Memahami Hal Mendasar dari Algoritma Google

Pembahasan mesin pencarian Google seakan tak ada habis-habisnya. Mungkin karena Google merupakan situs terbesar di dunia yang memberikan fasilitas pencarian terbesar, maka hampir semua blogger dan websiter berlomba-lomba berada dalam ranking satu pencarian atau minimal nangkring di halaman pertama dari setiap kata kunci yang dibidik.

Bagi pemilik modal besar, hal ini mudah saja, cukup menjadi member adwords atau advertiser dari Google. Tapi bagaimana yang bermodal pas-pasan (seperti saya) ?.

Saya mengira persaingan menempati page pertama Google sengaja dikemas rumit dan hampir bisa dipastikan para master SEO sekalipun hanya bisa menganalisa tanpa bisa meyakini sebagai suatu kepastian. Intinya modal.

Mengerti tentu beda dengan tidak mengerti. Seperti halnya persaingan memperebutkan posisi di halaman pertama pencarian, seorang blogger akan jauh lebih percaya diri jika dimengerti.

Artikel ini akan mengulas sedikit mengenai algoritma Google yang masih diterapkan sampai sekarang.

Pertama Algoritma Google berdasarkan kualitas domain. Memiliki web blog dengan domain yang bagus tentu beda dengan yang kurang bagus.

Saya pernah menulis artikel unik di blog saya berdomain baru. Sehari kemudian saya copy paste ke kompasiana dan menempatkan link sumbernya. Dua hari kemudian, yang muncul di pencarian justru tulisan yang dipublish di kompasiana. Ini artinya, masalah kualitas domain masih sangat diperhitungkan di situs pencarian Google.

Kedua: Algoritma Duplicate Content. Cara kerja Algoritma ini memberi tanda pada situs-situs atau blog yang melakukan copy paste, atau duplicate content. Indikator yang paling mudah Algoritma Duplicate Content melakukan Flagging adalah dari traffic Unique Visitor (UV). Algoritma Duplicate Content dilaunching Google sekitar tahun 2004.

Ketiga: Algoritma Google Panda. Algoritma Google Panda adalah evolve dan memiliki kecerdasan artifisial untuk terus belajar. Algoritma Google Panda ini bekerja dengan baik dengan algoritma duplicate content. Semakin banyak kasus yang dilaporkan padanya, semakin cerdas databasenya menghajar situs-situs yang telah diberi bendera flag. Algoritma Google Panda mempelajari tingkat kerusakan gramatikal sebuah artikel. Hal ini sebagai upaya counter attack Google pada artikel-srtikel spin hasil kerja robot-robot grabber dan spinner.

Keempat: Algoritma Penguin. Algoritma Penguin dilaunching tahun 2012. Algoritma Penguin tidak menggantikan Algoritma Gogle Panda, namun saling melengkapi. Algoritma Penguin lebih sedikit bijak dari Panda, artinya memperbaiki kesalahan masih dimungkinkan. Namun Algoritma Penguin sangat jitu membaca dan menganalisa backlink tak wajar, misalnya menanam link pada situs bookmark berlebihan, komentar dll.

Kelima: Algoritma Google Hummingbird. Algoritma ini dilaunching awal 2013. Seperti halnya Penguin, Algoritma Google Hummingbird tidak meniadakan algortima sebelumnya bahkan menjadi inti dari algoritma yang ada. Ibarat mobil, Algoritma Google Hummingbird adalah mesinnya. Setahu saya Algoritma Google Hummingbird sangat mengedepankan situs, konten, artikel yang memberi kedalaman manfaat dan interaksi yang jelas. Baca selengkapnya mengenai Algoritma Google Hummingbird.

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, inovasi dari mesin pencari terbesar ini banyak membuat blogger putus asa. Perubahan Algoritma sangat berdampak pada perkembangan sebuah situs terutama dari jumlah pengunjung dan SERP-nya. Sebagai konsumen dari produsen Google kita hanya bisa ikut arus tentunya, dan terus mempelajarinya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.