Menjawab Teka-teki Doa

Doa sebagai rutinitas orang bertuhan, memiliki teka-teki yang susah terjawab. Tak heran, ada kalimat doa agar doa terijabah. “Doa adalah senjata bagi orang-orang beriman,” demikian penegasan Nabi saw beberapa abad yang lalu. Doa secara harfiah berarti mengajak. Doa kepada Tuhan tersimpan harapan besar, harapan tercapainya keinginan setelah ikhtiar. Kebanyakan orang menjadikan doa sebagai sandaran tawakkal setelah ikhtiar. Benar.

Dua kisah unik sebagai pengantar pembanding dalam rangkaian menjawab teka teki doa dalam celoteh saya ini. “Umurnya kisaran 60-an, rajin beribadah. Lima waktu berjamaah di masjid. Wanita tua ini tak henti-hentinya berdoa, agar anaknya yang hilang 20 tahun silam, ditemukan kembali. Namun doanya itu “belum” di ijabah oleh pengabul Doa.”

Lain lagi dengan pemuda sekampung saya, dia jenuh dan protes. “Saya merantau dengan sahabat saya, di perantauan bekerja dengan pekerjaan yang sama, pergi pagi pulang malam. Tak ada yang beda, kecuali dia tidak pernah berdoa, dan jarang beribadah. Namun, dia sekarang sudah kaya raya hasil dari pekerjaannya, dan saya masih seperti yang dulu. Tuhan tak adil.” Ketusnya bersungut.

Menjawab teka-teki doa, patut dipahami, Pertama: Manusia diciptakan bukan untuk hal tidak baik, karena Pencipta adalah Maha Baik. Tuhan sudah menyediakan sistem yang baik, manusia dengan predikat khalifah yang memilihnya. Semua manusia mempunyai harapan dan itu banyak. Saking banyaknya harapan manusia, dorongan ragawi kemudian mengharap tanpa peduli kalau harapan itu sebenarnya tak layak baginya. Ketahuilah, semua doa manusia akan terkabulkan, jika apa yang diminta dan yang meminta itu layak. Sebelum meminta kekayaan, maka siapkan diri kita sehingga layak menjadi kaya, dst.

Kedua: Tuhan Maha segala Maha. KemahaanNya adalah KemutlakanNya. KemutlakanNya adalah kelayakn Tuhan memerintah ciptaan apalagi hambaNya. Sepele, dan terkadang mudah, tanpa kita sadari. Tidak layak permintaan hamba “memerintah” Pencipta, kecuali kalimat perintah dalam doa itu adalah bagian dari perintahNya. Contoh: ya Tuhanku, berilah aku uang 200.000 sebentar malam. Beda dengan lafaz doa bentuk perintah dari Tuhan sendiri. “Selamatkanlah aku dari api neraka.” Kata selamatkanlah adalah perintah, namun bagian dari perintah Tuhan untuk melafalkanya.

Ketiga: jika bisa diumpamakan. Komunikasi via handphone antara A dan B. Handpone siap, kartu siap, pulsa siap, namun jaringan seluler terganggu, maka akan sia-sia. Terkadang seorang hamba telah siap dengan ikhtiar, syarat syar’I doa terpenuhi, namun apa daya, hubunganya dengan Pengabul doa terganggu. Dia hanya mendekat dan meminta ketika butuh, dia tidak ikhlas dst. Atau jaringan seluler lain mengganggu. Yah, dia memiliki ketidakharmonisan dengan Khalifah Tuhan yang lain.

Memasuki waktu ashar, cukup sekian celoteh saya tentang teka-teki doa. Mudah-mudahan masalah tentang doa anda, jawabanNya ada pada 3 poin di atas. Selamat menikmati.

Send this to a friend