Memahami Wanita dengan Teori Gerak

Eksistensi gerak lama diperbincangkan dalam dua analisis besar fisika dan metafisika. Dalam fisika, gerak adalah fenomena alam. Jauh berbeda dengan gerak dalam bahasan filosofis. Pandangan metafisikan menyebutkan gerak sebagai eksistensi ilahi. Para filosof bahkan mempunyai metodologi yang matang dalam pembahasan fisika tentang gerak ini.

Memahami wanita dalam eksistensi gerak, akan membingungkan, karena gerak wanita adalah gerak dalam ranah fisika, namun sebab geraknya adalah bahasan metafisika. Wanita menyibakkan rambutnya, sehingga sejuntai jatuh melantai. Wanita bergerak mencakar, marah, efeknya jelas, fiskly. Lain lagi ketika, wanita berkata “pergilah, aku merelakan kepergianmu,” tapi kesokan harinya, wanita itu pergi selamanya mendahului yang diikhlaskannya. Cemburu alasannya.

Sehebat-hebatnya pria peankluk wanita, pasti pernah tidak mengerti dengan gerak wanita. Ketidakmengertian itu pada dasarnya adalah sulitnya memahami gerak wanita dalam kajian filosofis tadi. Jangankan pria, wanita kadang terdiam dan tidak mengerti dengan gerak yang dilakukan sendiri, kenapa mengatakan tidak kalau sebenarnya ingin mengatakan jangan sekarang. Perhatikan para pria yang hebat mengerti perasaan wanita, setidaknya dia bukan ahli fisika. Karena kehebatan itu hanyalah akurasi memahami gerak wanita secara ilahi (baca perasaan).

“Keluarlah, saya bisa jaga rumah kok”. Kata wanita itu lalu masuk sambil menghempaskan pintu. Di kamar dia melampiaskan kekesalan sama bantal, basah dengan air mata, lalu berkata dalam hati “laki-laki hanya bisa keluar, tidak perhatian sama wanita (saya), lebih sayang kepada teman-temannya, kawin saja dengan mereka. Saya hanyalah manusia yang tergadai, diabaikan, dst.

Jika pria mencoba memahami wanita dengan teori gerak namun dalam pendekatan fisika, jika pulang dia akan berkata, kenapa matamu merah?, kenapa bantal ini basah? Sudah bikin kopi sana! Lalu?

Mari kita lihat sedikit saja wanita dengan teori gerak filosofis. Penggerak tak digerakkan ditetapkan sebagai tujuan akhir yang merupakan pokok dalam definisi gerak yaitu perjalanan dari potensi ke aktual. Segala sesuatu yang bergerak, untuk dapat bergerak, mengharuskan adanya tujuan, dan apabila tujuan itu sendiri membutuhkan tujuan, ini berarti termasuk dalam suatu kaidah yang pada akhirnya mengharuskan adanya rangkaian aktualitas yang merupakan tujuan dari segala sesuatu yang bergerak. Susah kan?

Begini, jika wanita lebih didominasi oleh perasaannya, maka gerak dari wanita jangan dilihat dari efeknya, tapi lihat dari penyebab terdalam dari apa yang kira-kira dirasakannya. Akurasinya tentu berfluktuasi, tapi cobalah.

Dalam gerak filosofis, penggerak pertama muncul dari cinta. Narasi ini diaktualkan oleh Aristoteles yaitu penggerak tak digerakkan. Penggerak tak digerakkan pertama kita letakkan sebagai tujuan akhir dan juga sebagai yang dicintai. Dalam teori gerak, prinsip keberadaan gerak di alam natural adalah jelas dan nyata. Apabila seseorang mengingkari prinsip ini-sebagaimana yang dilakukan oleh filosof Paramandise dkk.

Jika memahami wanita dengan teori gerak seperti ini, maka hal tersebut akan membuat torehan, bahwa gerak merupakan kesempurnaan pertama untuk sesuatu yang potensi, dari sisi kepotensiannya. Ribet amat. Singkatnya, jika seorang wanita melakukan sesuatu yang tidak terjangkau dengan definisi gerak fisika terhadap Anda, maka dia masih mencintai.

Semoga dipahami dan bermanfaat

Tinggalkan Balasan