Lagi, Perkataan Ahok; Ngaco?

Jika mencoba mengakses YouTube dengan kata kunci “Ahok”, akan muncul ratusan bahkan mungkin ribuan video yang memperlihatkan ketegasan WNI keturunan Cina ini. Pria kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966 dengan nama asli Basuki Tjahaja Purnama bukan saja tenar dengan keberhasilannya memimpin Belitung Timur, tapi juga perkataan-perkataannya yang makin hari makin tegas, beda dengan yang lain.

Sangat tidak rasional kalau kita ingin mencoba mencampuri atau mengubah gaya seseorang. Setiap perkataan Ahok memiliki gaya tersendiri, yang terpenting mari kita lihat esensi dari perkataan itu, topiknya apa, maksudnya apa, dan perkataan itu beretika atau tidak.

Dalam tulisan saya sebelumnya, sempat sedikit menyorot kata “bajingan” Hakka Ahok yang saya anggap jauh dari etika berbahasa ketimuran. Topik itu sempat marak dalam berbagai tulisan, namun kini hilang entah ke mana. Tak berhenti dengan gaya tegasnya, kini wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Jokowi, mengeluarkan statemen baru menyentil guru.

Seperti dikutip tribunnews.com, dalam dalam pengarahan kepada jajaran Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI, di kantor Dinas Dukcapil, Jalan S Parman, Jakarta Barat, Ahok mengatakan guru PNS adalah yang paling mudah. “Coba bayangkan, gaji guru DKI setahun sampai Rp 7 triliun, kerja cuma tiga jam sehari, kualitas pendidikan DKI amburadul, kita semua kerja pagi siang malam, betul nggak pak?”. Dalam kesempatan itu, mantan anggota DPR RI itu juga mengatakan kalau penghasilan tinggi dan pekerjaan mudah, para guru seharusnya tidak lagi main-main dengan orangtua murid, terutama soal uang dan pungutan liar.

Ada beberapa poin yang menjadi sorotan menarik dari perkataan Ahok di atas; pertama; kerja guru cuma tiga jam. Saya mencoba mengkalkulasi, apa yang dimaksud tiga jam dari perkataan itu. Jam tatap muka guru di kelas yang diwajibkan 1 pekan (minggu) 24 jam = 1 bulan 24 x 4 minggu = 96 jam, 1 tahun 96 x 10 bulan = 960 jam x 45 menit = 43200 menit, perkiraan cuti, ijin, libur, sakit sebanyak 2 bulan = 43200 : 12 : 30 : 60 = 2 jam. Artinya kalau 2 bulan itu aktif, memang sekitar kurang dari 3 jam.

Namun sayangnya, perkataan Ahok dalam pemberitaan Tribun itu menyebut jam kerja, dan jam kerja guru bukan hanya jam mengajar atau tatap muka saja. Entah Ahok tahu hal ini, atau tidak sengaja menyebut kata “kerja” menggantikan makna “tatap muka”, yang jelas sangat memancing perhatian guru. Bahkan di forum guru, banyak guru menentang dan menantang perkataan wakil Gubernur DKI pendamping Jokowi ini.

Kedua; ada kesan Basuki Tjhaja Purnama ingin membandingkan antara pegawai Negeri dalam jajaran Dukcapil dengan Pegawai Negeri Guru. Kalimat “guru PNS adalah yang paling mudah. Coba bayangkan, gaji guru DKI setahun sampai Rp 7 triliun, kerja cuma tiga jam sehari, kualitas pendidikan DKI amburadul, kita semua kerja pagi siang malam”, dan ditutup dengan kalimat “betul nggak pak?”… sangat provokatif dalam penilaian saya. Padahal kedua abdi Negara ini memiliki tupoksi masing-masing yang berbeda.

Ketiga: kalimat “penghasilan tinggi dan pekerjaan mudah”, sangan menggelitik perasaan. Kucoba mengobok-obok literatur mengenai riwayat hidup suami Veronica, S.T ini dan saya tidak mendapatkan kalau dia punya pengalaman menjadi guru di satuan pendidikan formal. Bahkan dari daftar panjang riwayat hidupnya, Ahok lebih condong dan kental dengan latar ekonomi.

Lalu bagaimana Ahok bisa menilai pekerjaan guru adalah mudah?. Bisa jadi, kalimat itu bermakna “buat apa melakukan pungutan liar lagi, kalau gaji guru sudah memadai?”. Kalau pun maknanya demikian, akan menjadi perdebatan. Gaji guru tinggi, diukur oleh siapa, dan faktanya belum ada guru ditahan oleh KPK. Simple…

***

Gaya dari perkataan Ahok, bisa jadi merupakan cerminan kesemerawutan Ibu kota Negara. Saya pribadi sebagai orang Makassar, sangat suka dengan gaya bicara Ahok, lugas dan menusuk. Jauh dari kemasan “munafik” dengan tujuan membuat orang senang. Namun sebagai seorang pemimpin, public figure, masalah perkataan akan mudah menjadi celah menganggap sebagai kesalahan, terlebih agar perkataan itu tidak dianggap “ngaco” dan seperti orang dongo !.

Tinggalkan Balasan