Perlukah Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar ?

Ketika saya masih di SD dulu, kira-kira awal tahun 90-an, pelajaran Bahas Inggris mulai diajarkan di kelas 6 SD, itu pun hanya 1 jam perminggu.

Namun saat ini, mulai sekitar awal tahun 2000- an pelajaran Bahasa Inggris sudah menjadi hal yang umum diajarkan, bahkan sejak Playgrup sudah diajarkan bicara Bahasa Inggris. Banyak juga bermunculan sekolah-sekolah internasional atau sekolah “semi” internasional yang memakai bahasa sehari-hari di sekolah dengan bahasa inggris. Luar biasa perkembangannya.

Namun ketika membaca berita dari merdeka.com, dimana Menteri Pendidikan M. Nuh menyampaikan bahwa pelajaran bahasa inggris merupakan pilihan untuk diajarkan di Sekolah Dasar, dan rencananya akan di hapus dari kurikulum 2014 , saya termasuk orang yang sedikit terkejut, kenapa ya?

Jadi, di kurikulum 2013, ada 3 mata pelajaran yang akan di hapus dari kurikulum reguler, yaitu: Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, dan Teknologi Informasi Komputer. Artinya adalah ke tiga pelajaran ini akan menjadi pelajaran ekstra kurikuler yang tidak memiliki ujian,setara dengan pelajaran Pramuka atau UKS (unit kesehatan sekolah).

Memang tidak akan dilakukan penghapusan secara langsung, dan tentu saja ada perkecualian untuk sekolah internasional. Namun tentu saja hal ini menimbulkan pro dan kontra baik bagi wali siswa, anak sekolah, maupun guru pengajar.

Bagi wali siswa, mereka pasti tidak mau putra-putri mereka tidak bisa bahasa inggris, jalan satu-satunya adalah dengan mencari kursus diluar jam sekolah. Sehingga pasti menambah biaya dan menambah waktu serta tenaga untuk mengajar bahasa inggris kepada anak mereka. Atau ada pilihan juga bagi Wali siswa untuk memindahkan anak mereka sekolah internasional, khusus bagi yang mampu.

Bagi siswa SD, tentu saja mereka akan ketinggalan dalam pelajaran bahas inggris dibanding dengan kakak kelas mereka yang sebelumnya sangat intensif mendapat pelajaran bahasa inggris, mungkin mereka akan ikut les privat atau kursus bahasa inggris di luar sekolah. Efeknya adalah menguras biaya dan tenaga mereka, serta waktu mereka bermain menjadi berkurang.

Bagi guru pengajar Bahasa Inggris, akan kehilangan job yang selama ini selalu diperlukan di kurikulum, menjadi pengajar ekstrakurikuler. Efeknya penghasilan mereka berkurang terkait sertifikasi Guru.

bahasa inggris di SD

Memang ada sisi positifnya, dimana siswa SD akan diajarkan lebih banyak bahasa indonesia atau bahasa daerah di tempat mereka tinggal, sehingga kebudayaan daerah dan bangsa tidak akan hilang. Usia anak sekolah dasar diharapkan bisa memiliki rasa cinta dan rasa bangga terhadap bahasa indonesia dan bahasa daerah setempat. Mungkin itu yang diharapkan oleh penerapan kurikulum baru ini.

Seperti negara China, Jepang, Korea yang sangat bangga dengan bahasa mereka sendiri, rata-rata warga negaranya memang tidak bisa berbahasa inggris. Namun kejadian ini tidak bisa disamakan dengan negara maju seperti Jepang, China, ataupun Korea. Bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa intenasional, Bahasa Jepang sangat dibanggakan di negara Sakura tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah bahasa indonesia sudah bisa dibanggakan oleh warga negara kita? Jika kita sudah bangga dengan Bahasa Indonesia, mungkin tidak perlu lagi ada pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin atau Bahasa Arab di kurikulum sekolah.