Mari Belajar dari Kisah Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab

Suatu daerah akan sejahtera jika pemimpinnya memperlihatkan keteladanan kepada rakyatnya. Boro boro mengajak masyarakat diet, tapi pejabat memakai mobil mewah. Boro boro mengajak masyarakat menaikan kualitas barang kalau pemerintah rutin impor barang dari luar. Lihat pejabat yang perutnya sudah offside, sedangkan di luar sana, rakyat histeris kelaparan.

Kita butuh keteladanan dari kisah inspiratif tokoh yang tercatat dalam sejarah. Sejarah islam mencatat itu. Melalui kehalifahan Umar bin Khattab, sangat banyak kisahnya yang bisa dijadikan pelajaran sebagai seorang pemimpin. Berikut beberapa kisah tersebut;

(baca juga: mengatasi krisis ala Umar bin Khattab)

Kisah Kepemimpinan Kalifah Umar bin Khattab yang Pertama

Suatu hari khalifah Umar bin Khattab memerintahkan pegawainya untuk menyembelih bintang ternak dan membagikannya kepada masyarakat. Hal itu terkait kemarau yang melanda kota Madinah saat itu. Melihat stok masih mencukupi, kebijakan itu muncul.

Saat waktu makan malam tiba, para pegawai menyajikan makanan kesenangan kepada khalifah. Makanan kesenangan Umar bin Khattab adalah punuk unta dan hati unta. Khalifah heran dan bertanya, “Dari mana ini?”

“Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab para petugas

“Tidak! Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya.

“Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat. Ganti makanan ini dengan roti biasa.”

(baca juga: shalat tarawih berdasarkan hadis)

Kisah Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab yang Kedua

Umar bin Khattab adalah khalifah yang sering berjalan berkeliling, kalau istilah sekarang blusukan (meski beda, karena Umar bin Khattab bukan pencitraan). Suatu malam khalifah mendengar anak menangis karena kelaparan. Ibu anak itu terlihat menanak batu, dan berbohong kalau makan hampir masak agar anaknya tertidur.

Melihat hal itu, khalifah Umar bin Khattab langsung ke gudang, memanggul karung beras, memikulnya sendiri dan membawakan ibu tadi. Sampai di rumah ibu, khalifah memasak sendiri dan mengajak keluarga miskin dari rakyatnya itu untuk makan bersama. Ayah dari anak tadi makan dengan lahap sampai tersedak sedak.

“Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar.

“Benar, saya tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang,” kata laki laki ayah anak itu.

Mendengar kata-kata laki laki itu, Umar bin Khattab bersumpah, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”

Kisah Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab yang Ketiga

Pada suatu kesempatan, khalifah Umar bin Khattab menerima hadiah makanan lezat dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. Kepada utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.”

Tiga kisah singkat khalifah Umar bin Khattab tadi, tentu sangat sulit ditemukan pada pemimpin dan pejabat sekarang. Hemat saya, kita terjebak pada sistem. Sistem yang menuntut modal besar agar seseorang bisa menjadi pejabat. Jabatan ibarat perniagaan yang butuh modal. Modal yang sudah digelontorkan pasti akan diusahakan untuk dikembalikan, tak peduli itu uang rakyat.

(baca juga: membaca jangan sekedar melapal)

Kita tinggal di negeri yang kaya raya, tapi salah pengelolaan. Kita terjebak dengan budaya utang, dengan ideologi materialis. Kita butuh pemimpin dan pejabat yang bisa diteladani. Masih adakah? Kisah kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab semoga menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend