Masalah UN dan Solusinya; MAHAL..

Sudah rahasia umum, pelaksanaan ujian nasional untuk SD/MI, SLTP, SLTA, penuh dengan kecurangan. Terjadi perdebatan akibat kejadian faktual tersebut. Ada yang mengatakan, bukan Ujian Nasionalnya yang keliru. Ada pula yang mengatakan, karena Ujian Nasional sudah keliru, sehingga mengakibatkan pelaksanaan yang keliru. Pelaksanaan Ujian Nasional 2012 hampir tidak beda dengan pelaksanaan UN tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya dimana sih titik kelemahan pelaksanaan ujian nasional, sehingga kecurangan tidak bisa dihindarkan?, apa sebab utamanya?, dan apa solusi terbaiknya?
Ujian nasional dianggap ukuran mutu pendidikan nasional. Hal ini sangat keliru besar. Kondisi pendidikan semua daerah tidak sama, sangat berbeda SMP negeri 1 bandung (hanya contoh) dengan SMP yang ada di papua, baik dari segi sarana pendidikan sampai kompetensi guru yang mengajar. Nah, jika soal yang dibuat berdasarkan kompetensi yang ada di smp 1 bandung, bagaimana nasib daerah lain. Sebaliknya, jika kisi-kisi soal dibuat berdasarkan kompetensi SMP di papua, bagaimana kemajuan pendidikan di SMP negeri 1 bandung. Sangat naif jika harus jalan mundur atau jalan di tempat.
Atas nama keseragaman, kesamaan tanpa membedakan antara 1 dengan yang lain, dibuatlah kisi-kisi dan soal ujian tersebut. Dibuatlah standar kelulusan. Dibuatlah aturan ketat pelaksanaan ujian nasional. So…
Sisi lain, sistem birokrasi kita tentang reward dan panisment yang hanya berlandaskan kuantitas bukan kualitas, berdasarkan laporan, bukan kenyataan. Jika suatu daerah propinsi melaksanakan UN dengan jujur ditengah kondisi siswa-siswi di sana yang mutunya masih rendah, kemudian hasil UN menegaskan (misalnya) 50% dinyatakan tidak lulus, maka Gubernur dipanggil Presiden, Kanwil Pendidikan dipanggil Mendiknas, Bupati dipanggil Gubernur, Kadis Pendidikan Kabupaten dipanggil Bupati, Kepala Sekolah dipanggil Kadis Pendidikan, Guru dipanggil Kepala Sekolah, dan Siswa minimal akan dimarahi gurunya. :p
Untuk apa?, diberikan hadiah?, kenaikan pangkat?, atau sebaliknya. Kita tidak usah berkali kali membohongi nurani kita kalau kenyataannya banyak kepala sekolah setelah Ujian Nasional dimutasi dari tempat semula, alasannya tidak melanggar aturan kok. J
Jangan salahkan kami yang di daerah jika melakukan hal-hal yang mungkin dianggap melanggar aturan. Kami tahu, tapi kami sayang dengan anak-anak kami. Siapa yang bertanggungjawab atas masa depan mereka yang tertunda akibat tidak lulus UN, siapa yang bertanggungjawab atas tekanan jiwa di depan teman-teman mereka saat pengumuman dan nama mereka dinyatakan tidak lulus, kami sayang dengan jabatan kami, kami tahu maksud UN baik, tapi sistem pelaksanaanya keliru.
Kita tidak perlu tutup mata dengan hal ini. Serumit-rumitnya masalah, pasti memiliki solusi atau jalan keluar. Adapun hemat penulis, sulusi masalah Ujian Nasional, adalah;
1. Ujian Nasional online
Tidak perlu ada percetakan lagi. Soal tidak dikirim lagi. Soal tidak mampir lagi di kepolisian. Tak perlu lagi menjemput soal. Karena inilah pintu-pintu yang membuka peluang bocornya soal Ujian Nasional. Siswa melihat soal hanya ketika melaksanakan UN, satu siswa satu monitor. Kelemahannya pasti ada, tapi minim. Hacker, aplikasi lemah, dan kemungkinan sangat mahal. Tapi inilah standar yang dapat dipakai berdasarkan tinjauan sarana.
2. Penggunaan CCTV
Meskipun soal bocor, namun dapat diantisipasi pada saat pelaksanaan Ujian Nasional. Bisa juga Ujian Nasional online dengan CCTV. Kelemahannya, selain yang sudah diungkapkan sebelumnya, juga menimbulkan tekanan batin baru bagi siswa, dan biayanya sangatlah mahal.
Solusi tersebut dalam konteks ekonomi Indonesia mungkin sulit, tapi pribadi saya meminta berhentilah berteriak jujur dan berprestasi jika tak mampu….

Tinggalkan Balasan