Mengurai Waktu

Mengurai waktu mungkin cuma bahasa, sesuatu yang ada, namun tak memiliki simestris. Waktu menyimpan misteri masa lalu, wadah manusia masa kini, dan menjadi misteri masa depan. Ada detik, menit, jam, hari dst yang menjadi jarak dari masa kini menuju masa depan, setelah satu masa lalu tulisan ini berjalan ditinggalkan satu masa berikutnya, dan terus berlalu.

Mengurai waktu terlalu jauh jika detik saja masih misteri. Ukurannya hasil kesepakatan manusia. Tak jelas. Satu detik sama dengan sekilas, satu langkah satu kedipan mata, atau satu ucapan kata. Telat satu detik bisa menghasilkan kebahagiaan, dan bisa menjadi malapetaka. Sedetik itu bisa sangat singkat tetapi juga sangat lama, itulah salah satu bagian dari waktu.

Waktu juga menjadi sebab tercetaknya penilaian dari tindakan manusia. Sama, tak berwujud tapi nyata. Nabi saw pernah ditegur, dan manusia dilarang melakukan sesuatu tergesa-gesa. Karena kawatir, manusia datang tergopoh-gopoh. Takut terlambat, dia datang terburu-buru. Kejar deadline, saya menulis tergesa-gesa, semua akibat waktu yang menimpa kita sebagai manusia.

Waktu menjadi samar dalam kehidupan lain, manusia sepakat, lahirlah definisi waktu entah benar atau salah. Ketika tidur, ada yang bermimpi, mimpi diceritakan dengan kata “sewaktu.” Adakah waktu dalam mimpi?. Waktu juga katanya ada di bulan, matahari, dan planet lain. Katanya. Keberanian kita mendefinisikan waktu melahirkan imajinasi tentang waktu yang bisa maju dan bisa mundur.

Ada dua keterbatasan nyata bagi setiap ciptaan; ruang dan waktu. Ruang bisa diukur, simetris, tapi waktu tunggu dulu. Manusia lebih takut waktu daripada ruang. “Lama di akhirat berbanding seribu waktu di dunia,” kata Tuhan. Waktu sangat lambat bagi yang menunggu, sangat cepat bagi yang terburu-buru, pendek bagi yang bahagia, dan panjang bagi yang gundah.

Sebagai perhatian, waktu tak menunggu, hanya ada satu aturan; dia akan berlalu dan tak akan kembali. Dalam waktu, manusia hanya meng-upload harapan ke depan, dan menanti akibat dari waktu yang berlalu. Bagi pemburu dollar, waktu sama dengan uang, kehilangan waktu berarti kehilangan uang. Jangan berharap waktu bisa direfresh, waktu tak berulang, hanya kejadian yang bisa sama. Waktu memberi kesan cepat dan lambat. Maka mutlak, waktu menjadi permanen dihadapan manusia, dan manusia dituntut fleksibel.

Tak ada jalan keluar dari waktu. Manusia hanya bisa memanajemen diri dan kegiatannya agar sesuai dengan perjalanan waktu. Karena jika tidak, manusia akan merugi, kecuali yang senantiasa berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran (QS. al-Ashr).

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend