Menentukan Dua Pilihan yang Sulit

Menentukan dua pilihan yang sulit. Manusia ditakdirkan akan selalu dalam keadaan memilih. Sejak manusia bersaksi akan ke Esa-an Tuhan, lalu lahir ke dunia, maka dia akan selalu berada dalam posisi memilih. Itulah sebabnya manusia dikaruniai akal. Karunia akal-lah yang membantu manusia saat memilih, beda dengan makhluk lain.

Sangat aneh, jika ada orang yang memiliki hak pilih tapi pilihannya berdasarkan pilihan orang lain, ikut ikutan, atau termakan doktrin yang tak masuk akal. Masih banyak kita dengar orang yang mengatakan, “apapun pilihan dia, itu yang saya ikuti.” Kadang juga itu dilakukan karena bentuk kekawatiran salah dalam menentukan pilihan.

Selama akal masih berfungsi dengan baik, maka menyerahkan keputusan pilihan kepada orang lain adalah suatu yang keliru. Orang lain hanya bisa dijadikan pertimbangan dalam memutuskan, terutama saat menentukan dua pilihan yang sulit.

Manusia tidak akan lepas dari pilihan, hanya saja pilihan yang ditemui tidak semua berbentuk pilihan yang sulit. Bisa jadi karena memang pilihannya mudah, atau cara menalar kita yang sudah mapan. Namun, pernahkah anda bingung menentukan dua pilihan yang mutlak, maksudnya tidak ada jalan lain, harus pilih salah satu. Kalau belum pernah, persiapkan diri, karena suatu saat Anda pasti berada dalam posisi itu.

“Silahkan pilih, menikah atau kuliah?”. Maunya sih kuliah bareng isteri. Tidak! Anda hanya punya hak salah satu dari dua pilihan itu. Bentuk pilihan seperti ini masih mending, karena memilih salah satu tidak membuat rugi, hanya keuntungan kurang banyak saja.

Tapi bagaimana kalau pilihannya, “Ikut mama kamu atau papa?” Kata papa saat hendak bercerai dengan mama. Andai boleh tak memilih, tentu kita tidak akan melakukannya, karena semua pilihan merugikan. Ikut mama, akan merasa kehilangan papa. Ikut papa akan merasa kehilangan mama.

Ketidakmampuan seseorang untuk menentukan dua pilihan yang sulit, kadang membuat memilih jalan pintas, misalnya sekalian tak usah memilih. Ini kadang terjadi dalam konteks pemilihan umum dalam memilih calon legislatif atau calon presiden.

Banyak orang yang akhirnya memutuskan golput karena hal itu. (Baca: semua alasan golput mentah) Padahal keputusan ini sangat tidak tepat. Selain karena menggunakan hak pilih adalah kewajiban, pilihan itu juga bukan sesuatu yang merugikan.

Lalu bagaimana cara menentukan dua pilihan yang sulit? Pertama, sebagai orang beragama, tempatkan posisi objek yang akan dipilih itu dalam ukuran agama. Misalnya memilih calon legislatif, maka yang pertama lihat agamanya.

Agama akan mewakili seluruh sendi kehidupan termasuk akhlak. Jadi sangat keliru mengatakan, bahwa agamanya bagus, tapi akhlaknya tidak bagus, dia korupsi, dst. Akhlak adalah bagian dari agama, artinya yang bagus agamanya pasti akan bagus akhlaknya.

“Tapi dia rajin ke masjid shalat, ada kok potonya.” Ke masjid beribadah hanyalah sebuah tanda yang bersangkutan melaksanakan salah satu perintah agama. Bukankah mendung adalah tanda akan turun hujan, dan mendung tak berarti hujan?

Kedua, lihat akibat dari pilihan itu. Terkadang akibat dari sebuah pilihan akan menimpa siapa yang memilih. Namun terkadang juga akibatnya menimpa banyak orang. Misalnya seorang pemimpin yang salah memilih pembantu. Kebijakan pembantunya itu kemudian merugikan banyak orang. Atau masyarakat ramai-ramai memilih penjahat sebagai pemimpinya, akhirnya berakibat pada semua orang termasuk yang tidak memilihnya.

Sangat penting mempertimbangkan akibat dari sebuah pilihan. Itulah sebabnya, memilih dengan alasan keluarga kadang menjadi pertimbangan utama, karena biasanya keluarga tidak ingin melihat anggota keluarganya tertimpa masalah buruk. Makanya jangan heran, tahun politik keluarga juga bertambah.

Dengan memikirkan akibat dari pilihan juga akan mendorong kita memetakan kelebihan dan kekurangan dari objek yang kita pilih. Kelebihan memilih A apa dan kekurangannya apa. Demikian halnya pilihan B. Setelah itu, kita akan memilih pilihan yang paling banyak kelebihannya dan paling sedikit kekurangannya.

Saat melakukan pemetaan, disarankan menjauhi hal yang mengajak atau memengaruhi pilihan. Misalnya, Anda memetakan kelebihan dan kekurangan dua orang caleg, A dan B. lalu datang A memberikan kebutuhan hidup. Anda terima tak masalah asal tidak menjadi bagian kelebihan dari A.

menentukan dua pilihan yang sulit

Ketiga, selalu mencari tahu apa, siapa, dan bagaimana objek yang Anda pilih, meski pilihan itu berupa kebijakan, atau memilih salah satu dari dua kebijakan yang sulit. Jika pilihan itu adalah orang, cari tahu rekam jejaknya, profilenya, bagaimana dia terhadap Anda, dst. Alat ukurnya apa? Agama. Namun jika pilihan adalah hal abstrak, keputusan misalnya, maka cari tuhu keputusan seperti itu yang pernah terjadi, kondisi dan efeknya.

Jika waktu tak cukup untuk itu, maka lakukan secara cepat. Itulah sebabnya, orang yang sukses kebanyakan dari orang yang berani. Karena berani adalah kecepatan dalam menentukan pilihan. Cepat dan tepat.

Cara menentukan dua pilihan yang sulit terakhir adalah dengan shalat istikharah. Shalat istikharah akan sangat membantu terutama jika 3 langkah menentukan pilihan sebelumnya tidak menemukan titik terang.

Contoh kasus menentukan dua pilihan yang sulit. Sepintas terlihat, calon presiden tidak bagus, calon wakil presiden bagus. Pilihan kedua, calon presiden juga kurang bagus, dan calon wakilnya bagus. Posisi sama? Maka cara memetakannya, jika menjadi presiden dan jika menjadi wakil presiden, kira-kira bagimana? Bagusnya di mana, kurang bagusnya di mana? Profilenya bagaimana? Orang sekelilingnya bagaimana? Dst.

Setelah menentukan pilihan, jangan segan untuk berubah jika di kemudian hari ditemukan informasi baru yang memengaruhi hasil pemetaan. Jika hasil akhir samar, shalat istikharahlah.

Tinggalkan Balasan