Melawan Dominasi Kuliner Orang Jawa

Tulisan ini agak sensitif dan bisa menyinggung perasaan dengan asumsi ke-suku-an. Tapi bukan itu maksud penulis. Lalu apa maksud dominasi kuliner orang jawa? Baca secara menyeluruh saja dulu. Lalu kita debat capres di kolom komentar ya…

Dalam konteks sosiologi, dominasi adalah penguasaan sosial yang bisa menimbulkan perpecahan terhadap penduduk setempat. Ciri khas utama dari dominasi adalah penguasaan yang mengarah ke eksploitasi sumber daya alam, sumber daya manusia, dll. Fakta bahwa mayoritas penduduk indonesia atau 60% tinggal di pulau jawa, yang luasnya hanya 6% luas daratan Indonesia keseluruhan. Hal ini akhirnya berdampak pada pembangunan infrastruktur memadai berfokus di Pulau Jawa. Alasannya sederhana, beban jumlah penduduk. So, jangan heran jika anggaran negara lebih banyak dialokasikan untuk Pulau Jawa.

Kepadatan penduduk itu akhirnya merangsang orang jawa untuk mencari nafkah di luar.. Tak sedikit mereka bekerja sebagai pedagang jasa, tukang cukur dll. Namun, kebanyakan dari mereka bekerja dibidang kuliner, penjual makanan, dll. Harus diakui, keragaman makanan dan kreatifitas mereka disukai para penduduk luar jawa.

Aneka bentuk kuliner orang jawa pelak mendominasi dan membenamkan bentuk kuliner daerah yang mereka tempati. Di sulawesi misalnya, bentuk dan pelaku kuliner didominasi orang jawa, baik pelaku dan produknya. Kuliner lokal kini hanya dinikmati saat acara lokal berbau adat. Untuk keseharian, jajanan orang jawa lebih familiar. Bakso, nasi goreng, gado gado, nasi pecel, tahu, lebih menguasai pasar. Kondisi ini dibuktikan dengan identitas penjual. Penjual bakso meski bukan orang jawa, akan dipanggil mas, atau mbak, panggilan khas orang jawa. Misalnya, orang ambon yang kebetulan menjual bakso pun akan dipanggil mas atau mbak.

Menarik, banyaknya penduduk asal pulau jawa yang keluar dan bekerja di bidang kuliner sebagai penjual makanan rela hidup menderita di kampung orang, tapi tidak untuk kampung halaman mereka. Hasil yang mereka dapatkan dari jajanan kuliner, mereka peruntukan untuk membangun rumah mereka di pulau jawa, bukan membangun di daerah tempat mereka mencari nafkah. Dari beberapa penjual jajanan asal pulau jawa yang penulis temukan, mereka tinggal kos-an di kolong rumah penduduk, namun rumah mereka besar mewah di kampung halaman mereka hasil dari apa yang mereka usahakan.

dominasi kuliner orang jawa

Dominasi ini lambat laun akan menimbulkan sentimen masyarakat lokal baik dari sisi bentuk kuliner maupun sisi penghasilan. Persaingan tak sehat akan memicu gesekan sosial yang berbahaya. Olehnya itu, diperlukan cara melawan dominasi kuliner orang jawa tersebut. Pasar tradisional khusus, dan kampung jajanan adalah solusinya.

Pasar tradisional khusus, dan kampung jajanan dibuat dengan menyediakan dan menghadirkan kuliner beragam, baik dari produk dan pelakunya. Dengan demikian dominasi kuliner bukan hanya kuliner orang jawa saja. Mereka bersama, jajanan kuliner menjadi terasa beragam, maka masyarakat akan merasakan keanekaragaman kuliner dan tidak terpaku pada kuliner orang jawa saja. Pasar tradisional khusus, dan kampung jajanan secara tidak langsung membuka lapangan kerja dan memancing gairah ekonomi masyarakat dari bawah.

Mari gairahkan pasar dan jajanan lokal …. 🙂

Tinggalkan Balasan