Menurut Saya, Pak Quraish Salah “Ucat”

Kehidupan intelektual tak bisa lepas dari dogma. Memprihatinkan ketika sebuah kesalahan dan kebenaran diukur dengan nilai yang tak pernah diukur, atau tak memiliki alat ukur. Saya teringat beberapa tahun lalu saat mempertanyakan keabsahan ketua sekolah tinggi pada seorang Professor yang juga ulama. Dengan bahasa daerah, beliau marah kepada saya, “bukan hak kamu mengurus hal itu, pertanyaan kamu seperti profesor saja!”.

Kalimat itu terdengar tegas dalam konsumsi publik, tapi itu benar menurut saya. Sering melalui tulisan saya mengkritik demokrasi dengan sistem one man one vote. Bahwa tak mungkin sama apa yang dilakukan, dipikirkan, diucapkan seorang profesor dengan seorang anak tamatan SMA saja. Yang dikatakan seorang porfesor beda dengan yang hanya tamat SD. Namun penting untuk diperhatikan, bahwa kehebatan seseorang tidak untuk semua hal. Siapapun makhluk yang bernama manusia berpotensi untuk keliru.

Menurut Saya, Pak Quraish salah “Ucat”, judul celoteh tiada lain kecuali sedikit mengulas kisruh perkataan sang professor di acara tafsir al-Misbah 12 Juli di Metro tv. Ulasan ini tentu sangat sederhana jauh dari kadar teoretis untuk dijadikan perbandingan dari kualitas ucapan seorang professor dengan produk bejibun. Celoteh ini menurut saya, dan menurut saya cuma salah “UCAT” saja.

Dulu, saya sangat salut dengan professor asal Rappang, tetangga kampung saya ini. Salut itu mulai buram ketika mengatakan jilbab tidak wajib, dan itu terlihat dari perilaku putrinya, seorang presenter kondang yang tidak berjilbab. Ramai di media, tapi mau tak mau saya harus tertunduk mengalah, adem terhadap serangan beberapa pembelaan, “Beliau orang berilmu, mungkin saja maksudnya beda dengan yang orang awam pahami.” Its, oke. Saya orang awam, lagian ini masalah furu’.

Bagaimana kalau itu menyangkut masalah akidah? Masalah kenabian? Pribadi harus berjuang menghormatinya sebagai orang tua dan orang dengan karya tidak sedikit. Beliau doktor alumni al-Azhar, professor, ahli tafsir. Namun nurani tak tahan untuk sedikit berbagi dan lancang “menuduh” sang professor CUMA salah “ucat” kok. Mari kita lihat secara detil, tentu dengan kapasitas tamatan SMA, dan bukan seorang profesor.

Tidak benar. Saya ulangi lagi, tidak benar bahwa Nabi Muhammad mendapat jaminan Surga. Nahh.. surga itu hak prerogratif Allah. Ya tho? memang kita yakin bahwa beliau mulia. kenapa saya katakan begitu? Karena ada seorang sahabat Nabi dikenal orang… terus teman-teman di sekitarnya berkata, bahagialah engkau akan mendapat surga. Kemudian nabi dengar, siapa yang bilang begitu, nabi berkata, tidak seorang pun orang masuk surga karena amalnya, dia berkata baik amalnya akan masuk surga, surga adalah hak prerogratif Tuhan.”

Di website dan akun facebooknya Pak Quraish Shihab mengklarifikasi bahwa hal itu berdasarkan hadis yang artinya “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya “Engkau pun tidak?”, beliau menjawab “Saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.” Benar yang dikatakan pak Prof. Lalu di mana salah “ucat”nya?

Ada dua hadis yang maksudnya sama. Satu seperti yang diungkapkan pak Quraish di web dan facebooknya, satu lagi hadis riwayat bukhari nomor 5673. لن يُدخِلَ أحدًا عملُهُ الجنَّةَ قالوا ولا أنتَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : لا ، ولا أنا ، إلَّا أن يتغمَّدَنِيَ اللَّهُ بِفَضلٍ ورَحمةٍ Dalam hadis tersebut, yang saya pahami, amal sebagai fa’il (pelaku) dari kata kerja “masuk” dan bukan Nabi saw. Artinya, ketika sahabat bertanya kepada Nabi saw “Engkau pun tidak?”, maksudnya amal Nabi atau Nabi saw dengan amalnya, bukan Nabi saw sebagai sosok Nabi secara menyeluruh.

Menurut saya pak Quraish salah “ucat” saja, karena seakan Nabi saw yang tidak masuk surga, apalagi dengan pengulangan kata “tidak benar” dua kali, padahal yang dimaksud adalah amal manusia, karena hanya rahmat Allah lah manusia kelak mendapat surga. Karena Nabi saw mendapat rahmat dari Allah, maka beliau dijamin masuk surga.

Menurut Saya, Pak Quraish Salah “Ucat”

Kedua, rangkaian ucapan sang professor menggiring umat akhirnya pesimis akan amal yang dilakukannya. “Buat apa beramal, kalau toh dapatnya neraka, Nabi saja tidak dijamin? Atau pemikiran, tak usah beramal saleh, toh bukan amal yang membuat kita masuk surga”. Padahal, beberapa ayat al-Quran yang menyebutkan bahwa surga disediakan Allah karena amal perbuatan manusia, seperti surah an-Nahl ayat 32, dan surah az-Zukhruf ayat 72.

Hadis dan ayat ini tidaklah mungkin bertentangan. Amal bukan “harga yang setimpal” dengan nikmat surga dari Allah, seperti kita menyerahkan uang 100 ribu untuk membeli 10 mangkuk bakso sebagai harga yang sesuai. Tapi amal adalah “Syarat” yang telah Allah tetapkan bagi hamba-Nya untuk masuk surga. Dalam syarat itulah nantinya, ada piranti kesempurnaan syarat, misalnya Ikhlas, Ittiba’ ala an-Nabiy, dll.

Seorang ahli tafsir kesohor se-Asia, dua poin itu tentu diketahui oleh pak Quraish. Beliau tahu, kalau Nabi saw dijamin masuk surga. Tahu kalau konteks hadis itu substansinya adalah amal, Beliau pun mungkin tahu kalau amal menjadi syarat orang masuk surga. Sayang, menurut saya beliau salah “ucat” dan fatalnya di depan publik. Untuk hal ini, yang akhirnya membuat beliau mengklarifikasinya.

Tinggalkan Balasan