Maaf Tentang Jokowi, Kita Beda !

Jumat sampai hari ini, topik paling aktual tiada lain kecuali tentang Jokowi. Secara politis PDI Perjuangan tentu memiliki kalkulasi tersendiri kala Megawati Sukarnoputri memberikan mandat itu tepat di hari Jumat, hari paling keramat terutama jika kejadian itu merupakan berita aktual Nasional. Bak buah Simalakama, apakah dengan iming-iming Jokowi sebagai capres PDI perjuangan, mampu menaikkan popularitas suara partai, atau kepastian Jokowi sebagai capres PDI Perjuangan yang akan membuat partai lolos parliamentary threshold? Pilihan jatuh diopsi dua ternyata.

Joko Widodo, yang sekarang menjadi gubernur ibu kota, pada setiap survey tak berpihak, selalu menempati peringkat tertinggi. Mencapai itu tentu bukan dengan tangan kosong. Kalau mencoba jeli melihat beberapa media Nasional, ada keberpihakan tak wajar yang kemudian menjangkiti dan memengaruhi pikiran masyarakat sehingga cinta mati kepada Jokowi. Pencapresan Jokowi bukan hanya ditunggu, tapi Google sekalipun memberi tempat unik setiap hal tentang Jokowi di SE. Berbeda pandangan tentu sah saja. Sampai detik ini, nalar saya belum sepenuhnya menerima kalau mantan Walikota Solo inilah Pemimpin terbaik. Terdapat beberapa poin keraguan akan sosok “blusukan” ini.

Pertama: melihat mandat yang diberikan Ketua Umum PDI Perjuangan dan juga putri Proklamator yang ditulis holografis (tulisan tangan), menyiratkan bahwa Gubernur DKI capres ini masih di bawah kendali Megawati Sukarnoputri. Apa yang salah? Memangnya tidak boleh? Sah-sah saja sih, namun mandat bertajuk “Perintah Harian Ketua Umum PDI Perjuangan” menyiratkan kalau Jokowi hanyalah capres mandataris Ketum PDIP. Surat holgrafis adalah penegasan bahwa mandat itu tak ada keraguan atasnya. Lebih meyakinkan dibandingkan diketik dengan mesin tik atau komputer. Perbandingan tulisan tangan dengan tulisan mesin dapat kita lihat pada surat wasiat atau surat pernyataan.

Secara administratif, mandat merupakan salah satu dasar kewenangan atau cara memperoleh kewenangan pada seorang pejabat. Disebut mandat ketika pemberi mandat mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh orang lain (mandataris) untuk dan atas nama mandans. Mandataris tidak boleh bertindak diluar mandat yang diberikan. Karena itu, mandat biasa pula disebut perintah atau instruksi. Sumber

Di sini si pemberi perintah (mandans) tidak kehilangan kewenangannya. Kewenangan mandans tetap ada dan melekat padanya sekalipun mandat telah diberikan. Dengan kata lain, mandans masih dapat melakukan kewenangannya sewaktu-waktu bila diperlukan. Megawati masih berkuasa atas mandat yang diberikannya pada Jokowi. Kapanpun Megawati berhak menarik kembali mandat yang telah diberikannya.

Kedua: Jokowi memberikan kesan “kutu loncat” yang terang benderang kepada masyarakat. Masih jelas dalam ingatan, masih menjadi walikota Solo, kemudian cabut, nyalon dan menjadi Gubernur DKI. Baru setahun setengah menjadi Gubernur, kini akan menjadi calon Presiden (bakal jadi Presiden). Tak salah ketika sebahagian besar masyarakat akan menganggapnya tidak amanah. Bukankah jabatan gubernur itu 5 tahun? Bukankah tagline “Jakarta Baru” belum terwujud? Bukankah, banjir macet malah makin membuat ibukota semrawut? Lalu apa jadinya, jika setahun menjadi Presiden, lalu diusulkan menjadi sekjen PBB?

Sumber gambar: pekanbaru.co
Sumber gambar: pekanbaru.co

Pemikiran seperti ini bisa saja dianggap over, keterlaluan, namun bukankah laik dijadikan pertimbangan, karena faktanya memang demikian. Bukankah dengan mudah ibu Sri Mulyani ditarik ke IMF saat kemelut century belum usai? Kalau hal ini benar dan terjadi lagi, kurang lebih 11 juta warga Jakarta jadi korban strategi politik dan pencitraan blusukan ala Jokowin dan kita tak mungkin membiarkan 200 juta lebih warga negara Indonesia akan bernasib sama.

Ketiga: Berbicara tentang Jokowi bagi saya bukanlah sosok seorang pemimpin, tapi penggerak. Ibarat permainan catur, kelihaiannya pantas ditempatkan pada posisi peluncur atau paling tidak kuda. Sedikit sulit menentukan kriteria pemimpin terbaik. Kita ambil contoh paling sederhana dan mudah dilihat. Saat Jokowi berpidato, apa yang disampaikan berubah menjadi narasi kerja keras, dengan penyampaian yang datar. Kita tak akan bisa mendapatkan Jokowi berpidato berapi-api seperti Soekarno, atau mimik berwibawa ala SBY. Seorang pemimpin tentu bukan hanya untuk berpidato, tapi bagaimana jika pidato pemimpin negara tidak menunjukan aura kepemimpinan?

Antusias masyarakat akan sosok suami Iriana ini, bagi saya karena masyarakat belum melihat kacamata besar Indonesia sebagai Negara berkembang yang disegani. Sudah lama masyarakat bermimpi mendapatkan pemimpin merakyat, yang juga dekat secara fisik. Masyarakat rindu dengan pemimpin pilihannya yang tidak menutup rapat kaca mobil dengan serine meraung. Masyarakat berharap pemimpin merakyat, meski tanpa dasi, dan kerinduan sosok pemimpin merakyat yang lain. Sayangnya, masyarakat lupa hal itu tidak cukup membuat perubahan pada Negeri yang sudah multiproblem ini.

Masyarakat mungkin lupa, tak ada blusukan kalau Jokowi sudah menjadi Presiden, karena kondisi geografis tidak mendukung itu. Masyarakat lupa, kalau keprotokoleran Presiden meniscayakan gerak dan sosok Presiden “asing” bagi rakyatnya sendiri. Masyarakat lupa bahwa kondisi dunia secara global membutuhkan pemimpin berlatar militer, apalagi saat menyikapi suasana memanas Rusia vs Eropa. Lalu bagaimana membangkitkan semangat psikologis masyarakat? Ini PR sederhana bagi sosok Jokowi kelak Jika menjadi Presiden?

Keempat: bahwa dalam setiap suksesi selalu saja ada gerbong besar di balik calon yang bertarung. Ibarat para capres adalah pemicu, akan ada kekuatan besar yang akan menarik pemicu itu. Mari kita petakan negara besar yang paling berkepentingan dengan Bangsa Indonesia.

Masa orde baru adalah masa kejayaan WNI asal China yang bahkan sebagian mendapatkan pinjaman lunak tanpa bunga. Itulah sebabnya di setiap kota besar akan selalu ada pengusaha besar sisa kejayaan orde baru. Sisi lain besarnya Freeport dan kepentingan Barat di sana. Demo besar apapun agar kebijakan kerjasama Freeport diubah, akan redam dengan sekejap. Kalau sejarah orde baru membuat layu sendi ekonomi kita, maka pihak besar lain bermain di wilayah demokrasi dan lobi politik. Mari sedikit curiga dengan titik vital siapa mereka yang dipasang di kementerian atau titik penting sendi penggerak bangsa.

Lalu siapa di balik Jokowi? Tidak ada? Itu tak mungkin !. Bagi saya akan selalu ada ! Selalu ada pemain di balik layar yang terkadang justru sebagai pemegang kendali. Pemain latar itu menginjakan kaki kepada siapa pemenang. Mereka sudah berhitung untung rugi untuk kepentingan mereka. China atau Amrik? Atau sekedar Brunei dan Papua Nugini?

Terakhir, tulisan ini semoga bisa menjadi bahan renungan bagi seluruh masyarakat pemilih. Sosok Jokowi memang sangat bersahaja, dekat dengan masyarakat, tapi untuk menjadi orang nonor satu, mari melihat lebih cermat. Masyarakat butuh pemimpin yang dekat, itu hanyalah langkah awal. Lebih jauh, masyarakat butuh penyelesaian masalah bangsa yang multidimensional. Kriterianya ada di sini. 🙂

Jauh sebelumnya Tuhan sudah mengintakan akan bahaya ketertarikan fisik dan ucapan dalam surah al-Munafiqun ayat 4: “Jika kamu melihat secara fisik, kamu akan takjub dan terheran-heran. Jika mereka berbicara, kalian seksama mendengarkan,… Mereka sebenarnya adalah musuhmu…”

Salam bahagia

2 Comments

  1. kholilReplyMaret 29, 2014 at 11:09 

    jngn cuma mengkritik, tp berikn jg solusinya…

    • MushlihinReplyMaret 30, 2014 at 04:57 

      Trims kalau menganggap tulisan itu sebagai kritik 🙂
      Diakhir tulisan saya jelaskan kalau tulisan ini hanya mengajak semoga bisa menjadi bahan renungan bagi seluruh masyarakat pemilih.

Tinggalkan Balasan