Mengenal Nilai Akhlak dalam Ibadah Haji

Dalam pelaksanaan ibadah haji, ternyata tersirat di dalamnya terdapat nilai akhlak. Nilai akhlak tersebut secara tidak langsung tertanam bagi siapa yang melaksanakan ibadah haji. Nilai akhlak dalam ibadah haji adalah akhlak kepada Allah, Rasul, dan diri sendiri. Berikut penjabaran nilai akhlak yang dimaksud:

Pertama: Akhlaq kepada Allah

1) Syukur. Melaksanakan kewajiban haji merupakan wujud syukur atas nikmat harta dan kesehatan. Keduanya merupakan kenikmatan terbesar yang diterima manusia di dunia. kepada Allah dan rasa syukur atas nikmatnya dengan menunaikan ibadah haji dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Haji sebagai wujud syukur adalah ibadah total dalam segala aspek. Terutama terkait dengan kesehatan badan, harta kekayaan, sebagai bagian dari kemampuan melaksanakan ibadah haji. Oleh karena itu, ibadah haji hanya diwajibkan atas kaum muslimin yang telah mendapatkan anugerah dan kenikmatan tersebut.

2) Taqwa. Ibadah haji merupakan perintah Allah swt kepada hamba-Nya yang mampu melaksanakannya tanpa ragu. Apapun yang diperintahkan-Nya harus dikerjakan dan apapun yang dilarang-Nya harus ditinggalkan. Kepatuhan dan ketaatan semacam ini merupakan cermin dari kuatnya keimanan seseorang kepada Allah. Tanpa didasari oleh keimanan yang kuat, mustahil seorang hamba mau melaksanakan ibadah haji.

3) keikhlas. Dalam ibadah haji, aspek ubudiyah (memperhambakan diri kepada Allah) tampak jelas, di mana jamaah memperlihatkan kehinaan dan kerendahan martabat dirinya di hadapan Allah, dengan berpakaian ihrom yang amat sederhana, tanpa berhias, tidak ada pangkat dan jabatan. Mereka semua adalah hamba Allah yang datang kepada-Nya dengan penuh harapan untuk mendapatkan ampunan dari segala dosa dan kesalahan. Untuk menggapai semua itu diperlukan keihklasan, saat niat dan melakukan.

akhlak dalam ibadah hajiKedua: Akhlak kepada Rasul Allah

Nilai akhlak terhadap rasul dalam ibadah haji adalah wujud kepatuhan mengikuti ajarannya. Ibadah haji disampaikan Nabi Muhammad saw hubungannya dengan syariat Islam yang disampaikan Nabi Ibrahim as. Dalam hubungan ini riwayat tentang sahabat Umar r.a. ketika mencium hajar aswad mengatakan:

“Umar ra. berkata: sungguh aku mengetahui engkau hanyalah batu, sekiranya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah saw telah menciummu dan mengusapmu, niscaya aku tidak akan mengusapmu dan menciummu.”

Ketiga: Akhlak kepada Diri Sendiri dan Orang Lain

1) Tidak melakukan rafats, fusuq dan jidal

Dalam memenuhi kewajiban bagi dirinya, Islam mengingatkan manusia agar tidak merugikan hak-hak orang lain. Islam melarang manusia untuk mengucapkan kata-kata yang kotor.

Pada ibadah haji, ketika jamaah melakukan ihram ada beberapa larangan yang harus ditinggalkan antara lain rafats, fusuq dan jidal. Hal tersebut sangat aplikatif apabila setiap muslim mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al-Baqarah 197.

2) Mengendalikan hawa nafsu

Mengendalikan hawa nafsu sebagai nilai akhlak dalam ibadah haji merupakan hal sangat urgen. Sebab setiap saat setan menggoda jama’ah untuk mengajak pada jalan yang sesat. Hal ini bisa dipahami ketika ihram banyak larangan-larangan yang harus ditinggalkan oleh jamaah. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah agar jamaah mampu mengendalikan hawa nafsunya untuk mendapatkan ridha dari Allah.

3) Tolong menolong

Tolong menolong dapat dilihat ketika jamaah melempar jumrah. Ketika ada jamaah yang tidak mampu untuk melaksanakan pelemparan jumrah, maka jamaah lain wajib membantunya. Selain itu, bisa juga dilihat ketika ada jamaah yang tersesat, maka bagi jamaah lain untuk membantu menunjukkan jalan yang benar. Dengan tolong menolong di antara jamaah, maka akan tercipta suasana yang damai sehingga ukhuwah islamiyah bisa terwujud di antara kaum muslimin.

4) Persaudaraan

Dalam ibadah haji, umat Islam berkumpul di suatu tempat dengan berbagai jenis bangsa, suku atau ras yang berjauhan asal negara dan daerahnya. Dengan perkumpulan yang berasal dari berbagai negara dan bangsa yang jauh itu, tentu terjadi perkenalan dan persahabatan.

Ibadah haji adalah kebersamaan/jama’ah umat Islam untuk ibadah kepada Allah swt. Mereka melaksanakan apa yang diperintahnya dan apa yang dilarang-Nya. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan ridho-Nya. Dengan pertemuan dan kebersamaan itu, mereka menjalin ukhuwah Islamiyah seagama tanpa membedakan suku, ataupun ras.

Menurut Ali Ahmad al-Jurjani bahwa dengan pertemuan dan perkenalan ini, mereka menjalin persaudaraan seagama tanpa ada perbedaan suku ataupun ras. Karena dalam pertemuan ini Allah melarang mereka saling berdebat yang mendorong terjadinya permusuhan dan pertumpahan darah.

Tinggalkan Balasan