Maaf, Saya Tidak Mengucapkan Selamat Natal (Naql)

Setelah celoteh saya mengenai mengucapkan selamat Natal yang tidak rasional (bagi saya), kali ini pengucapan selamat Natal akan dilihat dari sisi naqli, yaitu penggunaan argumen berdasarkan al-Quran dan hadis Nabi saw. Sengaja saya menulis dengan pendekatan aql (logika) terlebih dahulu, ini disebabkan kecenderungan pembaca yang lebih menyukai pendekatan itu.

Pertama: Surah al-Mumtahanah ayat 8 dan 9, ada dua ayat terangkai indah melukiskan betapa Islam sangat cinta damai.

“(8) Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negeri kamu. Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (9) Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Ayat ini memberikan pengertian tentang dua golongan non muslim. Pertama, adalah golongan yang cinta damai. Islam memerintahkan agar berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka. Sedangkan kedua, adalah golongan yang memusuhi atau memerangi bahkan mengusir umat Islam dari negeri mereka tanpa adanya alasan yang benar. Ayat ini pula yang kerap dijadikan arumen bolehnya mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani

Mari kita lihat, kata “al-Birr” dan “al-Adl” adalah kata bermakna global. Artinya, makna berbuat baik dan berlaku adil tidak bisa menunjukan satu perbuatan yang detil tanpa dilihat dan dibantu oleh dalil naqli yang lain. Tidak ada penegasan sama sekali pada ayat tersebut tentang bolehnya mengucapkan selamat Natal. Logikanya, bolehkah kita memakan sesembelihan hewan tanpa mengucapkan basmalah dengan argument ayat ini atas nama berbuat baik dan adil, padahal ayat lain melarangnya?.

“Dan makanan (sembelihan) ahlul kiatab itu halal bagi kamu dan makananmu halal bagi mereka. Dan (di halalkan bagi kamu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang beriman dan di antara perempuan-perempuan ahlul kitab sebelum kamu “(QS. al-Maidah : 5)

Dengan logika yang sama, bolehkah surah al-Mumtahanah ayat 8-9 tadi dijadikan alasan tentang bolehnya mengucapkan dan menghadiri natal?. Nampaknya kita perlu merujuk kepada pendapat para sahabat dan ulama salaf tentang tafsir ayat tersebut. Karena berbicara tentang kewajiban menjawab salam yang diberikan orang lain terhadap kita, itu tidak terkait sama sekali dengan ucapan selamat natal atau lebaran yang sudah merupakan bagian akidah masing-masing umat beragama. Kalau toh disamakan dengan ucapan membalas salam, perhatikan hadis berikut:

“Dari Anas ra berkata, Rasulullah saw bersabda; apa bila ahlul kitab memberikan salam kepada kalian maka ucapkanlah wa alaikum.” ( HR. Bukhari Muslim ).

Toleransi dalam surah al-Mumtahanah tadi bukanlah “mengaduk” akidah maupun tatacara peribadatan. Sebagaimana Rasulullah yang pernah di ajak kaum musyrikin agar di adakan ibadah bersama tetapi beliau menolaknya dengan membacakan surat al-Kafirun sebagai pengakuan Islam terhadap pluralitas beragama.

Kedua: dalam surah Maryam ayat 33 disebutkan, “Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku pada hari aku diperanakkan, dan pada hari aku mati, serta pada hari aku dibangkitkan hidup semula (pada hari kiamat)”. Ayat dengan makna ucapan selamat itu ditujukan kepada Isa as berentean dengan keajaiban Maryam, perempuan yang melahirkannya tanpa ayah.

Ayat ini juga dijadikan argumen (seakan rasional) bahwa Allah sendiri mengucapkan selamat kepada Isa as, kenapa kita tidak (dalam Natal)?.

Perlu diketahui secara jelas dan terang benderang, Isa as yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah cikal bakal Nabi Allah dan bukan Tuhan. Perhatikan surah Maryam ayat 30 – 32:

“Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberikan Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibuku (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

Dalam al-maidah ayat 72 ditegaskan, “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah Almasih putera Maryam…”

Artinya perayaan Natal atas kelahiran Isa (sebagai tuhan) berbeda 180 derajat dengan ucapan selamat atas Isa as sebagai Nabi.

Akhirnya, dengan mencermati rentetan dalil naqli yang ada, akhirnya saya menganggap hukum mengucapkan selamat Natal adalah haram, karena tidak adanya dalil yang membolehkannya dan lemahnya argumentasi untuk itu. Wujud toleransi bagi saya, tidak harus dengan mengucapkan selamat Natal tapi dengan menumbuhkan sikap saling hormat-menghormati dan mempersilakan setiap penganut agama untuk menjalankan ibadah dan keyakinannya serta aman hidup secara berdampingan tanpa harus mengorbankan akidah.

Salam damai…

Tinggalkan Balasan

Send this to a friend