Memilih Pemimpin Muslim Itu Perintah Allah swt, Alasan Apapun Akan Terbantahkan

Memilih pemimpin muslim dan beriman itu adalah perintah Allah swt. Andai hal ini dipahami secara mendalam oleh muslim di berbagai negara, maka dengan sistem one man one vote, maka di negara mayoritas muslim, pasti pemimpinnya seorang muslim.

“Tapi banyak muslim suka korupsi!”, demikian salah satu bantahan atas perintah Tuhan ini. Memang, banyak muslim yang korupsi. Olehnya itu, mari memilih pemimpin muslim yang tidak korupsi, itu juga banyak kok.

Tak habis alasan, muncul lagi alasan lain, “Biar bukan muslim, asal perilakunya islami, suka menolong, tidak korupsi, rajin sedekah, bangun masjid, berangkatkan orang umrah, dan masih banyak perilaku muslim lainnya, bukankah itu sama saja dengan muslim. Karena muslim hanyalah identitas belaka!”. (baca juga: stop mengatakan non muslim masuk surga)

Mari kita simak, dialog ulama kampung dengan pemuda liberal yang saya kutip dari situs kabar makkah berikut ini.

Pemuda Liberal: Ki, ada orang baik banget, anti korupsi, bangun masjid, rajin sedekah sampai hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, terus meninggal dan dia bukan Muslim, Dia masuk surga atau neraka?

Kyai: Neraka.

Pemuda Liberal: Lah? Kan dia orang baik. Kenapa masuk neraka?

Kyai: Karena dia bukan Muslim.

Pemuda Liberal: Tapi dia orang baik Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaik dia dimasukin neraka juga.

Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.

Pemuda Liberal: Adil dari mane?

Kyai: Kamu sekolahnya sampai tingkatan apa?

Pemuda Liberal: Ane mah Master Sains lulusan US Ki, kenape?

Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US?

Pemuda Liberal: Yaa karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.

Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?

Pemuda Liberal: Ya jelas dong Ki, ini ijazah juga masih basah.

Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?

Pemuda Liberal: Jelas enggak Ki, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.

Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?

Pemuda Liberal: *terdiam*

Kyai: Gimana?

Pemuda Liberal: Ya nggak jahat sih Ki, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.

Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.

Apa hikmah dari kisah ulama kampung dengan pemuda liberal tadi? Jelas, persoalan muslim dan bukan muslim bukan hanya persoalan identitas belaka. Muslim sejatinya berakhlak muslim. Dan yang bukan muslim, meski akhlaknya seperti akhlak seorang muslim, tetap saja bukanlah seorang muslim. Seorang muslim bertuhan Allah swt, itu aturan, dan berakhlak sesuai akhlak Rasulullah atas firman Allah swt. (baca juga: gubernur yang hapal al-Quran)

Perintah ya perintah. Sebagai seorang muslim wajib melaksanakan perintah Allah swt dalam firmannya, tahu atau tidak maksud, hikmah, manfaat perintah itu. Memilih pemimpin muslim adalah perintah, mari laksanakan hal itu !.

1 Comment

  1. Anti-MunaReplyMaret 15, 2016 at 08:30 

    Argumen ente cuma ASUMSI kalau Kampus cuma ada 1..
    Dia boleh Master Science Lulusan US..
    Tapi masih ada Universitas di UK yang kasih program Doctor bahkan dual degree Science + Education.

    Dengan kata lain, itu cuma asumsi bahwa SURGA cuma ada 1, dan itu Surga nya ente doank

Tinggalkan Balasan