Kompromi Masalah Rukyah dan Hisab

Kompromi Masalah Rukyah dan Hisab. Bukan topik baru lagi, bahkan masalah penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah, selalu menjadi tranding topik di Negara Indonesia yang masyarakatnya mayoritas muslim. Uniknya, persoalan seperti ini hanya terjadi di negara dengan sistem demokrasi seperti Indonesia. Dimana hak-hak keagamaan menjadi lahan empuk untuk diintervensi.

Fenomena penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah menjadi momen permusuhan bagi sebagian kelompok dalam umat islam itu sendiri. Hal ini terjadi akibat perbedaan prinsip dan kriteria memulai dan mengakhiri yang biasa disebut masalah rukyah dan hisab.

Masalah rukyah dan hisab ini tidak terjadi baru setahun atau dua tahun, tapi sejak dibentuknya Badan Hisab dan Rukyat pada 23 September 1973. Dengan melihat fenomena ini, harus ada upaya kompromi masalah rukyah dan hisab.

Kompromi masalah rukyah dan hisab menjadi penting, karena perbedaan pendapat dapat menimbulkan pertentangan karenanya, umat dan rakyatlah yang menjadi korban. Parahnya lagi jika perbedaan itu tidak lagi menjadi ramhat, namun dijadikan alat dan bahkan kompromi politik

Jika melihat dengan cermat masalah rukyah dan hisab, maka kedua metode ini masing-masing punya kekurangan. Baik hisab maupun rukyah sasarannya adalah satu, ialah “Hilal”, atau bulan tanggal satu Qamariah. Dengan demikian, hanya ada tiga kemungkinan; 1) hisab salah, 2) rukyah kurang tepat, dan 3) kedua-duanya, Hisab dan rukyah tidak betul.

Semakin lama perbedaan ini tak elok untuk dipelihara. Kompromi masalah rukyah dan hisab sejatinya diawali dari sikap legowo dari orang atau kelompok yang memanfaatkan hal ini, karena pekerjaan besar hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar. Bahwa apapun bentuknya, kepentingan yang lebih besar harus menjadi yang utama.

Perbedaan itu adalah rahmat dan berasal dari prinsip, tetapi persatuan umat itu juga merupakan prinsip, yang bukan hanya merupakan kewajiban sosiologis saja, tetapi juga kewajiban agama.

Rukyah dan Hisab

Kompromi masalah rukyah dan hisab hanya bisa terwujud apabila semua ormas islam di Indonesia tidak fanatik terhadap masing-masing kelompoknya saja. “Segala tindak tanduk seorang pemimpin haruslah berorientasi pada sebuah kemaslahatan.” Ungkapan ini dikeluarkan oleh Hamka, ulama besar yang merupakan salah satu pengikut Muhammadiyah. Saatnya kita hijrah dari ijtihad parsial menuju pada ijttihad kolektif yang diakomodir oleh Pemerintah.

Jika melihat sejarah, para sahabat berlomba-lomba untuk dapat melihat hilal, dan jika dari mereka ada yang melihat, hal itu tidak serta merta membuat mereka berani mengumandangkan kapan berpuasa dan berhari-raya sebelum melapor kepada Rasulullah saw. Jika zaman Rasulullah saw, sudah memberikan contoh kompromi masalah rukyah dan hisab.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.