Memilih yang Tampan? Why Not !

Tampan itu relatif, tapi jelek itu nasib dan negatif. Perih dan sadis mendengarnya. Tapi jangan sedih. Realitivitas ketampanan akan berpihak kepada kita yang jelek-jelek ini. Selalu ada alasan pada wajah jelek. Alasan yang paling kuat, “biar tak tampan asal menarik.” Padahal bagusnya sih, tampan dan sekaligus menarik. Alasan lain, “meski wajah tak tampan, asal isteri menganggap kita pria yang paling tampan”. Dan saya yakin isteri seperti itu suka menghibur.

Dulu saya pernah ditunjuk mengikuti lomba busana muslim. Ceritanya sebagai peragawan. Heran juga waktu itu, emangnya sejauhmana sih ketampanan saya sehingga saya ditunjuk? Tibalah saya di lokasi malam harinya. Saya berdiri di belakang panggung, dan melarikan diri. Pusing, official mencari saya. Seminggu baru saya muncul. “Kenapa kamu lari dari lomba?”. Saya jawab, saya tak lari dari lomba, tapi lari dari kenyataan. Iyah saya gak pede waktu itu. Saya merasa, sayalah paling tidak tampan… ini bahasa halus jelek ya..

Sebenarnya kisah saya itu ingin mengungkapkan bahwa pilihan jatuh kepada orang yang dianggap tampan itu sudah lumrah. Coba ingat saat di sekolah dulu. Memilih ketua kelas, calonya laki semua, maka yang paling potensial dipilih adalah yang tampan. Apalagi jika hanya dilakukan sekilas tanpa pikir panjang. Berbeda jika objek yang dipilih, disaring dengan beberapa indikator, maka bisa jadi ketampanan akan kalah. Namun, jika posisi sama, misal kaya sama, pintar sama, akhlak sama, maka kembali lagi akan memilih yang tampan.

Memilih yang tampan itu tak salah, dan itu manusiawi. Semua manusia suka yang indah, maka manusia memilih yang disukainya. Semua manusia juga akan memilih apa yang membuat perasaannya senang, dan tak dapat dipungkiri kalau ketampanan bisa membuat hati jadi senang dan tenang.

Poto laki tampan

Wahbah al-Zuhaili mengutip pendapat an-Nawawi dalam fiqhul islam memasukan kriteria ketampanan sebagai syarat menjadi imam shalat jika 9 syarat didapati pada orang yang sama. Artinya jika calon imam sama-sama Islam, berakal, baligh (mumayyiz), laki-laki, suci dari hadas, bagus bacaan al-Quran dan rukunnya, bukan makmum (disepakati 3 mazhab), selamat, sehat (tidak sakit), tidak uzur, dan sama-sama lidahnya fasih, dapat mengucapkan bahasa Arab dengan tepat, maka akan ditambah 13 syarat lagi, dan salah satunya adalah ketampanan.

Pun saat al-Aziz, raja diraja pada masa Nabi Yusuf as akhirnya memilih Yusuf yang tampan sebagai wazir. Padahal al-Aziz tahu isterinya dan banyak wanita waktu itu tergoda akan ketampanan Yusuf as. Kehebatan Yusuf dalam menakwilkan mimpi sebagai jawaban atas masalah ekonomi masa itu, bagi saya tak cukup. Bisa jadi aura ketampanan dianggap al-Aziz akan memudahkan pemerintah menjalankan roda pemerintahan. (Baca: Kisah Nabi Yusuf)

Wallahu a’lam

2 Comments

  1. Nurhiqmah DewiReplyJanuari 28, 2019 at 19:50 

    Lari dari kenyataan…??

Tinggalkan Balasan