Membentuk Generasi Qurani, Why Not?

Dalam sejarah Islam, Nabi saw hidup dalam dua himpitan peradaban dan budaya. Di Jazirah Arab, Nabi saw melawan hegemoni kaum pagan dengan kerasnya paganism Quraisy cs. Tak kalah di sekitar jazirah Arab, tekanan peradaban Romawi dengan hukumnya, begitupula peradaban Yunani melalui sumber peradaban materi. 23 tahun perjuangan, Nabi keluar sebagai pemenang, hanya dengan satu manhaj, yaitu al-Quran al-Karim. Itulah sebabnya, generasi pertama keemasan Rasul dikenal dengan generasi Qurani.

Sekedar mencoba mengkorelasikan dengan kondisi kekinian, ada kesamaan dan ada perbedaan. Kesamaannya adalah tekanan peradaban mirip Romawi, dan Yunani dengan kapitalisasi ala Eropa. Perbedaannya, yaitu sikap paganis yang muncul dari Islam sendiri. Bijak jika kita berkaca melalui sejarah, salah satu obatnya adalah membentuk generasi Qurani.

Generasi Qurani, adalah generasi yang menjadikan al-Quran sebagai kiblat, konfirmer, dan peradaban lain hanya sebagai informer. Istilah generasi Qurani kemudian direduksi meski masih positif, yaitu menciptakan generasi (baca, anak) yang mencintai al-Quran. Kecintaan anak terhadap al-Quran yang diharapkan menghasilkan peradaban baru ala Rasulullah. Mungkinkah? Harus, meski ideology di luar sana tidak akan tinggal diam.

Tahun 80-an, suara anak membaca al-Quran serak namun masih ada; di masjid, mushalla, jelas meski tanpa pengeras sekelas TOA. Waktu berjalan, akar peradaban Yunani untuk sementara menjadi pemenang. Pulang sekolah, game menunggu, internet dengan konten in-moral tanpa filter, malam dengan sinetron, dan terkadang tontonan kekerasan, sampai berita tawuran. Orangtua bertanggungjawab, tapi sementara hanya bisa berdoa, karena kehabisan waktu mengumpulkan kapital/ modal, sesuap nasi dan sebongkah berlian. Sekolah, juga tak bisa berbuat banyak. Peraturan gaya Romawi, melalui kemasan “Perlindungan Anak” menunggu. Anak didik dilarang “ditampar”, tapi membiarkan kerasnya dunia “menamparnya.”

Hal ini mestinya sudah mampu menggugah kesadaran kita, karena peradaban apapun tidak akan pernah merasa menang. Hanya ada satu jalan mengatasinya, tapi butuh perjuangan keras, bukan cuma slogan, yaitu membentuk generasi Qurani. Generasi Qurani bukan tanpa aral. Imej mulai diset sedemikian rupa, tak heran kalau anak kini malu dikatakan pintar mengaji, kuno jika belajar di madrasah, tapi tak malu letoy melalui kiblat artis Korea.

Pertama: mulailah sebelum anak lahir. “Didiklah 25 tahun sebelum anakmu lahir”. Salah satu kutipan hadis dalam skripsi sederhanaku 2004 lalu. Bahwa, 25 tahun sebelum lahir, terkait dengan gen, dan doa. Gen dari pasangan baik, akan menghasilkan buah yang baik. Itulah sebabnya Nabi saw bersabda, “lihasabiha”. Demikian pula ijabah doa seorang Hamba yang berdasarkan kebutuhan, dan yang Maha Kuasa tahu kalau hari ini generasi Qurani adalah kebutuhan.

Kedua: Pikirkan masa depan anak, bukan hari ini. Banyak orangtua berkilah, kalau itu pasti. Pasti semua orang memikirkan masa depannya, tapi perilau terhadap anak tidak menunjukan hal itu. Dalam contoh sederhana, hampir semua anak suka gula-gula, padahal membahayakan kesehatan giginya. Anak-anak akan meraung-raung menangis kala dilarang makan gula-gula. Terkadang orangtua kalah. “biar saja, berikan gula-gula itu, asalkan dia tidak menangis”. Inikah yang dimaksud peduli masa depan anak?

Ketika seorang anak hanya mau membaca, belajar al-Quran dengan paksaan, masihkah kita mau memaksanya? Parahnya, muncul beberapa teori pembelajaran anak yang isinya melarang pemaksaan terhadap anak.

Ketiga: Buatlah anak mencintai al-Quran. Dengan cinta, semua akan mudah. Dengan cinta, keikhlasan akan datang. Ada beberapa cara untuk hal ini, misalnya memberikan reward (hadiah), mengajarkan al-Quran dalam bentuk lagu dan nyanyian, membiasakan memperdengarkan bacaan al-Quran, dan memperlihatkan contoh membaca al-Quran dimulai dari orang tuanya. Jangan berikan kesempatan peradaban lain merampas hak anak mencintai al-Quran. Jangan biarkan sinetron, artis, film kapitalis, dll, merampas itu melalui kebiasaannya.

Bagi penulis, ketiga tips membentuk generasi Qurani tadi sudah cukup, jika animo melakukannnya besar. Mari belajar dari cara Nabi saw mendidik sahabat sampai terbentuk generasi Qurani zaman itu. Suatu hari Umar bin Khattab membawa selembar Taurat di tangannya. Rasul saw berkata; “Lepaskan yang kau pegang itu, karena andai Musa masih hidup, dia pun akan mengikutiku.”

Terakhir, belajar, membaca, hanyalah tahap awala dalam membentuk generasi Qurani. Jika hal itu sudah tertanam sejak dini, harapan kita kelak mereka akan hidup dengan akhlak al-Quran. Harapan itu akan terwujud teriring doa, olehnya itu jangan lupa untuk senantiasa berdoa.

Semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan