Me-Ralat Doa…

Dalam hidup selalu saja ada yang kita tidak bisa jangkau. Sehebat apapun kalkulasi kita dalam sebuah harapan, selalu saja yang terjadi terkadang ada yang tak sesuai harapan. Di sinilah salah satu fungsi doa. Manusia ingin dalam ujung ikhtiarnya masih ada ikhtiar terakhir meski dalam bentuk kalimat yang diwujudkan dalam doa. Doa adalah senjata orang beriman. Posisi doa sebagai senjata, pastinya sebagai pamungkas, atau senjata pamungkas orang beriman adalah doa.

Jangan sepelekan doa! Dalam konteks jabariah1 hanya doa yang bisa mengubah ketentuan Allah swt di lauh mahfuzh. Beda dengan aliran Qadariah,2 mereka menganggap apa yang manusia dapatkan tergantung dari usahanya. Lahirlah jalan tengah. Doa untuk mengetuk pintu langit mengubah ketetapanNya di Lauh Mahfuzh, dan usaha adalah pembuktian bahwa yang bersangkutan serius sesuai dengan doanya. Kira-kira dan kura-kura begitu.

Mungkinkah meralat doa? Bisa saja. Dan hak Tuhan mau menerima doa yang mana, doa pertama atau doa ralatnya. Anak saya menangis minta dibelikan boneka. Saya kasihan lalu mengabulkan permintaanya. Namun setelah saya serahkan, dia menangis lagi, bukan itu katanya tapi bola. Saya bingung. Pernah juga seorang siswa menyerahkan tugasnya kepada saya. Saya periksa, setelah itu dia datang lagi. “Yang kemaren salah, ini yang benar.” Kira-kira begitulah perumpamaannya. Yang mana saya kabulkan? Dominan yang pertama. penting untuk dipahami, bahwa saya bukan pengabul doa.

Dalam kisah Firaun, saat dia mulai kawatir dengan sepak terjang Musa as, Firaun meminta orang pintar bernama Bal’am bin Ba’ura. Awalnya Bal’am enggan karena dengan ilmunya dia tahu Musa as tak bisa didoakan binasa. Namun akhirnya Bal’am tergoda.

Namun sial, saat Bal’am mendoakan Musa as agar binasa, justeru kalimat doa yang terangkai dalam hati dan benaknya, berbeda dengan yang keluar dari lisannya. Bal’am justeru berdoa dengan kalimat: “Ya Allah, binasakanlah Firaun.” Firaun kaget dan marah, dia meminta Bal’am mengulang doanya. Tapi, yang keluar tetap kalimat: “Ya Allah, binasakanlah Firaun.” Terbukti, doa Bal’am makbul.

Se milenial-milenialnya zaman, masih banyak orang yang percaya dengan doa dan itu tentu bagus. Artinya mereka masih menganggap doa itu senjata pamungkas. Bahkan di kota-kota besar walau hanya sekedar berdoa, dipanggilkan orang khusus yang pandai, karena memang doa memiliki syarat dan ketentuan tertentu. Bisa jadi meraka kawatir jika doa disampaikan oleh mereka sendiri, doa itu tersangkut tak sampai kepadaNya. Lucu, saya punya teman sibuk menghapal doa-doa sesuai konteks karena ternyata dia dikenal sebagai pembaca doa di acara resmi. Saya pun saat pilkada kemarin menjadi langganan baca doa. Katanya doa saya enak, menyentuh atau apalah.

Melihat kondisi seperti itu, ada baiknya doa jangan diralat. Saya kawatir teman saya mendapat proyek ralat doa. Hari ini dia diminta mendoakan orang agar sehat, besok diminta lagi mendoakan orang agar sakit. Akhirnya doa tergantung pemesan. Apalagi kalau hal seperti menghasilkan makelar doa. Bagusnya, mendoakan dua orang dan semuanya bagus. Ya Allah jadikan si A pemimpin, jadikan juga si B pemimpin. Satu sift malam, yang satu sift siang… Doa yang diralat adalah doa yang diperalat. Doa yang direvisi adalah doa tak bervisi. Doa yang dikaji ulang ibarat doa orang dipatil udang.

DemikianG….

  1. Dalam teologi, aliran jabariah dipahami bahwa segala sesuatu diatur oleh Tuhan. Segala yang ada dalam ‘remote’ kontrolNya. Manusia tak punya pilihan
  2. Dalam teologi, aliran qadariah menganggap Tuhan sudah lepas tangan atas apa yang diciptakkanya