Menguak Tabir “Barakka”, di Pon-Pes As’adiyah

Akhir tahun 1998, adalah masa yang sulit, berpolemik dan mendebarkan di pondok pesantren As’adiyah. Pasalnya, tawaran bupati waktu itu untuk memindahkan kelas Madrasah Aliyah Putra ke suatu daerah gersang dan paceklik air, bakal dilakukan. Aksi porotes internal oleh siswa mulai ramai, meskipun tidak segarang demo yang ada hari ini.

Hingga suatu hari, semua siswa Madrasah Aliyah dikumpulkan di masjid pesantren untuk diberikan pemahaman tentang hal ini. Suasana gaduh tak bisa dihindarkan. Perdebatan santri dengan kiyainya berlangsung alot. Hampir semua alasan pemindahan mampu dilawan secara argumen dari pihak siswa (menolak). Sampai seorang kiyai yang cukup disegani berbicara, bahwa pondok pesantren As’adiyah “hebat” bukan karena lokasinya, tempatnya, tapi karena ‘barakka’na’…”. sampai di situ perdebatan berhenti. Hampir semua siswa teridiam bahkan yang awalnya menyatakan ketidak sepakatan, berubah menjadi sepakat.

Bukan rahasia lagi, pondok pesantren yang didirikan oleh al-Alimul Allamah Anre Gurutta (AG) H. M. As’ad, yang dalam masyarakat bugis dibei gelar “Anre Gurutta Puang Aji Sade’”, adalah pesantren yang memiliki keunikan. Banyak hal yang membuktikan pernyataan ini. Lulusan pondok pesantren As’adiyah, akan selalu menonjol (pada satu atau lebih sisi) di perguruan tinggi manapun yang bersangkutan melanjutkan pendidikannya, adalah salah satu faktanya.

Hal tersebut sempat saya tanyakan langsung ke kiyai ternama pondok pesantren As’adiyah saat ini, dan jawabannya hanya satu “barakka’na As’adiyah”, yang dalam bahasa Indonesia berarti berkahnya As’adiyah. Ya, pesantren ini memiliki hal unik positif dan diberi makna yang sama dengan berkah (barakka’).

Kamus al-Munawwir memberikan definisi “berkah” diambil dari al-Barkatu yang diartikan ni’mah (kenikmatan), al-Sa’adah (kebahagiaan), al-Namaau, al-Ziyadatu (penambahan). Definisi lain yang sempat saya temukan adalah suatu kenikmatan atau suatu kebahagiaan atau sebuah penambahan, karunia Tuhan.

Secara gamblang guru saya mendefinisikan berkah dengan;

البركة هى زيادة الخيرفى ذات الخير

“berkah adalah bertambahnya kebaikan pada sesuatu yang baik”.

ثبوت الخير الالهي فى الشيء

“Berlakunya suatu kebaikan yang bersifat Ketuhanan pada sesuatu.”

Dalam bahasa modern barakka’ bisa diartikan dengan sinergis. Berbeda dengan energi, ketika dipakai akan habis sementara sinergis merupakan suatu proses energisasi yang berkelanjutan, tak berkesudahan (unlimited).

Ada sebuah pendapat mengatakan bahwa dalam darah manusia yang selalu berdzikir kepada Allah, niscaya mengalir suatu aura kebaikan. Dengan mendekati aura orang tersebut niscaya, akan mengalir aura-aura kebaikan dalam dirinya. Bersalaman dapat mengalirkan pengaruh kebaikan, seperti aliran listrik yang masuk ke laptop melalui charge.

“Dekatilah penjual minyak sehingga kamu akan terkena wanginya, namun jangan tukang abu, karena kamu akan terkena abunya.” Sabda Rasul saw.

Perhatikan surah al-Maidah; 54:

“Allah mencintai mereka (kaum) itu dan kaum itu pun mencintai Allah.”

Jadi dengan landasan cinta kepada Allah swt, suatu kaum dapat mengalir padanya suatu kebaikan yang bersifat ketuhanan pada sesuatu menetapnya kebaikan yang berasal dari Allah swt.

Singkatnya, keberkahan tidak memihak kepada benda-benda apapun jenisnya. Ini berarti asumsi sementara, keberkahan akan muncul dari sesuatu yang baik dengan landasan cinta.

Dengan demikian, bersalaman dengan kiyai yang selalu berbuat baik, dan menebarkan kebaikan, memakan makanan dari sisanya, mengunjungi makam, dengan niat tabarruk (mengharap keberkahan), adalah suatu hal yang wajar.

Dahulu santri pondok pesantren As’adiyah, berasal dari seluruh wilayah Indonesia, bahkan dari luar negeri. Mereka datang dengan niat menuntut ilmu tanpa memandang usia. Banyak diantara mereka datang membawa istri dan anak-anak, bahkan sampai cucu. Mereka datang karena kecintaan akan ilmu dan kebaikan.

Pada masa 90-an hal tersebut masih nampak, jalan menurun menuju pesantren akan penuh dan macet oleh santi pejalan kaki yang berkelompok-kelompok menuju pesantren.

Selain kelas formal, pengajian khalaqah (mangaji tudang), atau dengan istilah lain “mapasantreng”, (pembelajaran dengan mendengarkan kiyai yang menjelaskan hal melalui satu kitab sebagai referensi, dan santri duduk menyimak di sekeliling kiyai), masih memenuhi luasnya pondok waktu itu. “Mapasantreng” ini dilaksanakan setiap selesai shalat Subuh, shalat Ashar, dan shalat Magrib.

Asumsi saya, berkah pondok pesantren As’adiyah di masa lalu bukan isapan jempol, bukan hanya cerita yang tak layak diganti dengan kata “konon”. Barakka (berkah) di pondok pesantren As’adiyah, memang fakta dan dapat dibuktikan baik melalui bukti ilmiah teoretik dan fakta.

Bagaiman dengan sekarang?. Saya hanya bisa menampilkan video proses “mangaji tudang”, yang menyisakan ruang yang sangat luas di tempat pelaksanaannya.

1 Comment

  1. ChakyReplyMei 30, 2012 at 01:19 

    Lanjutkan tulisannya kwan..

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.