Menggapai Hikmah….

La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa marah-marah terhadap isterinya saat akan berangkat ke kota. Dia punya jadwal penting jam 11.00, perjalanan butuh waktu satu jam, dan saat itu sudah jam 10.00. Isterinya telat berdandan karena harus menyusui dan menidurkan anaknya yang masih bayi dan tidak bisa diajak pergi. Omelan sampai umpatan keluar tak terasa. 15 menit kemudian barulah mereka berangkat. La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa menyetir dengan muka kusut imbas masih marah dan kemungkinan mereka telat.

Kira-kira 15 menit perjalanan mereka harus berhenti, karena di depan ada kerumunan orang, mobil tak bisa lewat. La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa turun dan bertanya, ada apa gerangan. Salah seorang penduduk di kerumunan itu menjawab, “ada mobil tertimpa pohon tumbang pak di depan sana.” La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa berjalan mendekat. “Sejak kapan kejadiannya?” Tanyanya lagi. “30 menit yang lalu.” La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa kesal dan kembali ke mobil lalu mencari jalan lain. Apa yang Anda pikirkan tentang kisah ini?

Dalam hidup, semua kejadian dilakoni dengan nalar dan perasaan manusia. Pemilik segala kejadian adalah Dia Yang Maha Kuasa. Dia tak terbatas, artinya pasti ada kejadian atau makna suatu kejadian yang manusia tidak bisa jangkau, itulah hikmah. Pada Hikmah ada kebijaksanaan Tuhan, dan kebijaksanaan Tuhan itu adalah kebaikan untuk manusia. Kebijaksanaan Tuhan atau hikmah akan diberikan kepada mereka yang berbuat baik dan sesuai jalur tuntunan. Hikmah Tuhan akan menjadi penolong bahkan menolong siapa yang bersama dengan yang berbuat baik itu.

Dalam kisah La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa, isterinya berbuat baik yang dibalas kemarahan, umpatan dan omelan oleh suaminya. Karena menyusui dan menidurkan anak adalah kewajiban seorang ibu dan tidak bisa diatur seenaknya, isterinya mendapat hikmah yang bisa jadi tidak disadari bahkan oleh La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa sekalipun. Andai disadari, pohon tumbang 30 menit lalu, dia terlambat berangkat 15 menit dan sampai di lokasi pohon tumbang dalam 15 menit perjalanan. Artinya, andai bukan karena hikmah yang diberikan Tuhan, mungkin mereka yang tertimpa pohon tumbang. Naudzu Billah….

Dalam kehidupan sering kita mengalamai hal demikian. Kita marah, kita protes atas hal yang dilakukan orang lain dan kita anggap salah, padahal orang yang kita anggap salah itu melakukan yang benar. Kita tidak mencoba menggapai hikmah di balik kejadian yang membuat kita marah. Apakah dengan marah, kejadian akan berulang, atau masalah selesai? Andai kita tahu hikmah itu, kita pasti menyesal telah marah.

Lalu bagaimana kalau itu benar salah? Lakukan tiga hal; ubah dengan tangan atau kekuasaan, jika tidak mampu dengan lidah, peringati, dan jika tidak mampu cukup mendoakan. Itulah perbuatan baik yang kita lakukan. Setelah itu tunggu hikmah dariNya.

Banyak juga keliru dalam menggapai hikmah. Dia melakukan hal yang salah, lalu menunggu hikmah. Waduh… misalnya, keluar rumah dengan tidak menguncinya. Rumahnya akhirnya kecurian. Lalu datanglah orang menyadarkan, “sabar, ada hikmahnya.” Hikmah dari mana? Yang dia lakukan itu teledor tak ada hikmah dalam keteledoran. Hikmah bisa didapatkan dari nasehat yang diberikan, karena itu perbuatan baik.

Benang tipis hikmah biasanya juga ada dalam ibadah. Seorang mahasiswa terlambat ikut ujian akhirnya dinyatakan tidak lulus. Dia terlambat karena melaksanakn shalat duha. Dia senyum saja karena menganggap ada hikmah di baliknya. Anggapan itu muncul karena yang membuat dia telat adalah shalat duha. Apakah yang ditunggu adalah hikmah? Bagi saya bukan! Namun dia akan mendapatkan pahala, ganjaran dari shalat duhanya, bukan hikmah dari telatnya.

Menggapai hikmah tak sulit. Jika ada yang dilakukan lalu ternyata terhalang oleh suatu kebaikan, maka ada makna di balik terhalangnya kejadian itu. Makna itu adalah kebijaksanaan Tuhan. Itulah hikmah… sudah, La Tasseleng Deng Silalona Petta Nappa lagi marah namanya dicatut hehehe