Mengganti Puasa Orang yang Meninggal Dunia Menurut Ulama Madzhab

Pada tulisan saya yang lalu sedikit diuraikan mengenai hal yang membatalkan puasa dan wajib menggantinya atau dalam istilah fikih Qadha.

Masalah baru muncul, bagaimana jika seorang yang batal puasanya kemudian belum sempat mengganti puasanya kemudian meninggal dunia?, atau bagaiman hukum mengganti puasa orang yang meninggal dunia?.

Ulama sepakat, jika udzurnya (penghalangnya tidak puasa) terus menerus sampai seorang meninggal dunia, maka ia tidak berdosa dan tidak diwajibkan meng-qadha, dan tidak wajib pula membayar fidyah.

Namun jika seorang meninggal dunia dengan masih dibebani kewajiban puasa Ramadlan, sedang ia memilki kesempatan untuk menggantinnya sebelum ia meninggal dunia, maka para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya.

Mengganti Puasa Orang yang Meninggal Menurut madzhab Syafi’iyah

Menurut madzhab Syafi’iyah, (madzhab umum di Indonesia), disunahkan bagi wali orang yang meninggal dunia itu menggantikannya sebagai upaya membebaskan si mayit dari kewajibannya, dan tidak perlu membayar fidyah. Dan yang dimaksud dengan wali ialah kerabat baik kedudukannya sebagai ashabah atau ahli waris biasa dan lain-lain. Pendapat ini didasari dengan hadis:

Rasulullah saw bersabda, “Siapapun yang meninggal dan ia masih harus berpuasa (meng-qadha puasanya) sebagai pengganti puasanya yang luput pada bulan Ramadhan, maka walinya harus berpuasa atas namanya.”

Mengganti Puasa Orang yang Meninggal Menurut Madzhab Hanabilah

Menurut Madzhab Hanabilah dengan imamnya Ahmad bin Hambal bahwa boleh diganti puasanya itu oleh orang lain, jika puasa itu puasa nazar. Namun jika bukan puasa nazar maka tidak perlu

Mengganti Puasa Orang yang Meninggal Menurut Madzhab Hanafiyah

Madzhab Hanafiy dengan imamnya Abu Hanifah, bahwa walinya harus berpuasa, dan jika ia tidak sanggup, maka harus mengeluarkan makanan sebagai fidyah. (Baca ketentuan wanita menyusui qadha atau fidyah)

Mengganti Puasa Orang yang Meninggal Menurut madzhab Malikiyah

Menurut Madzhab Maliki dengan imamnya Malik, meng-qadha puasa bagi orang yang telah meninggal dunia adalah tidak wajib. Kecuali jika orang yang meninggal dunia itu mewasiatkan agar puasanya itu diganti, maka wajiblah bagi ahli warisnya meng-qadha (mengganti).

Dengan berbagai pendapat ulama mengenai mengganti puasa orang yang meninggal dunia dan membayar fidyah, bukan berarti memberikan hak enteng orang meninggalkan puasa, namun sebagai bukti betapa tingginya kedudukan atau nilai shalat dan puasa dalam Islam.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.