Menunggu Itu Membosankan; Bapak-ku Sakit (Bag. 2)

Menunggu itu membosankan. Menunggu itu lama. Karena saat menunggu, di situ ada harapan, entah akan sesuai atau tidak dengan kenyataan yang akan datang. Inilah yang kami rasakan dalam ambulans tergolong umuran dengan suara aneh saat jalan mulai menanjak.

Dengan mata tak pernah lepas ke sosok terbaring lemah, kami duduk berhimpit sesak dalam ruang sempit mobil milik Rumah Sakit. Paling ujung dekat kepala bapak, duduk lemah, ibuku dengan mata basah penuh airmata. Di sampingnya berturut-turut saya bersaudara, plus seorang perawat yang masih muda.

“Saya masih baru, ini pengalaman pertama saya”. Jawabnya ketika saya tanya.

Biasanya, perjalanan ambulans dengan suara sirine meraung akan mempercepat perjalanan tiba di tempat tujuan. Tapi tidak dengan malam itu. Rute 190 Kilometer dengan jalan berkelok, naik turun bukit, ditempuh dengan kecepatan sedang. Positif thingking saja, mungkin saran dokter memang seperti itu, mengingat kondisi pasien (bapak).

Antitesa kembali berkata lain, ketika perjalanan sudah setengahnya, tabung pernafasan akan habis. Tabung kedua di pasang. Perjalanan masih jauh, tabung kedua pun mulai menunjukan tanda tidak mendukung. Kalau toh, saran dokter kecepatan kendaraan menyesuaikan, kenapa peresdiaan tabung oksigen tidak mencukupi? “Insya Allah akan cukup”, kata perawat sambil memegang kantongan antisipasi mabuknya.

Dalam doa kami ada optimis yang sangat besar. Dengan optimisme itulah membuat kesabaran mampu bertahan. Sekitar jam 4.00 subuh (11/03/2014), kami tiba di depat Unit Gawat Darurat Rumah Sakit dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Rumah Sakit terbesar di Indonesia Timur, katanya. Terlihat dari gedung-gedungnya yang mentereng, tak ada kelihatan sampah berserakan, atau mungkin karena masih gelap.

Dalam pikiran saya yang terjadi, perawat akan berlompatan menyambut pasien yang kritis, kemudian ditangani lebih agresif lagi. “Suster cantik datang lalu menanyakan, dia menanyakan data si korban, dijawab dengan…” lagu tak asing, tenar era pra-reformasi, dan kini saya melihat langsung fakta lagu itu.

Pertama, melapor dan pasien masih di dalam ambulans. Kedua, mencocokan data, pun pasien masih di dalam ambulans. Ketiga, menghadirkan keluarga sebagai penanggungjawab, dan lagi-lagi pasien masih di dalam ambulans. Namun, ketahuilah, menunggu itu membosankan. Jeritku dalam hati.

Setelah semua urusan administrasi selesai, barulah bapak-ku dibawa ke dalam. Perawat di dalam cukup sigap. Langsung dimasukan ke dalam ruang radiologi untuk pengambilan poto kondisi internal tubuh pasien. Hasilnya, jauh dari apa yang berkembang sejak dari RS Kabupaten tadi. “Akibat tekanan, pasien menahan rasa pusing dan sakit sehingga mengakibatkan pembuluh darah batang otak pecah. Pada bagian batang otak, di sanalah pusat kesadaran, jantung, dll”. Sinkronlah, pantas saja bapak-ku tak kunjung sadar, dan nafasnya satu-satu. Pun, Dokter mengatakan hal ini sulit, dan butuh waktu panjang. “Lakukan saja dokter, karena saya tahu kalau menunggu itu membosankan dan butuh waktu lama”. Jawabku.

Selasa, 11 Maret, Pukul 9.00 pagi, bapak dipindahkan ke ruang istirahat (Lontara 3), menunggu ruang ICU yang masih full. “Berdoa saja, agar ada ruangan kosong segera”. Kata perawat membesarkan hati kami. Sepertinya perawat ini tak tahu, kalau saya tahu bahwa menunggu itu membosankan. Tak cukup 30 menit kami menunggu, benar ada pasien keluar, artinya ada tempat di ruang ICU incubator untuk bapak.

Bersambung ke Bagian 3

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend