Maaf, Aku Belum Layak Naik Haji | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

Maaf, Aku Belum Layak Naik Haji (16 Mei 2013)

Suaranya merdu, licin, meringkik, tinggi seperti lagu “Bintang Kehidupan” by Nike Ardilla tahun 90-an. Dari jauh gayanya gemulai dengan topi putih Haji mencolok berbalut syal berbunga di leher jenjangnya, namun dari dekat, naudzu billah, tak kusangka dia seorang pria. Bersemangat melantunkan lagu “habiebie ya habibie” di malam terakhir acara.

Tak ada sorak untuknya, mungkin seperti pikirku lebih asyik menikmati menunggu pengumuman hasil juara setelah 3 hari acara lomba. Dengan mekanisme penilaian yang jelas sesuai pedoman, tak sulit memperkirakan siapa juara di setiap cabang. Namun demikian tetap saja membuat dada dag dig dug tegang tak tentu.

Masih terbayang ujian hilangnya Blackberry kesayanganku, perjuangan semalaman di atas kapal, apatah lagi Pepada asing yang membuat eneg. Tuhan menyediakan jawaban di setiap pertanyaan dalam kehidupan. Karena akal manusia, kata “mungkin” dan “jangan-jangan” lebih mendominasi. Seperti malam itu, ketika pengumuman dibacakan, sujud syukur jelas tak cukup mewakili rasa haruku.

“Acara seperti ini mestinya mendapat perhatian lebih. Sampaikan maaf saya kepada bapak Gubernur, kalau saja saya kelak menjadi Gubernur, serasa tak elok jika penghargaan kepada sang juara, hanya dengan piala seperti itu. Maka dari itu, perkenankan saya memberikan super bonus kepada juara terbaik untuk semua cabang lomba berupa BPIH.” Sepenggal kalimat sambutan Ahmad Hidayat Mus (AHM) Bupati Kepulauan Sula, yang serempak disambut riuh para hadirin.

Semua menyalamiku, berpuluh ucapan selamat. Aku terdiam antara gembira tak terukur dengan kepatuhan aturan Tuhan. Siapa pun seorang muslim, tukang bubur atau hanya guru bercita-cita menyempurnakan keislamannya dengan menunaikan ibadah Haji. Namun syarat menunaikan Haji yang paling utama ditegaskan dalam al-Quran adalah istitha’ah (kemampuan).

Kemampuan menunaikan ibadah haji adalah kemampuan membiayai perjalanan dan keluarga yang ditinggalkan. Persyaratan dikatakan mampu yang lain adalah tak ada hutang ditinggalkan. Hikmah terkait hutang ini, bahwa kewajiban ahli waris bagi seorang mayit untuk menunaikan nazar dan melunasi hutang. Tak ada jaminan ketika melaksanakan ibadah haji, bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat.

Bagaimana dengan hadiah?. Hadiah lepas dari persyaratan istitha’ah jika hadiah mencukupi pembiayaan pelaksanaan, dan lepas dari resiko kemungkinan utang. Ini yang saya pahami.

Meski demikian, rasa cinta akan rumah Allah pun bergejolak hampir membongkar pemahamanku. Fasilitas istikharah kumanfaatkan, jawabannya belum layak. Sulit menentukan pilihan membayar hutang ketika dana sudah dipegang. Opsi ini dan itu, menggoda selalu. Dan…
Kuputuskan kalau sekarang “Aku Belum Layak Naik Haji.”

Tinggalkan Balasan