Marshanda Melepas Jilbab dan Fenomena Jilboobs

Ada dua hal sebab lahirnya trending topik, pembahasan aktual, atau apalah namanya. Pertama, untuk mengalihkan isu atau isu yang dibuat-buat, kedua kejadian itu memang benar adanya dan bukan dibuat-buat. Perhatikan berita tentang ISIS yang menutupi berita penindasan di Gaza. Beda dengan trending topik masalah Marshanda melepas jilbab, dan fenomena jilboobs.

Alih-alih beropini tentang ISIS di Syiria nun jauh sana, lebih baik melihat persamaan, perbedaan, dan efek Marshanda yang kini melepas jilbab pasca bercerai dengan Ben Kasyafani dan membandingkannya dengan fenomena jilboobs. Ini penting, karena fokusnya ke arah sosial, pendidikan, terutama pendidikan remaja.

Seperti diketahui pemeran sinetron “bidadari”, Marshanda, adalah artis muda yang kini melepas jilbabnya. Saat pertama kali Caca, sapaan akrab Marshanda, mengenakan jilbab, media juga heboh. Lalu, apa penyebab ibu Sienna ini tiba-tiba melepas jilbabnya pasca cerai dengan suaminya? Adakah ini merupakan the power of kelamin? (baca: the power of kelamin), apalagi setelah dia ditemukan pertama kali berjalan dengan pria bertato?. Kita hanya bisa mengira-ngira, karena belum ditemukan sebab pasti mengenai hal itu.

Ada persamaan menarik antara Marshanda yang melepas jilbabnya dengan fenomena jilboobs. Jilboobs adalah istilah ditujukan kepada wanita berjilbab baik kerudung ketat maupun jilbab lebar, namun di bawah ketat atau transparan. Berasal dari kata “boobs”, dada, maka jilboobs adalah pemakai jilbab sekaligus memperlihatkan lekuk dada yang sebenarnya adalah aurat dan keluar dari salah satu tujuan perintah berjilbab (untuk menutupi dada).

Fenomena jilboobs memiliki kesamaan dan perbedaan menarik dengan tindakan Marshanda yang melepas jilbabnya. Kedua kasus ini memancing sentimen agama. Indonesia adalah negara mayoritas muslim, dan muslimah wajib mengenakan jilbab sesuai tuntunan syariat. Saat seorang publik figur melepas jilbabnya dan mengatakan bahagia saat tidak memakai jilbab, maka umat Islam tentu merasa terpancing.

Tidak sedikit masyarakat merasa terlecehkan dengan hal ini, karena selain Marshanda seorang publik figur akan selalu diikuti kamera, menjadi pusat perhatian, pun cara Marshanda melepas jilbab yang kemudian dipertontonkan di mall, youtube, media sosial, dan media virtual, sehingga kesan mempertontonkan jauh lebih besar.

Demikian pula dengan jilboobs. Jilboobs jelas mengusik perhatian dan menantang para da’i, bahwa selama ini perintah memakai jilbab lebih pada pemakaian bukan pada tujuan. Akhirnya trend mode dan fashion lebih merajai para jilbabers. Celah inilah yang mudah dilirik. “Tetap memakai jilbab tanpa meninggalkan trend mode” menjadi prinsip sampai akhirnya tak bisa memilah yang mana mode yang bertentangan dengan tujuan jilbab itu sendiri.

Perbedaan tentu pada gaya dan cara bertindaknya. Karena gaya berbeda berbeda maka efek juga akan berbeda. Ketika Marshanda melepas jilbab, efek besarnya pada fansnya, para anak muda, ABG yang mulai tertarik mengenakan jilbab., sedikit banyak akan terpengaruh. “itukan hak asasi”, bantahan itu betul, namun posisi Marshanda sebagai publik figur tak bisa lepas dari fansnya. Masih ingat dengan kasus asusila Ariel, toh sekarang masih jadi idola.

Jilboobs yang orientasinya ikut mode juga memiliki efek sosial yang tidak kecil. Mengkhawatirkan jika gaya jilboobs lalu berkembang di sekolah, pesantren yang siswinya memakai jilbab. Bukankah kesalahan yang kerap muncul akan dianggap kebiasaan? Akhirnya kita akan bertumpau pada peran media. Semakin sering berita jilboobs disiarkan, maka peluang gaya jilboobs ditiru kalangan remaja dan dianggap benar, akan semakin besar.

Melihat persamaan, perbedaan, dan efek antara Marshanda melepas jilbab dan jilboobs, memberikan pelajaran besar berharga bagi kita. Pertama, publik tak layak disalahkan ketika mencibir sesuatu yang berefek terhadap sosial secara umum. Bagaimanapun Marshanda dulu pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat dalam acara keislaman. Pun dengan mode yang tidak disadari merambah, menyatu dengan muslimah yang juga ingin memakai pakaiannya.

Kedua, saat kita mencoba melirik aksi lepas jilbab Marshanda, lalu menemukan kekurangannya, saat itupula terkadang kita lupa melihat kekurangan sendiri. Bagaimana istri, dan putri kita. Apakah mereka tidak mengikuti aksi itu atas nama “negfans”, atau bahkan berjilbab tapi jilboobs ? (baca: berjilbab tapi cantik dan modis)

Islam mengajarkan tuntunan hidup secara menyeluruh. Jangankan soal pakaian, masalah masuk kamar mandi saja diatur sedemikian rupa, itulah Islam. Lalu jika Islam memiliki aturan berbusana dan anda berpakaian, maka sudah sepantasnya yang mengaku Islam mengikutinya. Apa gunanya cantik, tapi pakaian menghancurkan kecantikan. Tiada guna manis, tapi busana membuat tak menarik.

Salam bahagia

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend