Menghapal al-Quran Instan? Hati-hati!

Seorang ibu menangis haru manakala menghadiri khataman hapalan al-Quran 30 juz anak bungsunya. Ibu itu memiliki tujuh orang anak, semua memiliki pekerjaan dan masa depan yang baik. Namun hanya keberhasilan anak bungsunya ini yang membuat dia menangis haru. Ibu itu tahu keutamaan seorang hafizh al-Quran, salah satunya di akhirat kelak anaknya yang hafizh itu akan memasangkan mahkota kepada orang tuanya. Orang tua mana yang tak terharu melihat anaknya menjadi seorang hafizh. Orang tua bercita cita agar anaknya kelak menjadi hafizh al-Quran.

Sayangnya cita-cita kadang tak berbanding lurus dengan usaha. Hasil pasti akan berbanding lurus dengan usaha. Menjadi hafizh al-Quran tidaklah mudah. Menghapal al-Quran itu sulit? Iya sulit. 6000 an lebih ayat dengan berbagai bentuk ayat mirip dan serupa. 77 ribuan kata tersusun pasti dan tak boleh saling bertukar. Makanya, menghapal al-Quran instan adalah sesuatu yang mustahil terjadi di era penuh pengaruh seperti sekarang ini.

Perlu diketahui, hafizh al-Quran adalah gelar bagi mereka yang mampu menghapal al-Quran dengan hapalan yang mutqin. Syarat utama mutqin adalah selalu mengulang hapalannya setiap saat. Hafizh yang mutqin senantiasa harus bersahabat dengan al-Quran. Banyak santri pernah menghapal al-Quran, tapi apakah dia seorang hafizh? Belum tentu. Saya banyak mendapatkan mantan santri yang pernah menghapal al-Quran, menghadapkannya, mengkhatamkannya, tapi hapalan itu hilang karena tidak pernah mengulangnya.

Sesungguhnya perumpamaan shahib al-Quran seperti pemilik onta yang bertali kekang. Jika ia terus-menerus menjaganya onta ia menahannya dan jika ia melepasnya maka ia pergi. (Riwayat al-Bukhari)

Menarik, akhir-akhir ini bermunculan lembaga tahfizh al-Quran. Lembaga tahfizh itu sepertinya menjadi jawaban atas cita-cita para orang tua. Hal ini patut disyukuri. Mari kita sambut, dukung dan membantu hal itu. Namun, jangan melupakan bahwa mengahapal al-Quran itu tidak mudah. Karena menghapal al-Quran itu tidak mudah, maka berhati-hatilah dengan tawaran lembaga tahfizh al-Quran instan. 40 hari hapal 30 juz al-Quran, 3 hari hapal 10 juz 1 hari satu juz, macam-macam promosi mustahil itu.

Beberapa poin perlu diingat. Pertama, kemampuan otak yang lebih mudah mengingat objek fantasi dibanding objek yang pasti. Al-Quran dengan susunan juz, surah, ayat, sampai hurufnya itu pasti dan tak ada pembenaran jika bertukar. Artinya, jika menghapal al-Quran perlu dibarengi kehati-hatian bukan sekedar pembiasaan. Itulah sebabnya, sangat tidak dianjurkan menghapal al-Quran otodidak. Bahkan Nabi saw sendiri menghadapkan hapalannya ke malaikat Jibril as.

Berhati-hati akan berbarengan dengan pelan. Jika dikatakan “hati-hati di jalan”, maka kita akan pelan-pelan. Jangan terburu-buru, jangan instan. Allah swt berfirman:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat menguasainya. Surat Al-Qiyamah, Ayat 16. Nabi saw saja diberitahu demikian kok….

Kedua, hadis Nabi saw yang diriwayatkan imam Muslim menyebutkan, “membaca al-Quran di malam hari dan di siang hari ia akan mengingatnya. Jika ia tidak melakukan demikian, ia pasti akan melupakannya. Artinya, pengulangan atas hapalan wajib hukumnya, baik yang sementara menambah hapalan atau mempertahankan hapalannya. Artinya, jika hari ini Anda kuat menghapal 1 juz, besok anda harus mengulang dulu lalu menambah hari kedua juz berikutnya. Hari ketiga anda harus mengulang dua juz, untuk melanjutkan juz ke 3, dst.

Memperhatikan poin kedua, maka pada hari ke 10, anda harus mengulang 10 juz. Jika kemampuan membaca 30 menit per juz maka dibutuhkan 5 jam mengulang tanpa henti. Ini belum diperhitungkankan kesalahan, pembetulan. Ingat, bahwa santri tak diijinkan mengulang sendiri sebelum hapalan itu dianggap mutqin. Maka, jika ustad pembimbing anda mendengar pengulanag hapalan 5 juz itu, maka ustad itu juga mendengar selama 5 jam. 20 juz 10 jam, dan 30 juz 15 jam. Itu belum dihitung proses penambahan hapalan. Lalu bagaimana itu bisa instan?

Penulis sangat mengkhawatirkan pendirian lembaga-lembaga tahfizh seperti ini tidak murni untuk mengembangkan hapalan al-Quran. Betapa mudah menarik perhatian, minat, dan bahkan materi para orang tua yang mampu atas nama sumbangan, sedekah dan amal jariyah. Feed backnya mencetak menghapal al-Quran instan. Yakinlah, Anda tidak akan mendapat itu. Namun bersykurlah para orang tua masih punya niat dan harapan anaknya menjadi seorang hafizh.

Menghapal al-Quran Instan? Hati-hati!

Tinggalkan Balasan