Memahami Hipotesis dalam Penelitian

Hipotesis sudah tak asing lagi dalam penelitian. Istilah hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu hupo dan thesis. Hupo berarti lemah, kurang, atau di bawah dan thesis berarti teori yang masih kurang, bisa juga bermakna bukti awal atau dugaan yang sifatnya masih sementara. Dalam pengujian hipótesis, keputusan yang dibuat mengandung ketidakpastian, artinya keputusan bisa benar atau salah, sehingga menimbulkan resiko.

Hipotesis dalam penelitian dibuat karena dua alasan; 1) mempunyai dasar yang kuat menunjukan bahwa peneliti telah mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan; 2) Hipotesis memberikan arah pada pengumpulan data dan pengolahan data. Data apa yang akan diolah, dan prosedurnya seperti apa.

Merumuskan Hipotesis dalam penelitian dilakukan setelah rumusan masalah. Dalam bentuk sederhana, Hipotesis adalah ungkapan sederhana dari peneliti yang menghubungkan dua variable dalam suatu masalah. Contoh; masalah utamanya motivasi belajar siswa kurang, kemudian peneliti mengidentifikasi variable baru untuk itu yaitu guru. Masalah yang akan dijawab, apa pengaruh guru terhadap motivasi belajar siswa?. Maka Hipotesis sederhana, “cara mengajar guru meningkatkan motivasi belajar siswa”. Kalimat ini tentu, masih sederhana, dan belum terbukti. Nah, hasil penelitian nantinya yang akan membuktikannnya.

Ilustrasi

Kegunaan Hipotesis; pertama: sebagai penjelasan sementara dan memudahkan perluasan penjelasan dalam suatu bidang. Kedua: Hipotesis memberikan pernyataan yang dapat diuji dala penelitian. Dan ketiga: Hipotesis memberikan arah terhadap peneliti dan penelitian.

Setelah Hipotesis untuk sementara dirumuskan, maka sebelum penelitian dilakukan untuk menguji Hipotesis yang telah dibuat, Hipotesis harus diuji terlebih dahulu. Suatu Hipotesis harus dapat menampung beberapa criteria sehingga Hipotesis tersebut dianggap baik. Pertama: Hipotesis harus memiliki nilai penjelas. Meski kalimat dalam hipotesis, daya penjelas wajib. Contoh, “masalah siswa tidak bisa menangkap dengan baik materi pelajaran,” kemudian Hipotesis yang dirumuskan, “karena sampah dibuang sembarangan.” Antara sampah dengan masalah tidak memiliki daya penjelas sama sekali.

Kedua: Hipotesis harus menyatakan hubungan dua variable yang diharapkan ada di antara variable-variable. Misalnya: “masalah siswa tidak bisa menangkap dengan baik materi pelajaran,” kemudian Hipotesis yang dirumuskan, “siswa memiliki buku pelajaran.” Kalimat “siswa memiliki buku pelajaran” sama sekali tidak menghubungkan variable yang ada.

Ketiga: Hipotesis harus dapat diuji. Suatu Hipotesis yang dapat diuji, berarti dapat ditahkik atau diverifikasi, artinya Hipotesis dapat diamati dan dibuktikan. Agar dapat dibuktikan, maka Hipotesis harus dapat menghubungkan variable yang dapat diuji. Kalimat Hipotesis yang tidak dapat diuji biasanya bermuatan klaim didalamnya, misalnya; “Siswa tidak bersemangat dalam belajar, akibat dosa dari saya.”

Keempat: Hipotesis harus diungkapkan dengan sesederhana mungkin. Menyatakan Hipotesis secara sederhana, bukan saja memudahkan pengujian akan Hipotesis tersebut, namun juga dapat menjadi dasar penyusunan laporan yang tepat hasi penelitian nantinya.

Semoga bermanfaat

1 Comment

  1. DaniswaraReplyDesember 28, 2016 at 14:55 

    Good article. Visit this website for reference

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend