beragama berjibaku dalam opini masing-masing..

PBNU sebagai organisasi islam terbesar tentu masih menjaga marwahnya, namun rekomendasi mengenai menyebut kafir kepada non muslim itu menyisakan dua pertanyaan besar di benak saya.

Pertama, apakah memanggil orang yang tidak beragama islam dengan sebutan kafir adalah masalah yang nyata, sehingga energi para ulama terhormat NU harus kehilangan energi membahas hal itu dalam bahtsul masaail?2

“Hai kafir, apa kabar?”

“Hello bisa bicara dengan pak kafir?”

“Mari kita tundukan kepala sejenak untuk berdoa. Doa akan saya panjatkan dengan cara islami, dan bagi kafir, agar menyesuaikan.”

Penyebutan kafir kepada non muslim sejauh ini hanya dalam lingkup internal saja. Dalam ceramah misalnya, seperti halnya penyebutan domba tersesat di lingkup internal untuk mereka yang tidak beragama nasrani. Bukan masalah, dan orang nashrani juga tidak masalah jika kafir menjadi panggilan dalam lingkup internal muslim.

Kedua, menyoal PBNU itu sendiri, atas pertimbangan apa dan dari situasi darurat yang bagaimana sehingga rekomendasi itu perlu untuk dikeluarkan?

Tahun politik yang meriah dan menjadi musim hoax dan buruk sangka, maka NU sebagai organisasi besar akan terlihat sesuai jika memperjuangan masalah darurat dalam bahtsul masaail, dan berkenaan dengan islam dan umat islam. Bukan malah berkenaan dengan kebutuhan umat lain.

Munculnya rekomendasi ini, justeru memicu emosi umat islam dengan agama lain yang selama ini terkendali dan hampir dikata tidak pernah bersiteru apapun. Sebagian masyarakat islam merasa non muslim mendapat tempat exclusif oleh PBNU dengan rekomendasi ini. Syukur syukur umat islam yang mayoritas NU tidak merasa dianaktirikan.

Selain itu, rekomendasi untuk tidak menyebut kafir kepada non muslim, bisa menjadi awal untuk melangkah kepada hal dengan alasan yang sama. Misalnya, menyebut kafir kepada non muslim merupakan kekerasan verbal. Lalu muncul “kekerasan” lain yang dianggap sama seperti meneriakan Allahu Akbar di tengah jalan, dan akhirnya menjadi rekomendasi lagi.

menyebut kafir kepada non muslim

Sangat menarik jika rekaman streaming saat topik ini dibahas oleh para ulama disiarkan secara langsung. Ini penting untuk melihat konteks diskusi sehingga muncul rekomendasi itu. Ini akan menjadi paparan alasan sebagai jawaban atas pertanyaan tadi. Jika tidak akan makin liar. NU tidak akan kawatir jika memang targetnya bukan itu.

Saya sempat berpikir nakal, bahwa dalam forum resmi organisasi besar seperti NU, maka para pemain “proyek rekomendasi,” sangat lihai memanfaatkan kelengahan para peserta. Buktinya, topik intinya adalah masalah kebangsaan dan kehidupan masyarakat antar umat beragama, tapi menjurus ke panggilan kafir non muslim.

Rekomendasi ini pasti akan liar dan membuat gaduh di mata publik karena publik tahu bagaimana pengaruh rekomendasi musyawarah nasional organisasi sekelas PBNU hasil bahtsul masaail. Rekomendasi itu bahkan kadang dijadikan fatwa oleh banyak orang. Terus sehingga nantinya muncul hukum halal haram menyebut kafir kepada non muslim.

Kafir hanyalah terminologi dalam agama yang merupakan bagian dari keyakinan dan identitas agama itu sendiri. Semua agama punya identitas sendiri. Kalau toh PBNU sudah merasa kata “kafir” itu mengancam, akan lebih kuat jika diajukan judicial review, tapi kembali lagi ke masalah keberpihakan terhadap umat Islam harus didahulukan, misal ancaman penyebutan domba tersesat, dll.

Kekawatiran lain, bahwa argumentasi dasar panggilan kafir tidak boleh kepada non muslim melihat non muslim dalam kacamata berbangsa dan bernegara. Akan mudah terjadi dalam bias antara panggilan dan penyebutan. “Kamu kafir”, itu bukan panggilan tapi hanya penyebutan. Tapi bagaiamana jika menyebut itu dalam konteks berbangsa, misal saat berceramah?

Para pembenci dakwah akan mendapat angin segar dan menjadikan ini sebagai senjata, dan karena itu adalah rekomendasi NU, maka mereka akan merasa terlindungi karena warga nahdhiyyin pasti akan mengawal rekomendasinya.

Terakhir, NU hadir dan ingin menegakan islam rahmatan lil alamin, maka seyogyanya rekomendasi PBNU bisa menjadi rahmat, pertama dan utama rahmat itu untuk umat islam sendiri.

  1. Sumber
  2. Bahtsul Masail merupakan sebuah forum diskusi antar ahli keilmuan Islam, utamanya fikih, di lingkungan pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Di forum ini, berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya, belum dibahas ulama terdahul, dibahas secara mendalam. Bahtsul masail adalah istilah pengganti dari istinbath dan ijtihad di lingkungan NU

Tinggalkan Balasan