Menggugat Tradisi Gelar Haji

Sebagai manusia, sejatinya semua yang kita lakukan adalah efek dari pemahaman kita sendiri, bukan sekedar dari pengetahuan kita. Tuhan menegaskan penciptaan hidup dan mati, untuk menguji sejauh mana Kualitas amalan kita. Bukankah kualitas itu akan terukur dari pemahaman kita?.

Ada banyak sekali hal yang kita lakukan keseharian, tidak sekedar paham bahkan tahupun tidak. Acap kali kita hanya ikut-ikutan, atau menilai lebih awal bahwa itu menguntungkan.

Kelakuan itu sedikit demi sedikit menjadi rutinitas, dan akhirnya menjadi tradisi. Tradisi aneh yang penulis maksud dalam lingkup ke-Indonesia-an tentunya. Dan yang paling mencolok salah satunya adalah budaya gelar, dan pemakaian gelar haji.

Konon, jika anda hendak menunaikan ibadah haji hari ini, maka anda harus rela menunggu 10 sampai 20 tahun yang akan datang. Kuota yang diberikan pihak Saudi, tidak mencukupi jumlah umat Islam yang berniat mengunjugi “rumah Allah” tersebut.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, salah satu penyebab jumlah itu tiap tahun membeludak, adalah niat calon jamaah bukan semata-mata ikhlas menyempurnakan ke-islaman-nya, namun tak sedikit hanya ingin mendapatkan gelar haji melekat di depan namanya.

Beberapa contoh kasus: Tetangga saya rela berhutang hanya untuk  melunasi Ongkos Naik Haji, dan secepatnya mendapat nomor kursi. “saya malu sekali ketika mengantar mempelai, saya cuma duduk dibelakang tanpa ada yang peduli, yang di depan cuma yang haji-haji”. Katanya ketus. Demikian juga dengan Nenek teman saya lain lagi, dia sangat marah, jika cucunya  hanya memanggil ibunya denga kata mama saja. “Kamu harus bilang ‘mama ajiku’, katanya sambil memperlihatkan gigi ompongnya.

Penulis sekali lagi sudah menganggap ini aneh. Aneh karena seakan kita mendeklarasikan diri menjadi jahiliyah. Bukan bodoh, tapi tahu, namun berusaha untuk tidak tahu, dan berusaha untuk tak menghindari ketidaktahuan itu.

Apa asumsi pemakaian gelar haji itu menjadi aneh dan sedikit berbau jahiliyah. Penulis mengutarakan setidaknya ada tiga poin;

Pertama: Dalam agama (Islam), perilaku beragama semestinya berlandaskan nash baik itu al-Quran atau Hadis. Jika dalam syafi’iyah, ijmak, qiyas dan ijtihad juga termasuk. Nah, untuk masalah pemakaian gelar haji, tak satupun dalil yang memerintahkan hal itu, qiyas, dan ijmak juga demikian. Ijtihad ada, namun berasal dari ulama kontemporer, yang mana dia sendiri terlanjur memakai gelar haji itu.

Kedua: Secara geografis, negara yang meiliki masyarakat Islam, ternyata cuma Indonesia dan sebagian warga Malaysia yang memakai gelar haji. Dan, setelah diteliti, umat Islam asal Malaysia tersebut, juga keturunan dari Indonesia. Di Arab, Timur tengah, kita tak akan menemukan nama dengan gelar haji di depannya. Meski dalam naskah terkadang sudah direduksi oleh penterjemah. Contoh kecil Rasulullah Muhammad saw, apakah memakai gelar Haji? Abu Bakar, Umar ibnu Khattanb, Ali bin Abi Thalib? Tidak …

Ketiga: Ibadah haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Jika melaksanakan ibahdah haji dan mendapat gelar sesudahnya, maka sejatinya setelah melaksanakan shalat sebagai rukun Islam kedua, mestinya juga mendapat gelar Mushalliy. Setelah mengerjakan Zakat, mendapat gelar Zakiy, dan seterusnya.

Bisa dibayangkan, jika seorang bernama Galongkong, dan telah melaksanakan semua rukun Islam, maka namanya akan menjadi Syahid, Mushalliy, Sha’im, Zakiy, Haji Galongkong… Wooow… Tapi tidak kan?. Kita seakan pura-pura tidak tahu, dan menjadikan haji sebagai ibadah spesial dengan gelar itu.

Memangnya kenapa alergi dengan gelar itu?, itukan penghargaan?, gk apa2, toh gk jelek?. Demikian pernyataan pembelaan dari yang sudah terlanjur memakai gelar haji itu, dan mungkin menikmati efek sosialnya.

Jawabnya: Semua perilaku pasti memiliki efek. Pemakaian gelar haji akan berefek kepada pembentukan “kasta” baru dalam tatanan sosial. Seperti dalam contoh sebelumnya. Efek lain, ibadah haji akan membentuk paradigma, wisata bergelar.

Kelak ibadah haji sedikit demi sedikit akan tergiring menjadi ritual kenaikan derajat. Dan jangan heran, jika kemudian definisi mampu, sebagai syarat wajib haji, direduksi dengan bolehnya berutang. Jangan heran jika tiap tahun calon membeludak. Semua karena kasta bung… !!!.. de el el..

Selamat bagi yang telah menunaikan ibadah haji, semoga menjadi haji mabrur.. Amin.

Tinggalkan Balasan