Mampukah tuhan Memasukan yang Lebih Besar dari Lubang Jarum?

Berdesakan dalam mobil angkutan umum siang tadi menuju ke kota. Saya heran melihat sopir, menjejalkan kami di jok tengah dan belakang, padahal di kursi depan samping sopir masih kosong. Setengah perjalanan, ternyata seorang pemuda berpenampilan compang camping khas tafsir pakaian modern yang aneh, naik. “Ternyata sudah dikapling duluan”. Pikirku.

Tapi bukan itu yang menarik, lebih menarik lagi, ketika pembicaraannya fokus mengkritik agama. Sampai kemudian dia “berani” mengkritik hal yang berbau keyakinan, keimanan dan Tuhan. Agak lama, tak ada yang membantah apa yang dikatakan. Penumpang hanya sinis. Mungkin karena tak mampu, atau keimanan yang meniscayakan yang lain salah, akhirnya mereka hanya bisa sinis.

Saya mencoba mengajak diskusi orang itu, dimulai saat dia melontarkan pertanyaan, “Mampukah Tuhan memasukan yang lebih besar dari lubang jarum?”. Pertanyaan ringan, yang bisa membuat emosi naik. Jawaban pertanyaan ini sebenarnya mirip dengan tulisan saya sebelumnya (baca: membuktikan Tuhan secara rasional). Mendengar pertanyaan itu, sontak saya mencoba menjawab.

Tuhan berbeda dengan makhluk lain, itulah syarat utama sesuatu dipresepsikan sebagai Tuhan oleh makhluk ciptaannya sendiri. Tuhan tidak terbatas, tidak dibatasi ruang dan waktu, dan yang lainnya. Mana mungkin Tuhan dibatasi oleh jarum, atau sesuatu yang besar, seperti dalam konteks kalimat pertanyaan itu.

“Maksudnya?”. Pemuda itu menoleh dan bertanya balik.

Jika Tuhan dikatakan melakukan pekerjaan “memasukan,” maka dia dibatasi oleh apa yang akan dimasukan. Af’al (pekerjaan) Tuhan hanya berlaku jika Dia sendiri yang menegaskan pekerjaan itu, karena hanya Dia (Tuhan) yang bisa membatasi Dia. Misalnya Tuhan mengatakan memasukan hamba yang kufur ke dalam neraka. Maka neraka tidak membatasi Tuhan, karena persepsi Neraka bukanlah persepsi hamba. (baca: menjawab pertanyaan kaum liberal)

“Itukan jawaban memble, tidak masuk akal. Saya hanya butuh penjabaran cara Tuhan memasukan yang lebih besar ke yang lebih kecil (lobang jarum). Caranya bagaimana.” Kata pria itu tegas, sambil membuka jaketnya.

Agak susah juga menjawab pertanyaan seperti ini, batinku berbisik. Sampai saya teringat jawaban Ja’far as-Shadiq dengan pertanyaan yang mirip.

“Maaf, coba Anda pejamkan mata. Lalu buka dan lihat apa yang Anda bisa lihat”. Pintaku.

Kembali laki-laki itu menoleh dan menatapku tajam.

“Saat Anda terpejam, apakah ada yang terlihat? Ada, meski dianggap hanya warna hitam. Nah, saat Anda membuka mata, Anda melihat, jalanan, mobil, motor, dan lain-lain bukan?.”

Pria itu semakin tidak mengerti maksud pertanyaan balikku.

Kemudian saya berkata, “Kira-kira yang mana lebih besar mobil, motor, dan segala yang Anda lihat dari matamu dengan bola matamu sendiri?”. Saya melajutkan, “Lalu kenapa Tuhan mampu memasukan yang lebih besar itu ke dalam penglihatanmu padahal alat melihatmu (mata) lebih kecil?.”

membaca alquran

Skak mat!!!. Laki-laki itu terdiam tak mampu berkata apa-apa. Saya bersyukur Tuhan mengingatkanku dengan jawaban hebat itu. Penumpang tanpa perintah berkata bersamaan. “Tongeng,” yang artinya betul. Bahkan di jok paling belakang, ada yang tepuk tangan.

“Kiri pak sopir”. Laki-laki itu meminta turun, padahal jarak kota masih sekitar 10 kilometer.

Siapa laki-laki itu, dan apa maksud tujuannya? Pertanyaan ini memenuhi benak kami semua dan terlontar hampir bersamaan. Mungkinkah pemikiran liberal disebar secara massive? (baca: kenapa hanya Islam diliberalisasi)

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend