Memperingati Maulid Nabi saw Bukan Bid’ah: Argumen Logis, Naqli dan Perasaan

Kenapa tidak merayakan Maulid Nabi saw? Jawabannya jelas: Karena kami sangat mencintai Rasulullah saw, dan konsekuensi dari kecintaan kepada beliau adalah mengikuti cara beribadah beliau. Beliau pun tidak pernah merayakan hari kelahirannya sendiri. Para sahabat pun tidak ada yang merayakannya. Begitu pula dengan Ulama salaf, tidak ada satu pun yang merayakan Maulid Nabi saw. Jangan-jangan, yang mereka ikuti dan pertahankan adalah murni adat istiadat mereka.Anti Perayaan Maulid

Sepintas terlihat logis, namun membantah argumen mereka yang anti perayaan maulid Nabi saw tadi sangat mudah. Kita menggunakan analogi zakat menggunakan beras saja. Nabi saw apakah mengeluarkan zakat dengan beras? Tidak! Sahabat? Tidak! Ulama salaf? Tidak! lalu apakah kita juga ingin mengatakan bahwa berzakat dengan menggunakan beras itu tradisi dan itu bid’ah?

Mari kita samakan definisi terlebih dahulu. Maulid berarti hari kelahiran. Maulid Nabi saw berarti hari kelahiran Nabi saw. Maulid Nabi saw tidak ada kaedah hukumnya. Karena hukum dimaksudkan pada perbuatan. Berarti yang akan kita lihat adalah memperingati maulid Nabi saw, karena peringatan itu adalah perbuatan yang berimplikasi pada hukum. Memperingati maulid, apakah haram, boleh atau sunnah. Jika menuduh memperingati maulid Nabi saw adalah bid’ah, berarti juga menghukumi peringatan itu sebagai haram.

Memperingati kita maknai sebagai melakukan, mengadakan suatu kegiatan (seperti pe-rayaan, selamatan) untuk mengenang atau memuliakan suatu peristiwa. Banyak ragam cara memperingati; misalnya mendirikan sebuah tugu, monumen, mencatat, mengajak mengingat bahkan berpesta. Nah, apakah Nabi saw memperingati kelahirannya? Jawabannya iya, dengan cara berpuasa. Banyak hadis menyebut hal itu. Misal riwayat an_nasa’i yang ditashih oleh albani. Sahabat pun banyak yang memperingati kelahiran Nabi saw, misalnya mengajak mengingat bahwa hari itu hari kelahiran Nabi saw. Apakah itu masuk kategori memperingati? Sesuai dengan definisi memperingati, Iya…

Dengan argumen perasaan pun sangat mudah menemukan narasi kebolehan memperingati maulid Nabi saw. Nabi Isa as, Nabi Ibrahim as, bergembira akan kelahiran Nabi saw. Keduanya bergembira padahal Nabi saw belum dilahrikan. Kita sudah tahu 12 Rabiul Awal lahir pembawa risalah rahmatan lil alamin, logis nggak jika tak bergembira. Punya paerasaan nggak, merasa muslim nggak, mencintai Nabi saw nggak? Masa tidak gembira, hanya dengan argumen bahwa Nabi saw tidak merayakan seperti cara kita merayakan. Itu saja!

Sekarang mari kita melihat nilai posititf dari memeperingati kelahiran Nabi saw. Dalam acara umum peringatan maulid Nabi saw ada tausiah ada upaya memperkuat keimanan di sana, umat islam berkumpul ada silaturrahim dan persatuan di sana, para hadirin diperdengarkan sejarah Nabi saw ada pengetahuan di sana. Lalu di mana mudharatnya? Kalau dikatakan bahwa itu bid’ah karena Nabi saw dianggap tidak melakukannya, mari kembali ke definisi maulid, dan memperingati maulid Nabi saw

Saudaraku, mari jangan buang energi pada persoalan ini. Acara ini baik, yang melakukan muslimin, jangan memusuhi sesama muslim hanya karena tertutupnya hati menerima wawasan pengetahuan. Shallu Ala Nabiy…

 

 

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend