Kitab Suci Bukan Fiksi! Bantahan Terhadap Logika Rocky Gerung

Ada perbedaan antara arti, pengertian dan definisi? Pengertian adalah penjabaran dari arti, sedangkan definisi pembatasan pengertian menuju satu pemahaman yang masih ada hubungannya dengan arti. (baca pengertian dan definisi) Apa yang diucapkan Rocky Gerung bahwa kitab suci itu fiksi, berangkat dari pendefinisian fiksi. Fiksi dia definisikan sebagai sesuatu yang dapat membangkitkan imajinasi. Fiksi berbeda dengan fiktif, karena fiktif itu kebohongan, dan tidak sesuai dengan kenyataan.

Ada beberapa pertanyaan unik untuk melihat definisi fiksi versi Rocky Gerung. Pertanyaan itu bisa dikomparasikannya dengan makna fiktif. Apakah yang fiksi itu fiktif? Andai di depan Rocky Gerung, saya akan tanyakan itu plus pertanyaan, apa Anda bisa jawab?… Pertanyaan kedua, jika kitab suci itu fiksi, apakah kitab suci juga fiktif? Pertanyaan ke tiga, apa perbedaan keimanan dan keyakinan? Jawaban apapun, akan disambut dengan pertanyaan selanjutnya, apakah keimanan dan keyakinan itu fiksi, atau keimanan dan keyakinan itu fiktif?

Logika Rocky Gerung yang sepintas benar terkesan keren karena dikombinasikan dengan pernyatan sebab akibat bersyarat, “jika fiksi itu membangkitkan imajinasi, maka kitab suci itu fiksi.” Maksud dari kalimat ini, jika definisi fiksi tidak atau bukan membangkitkan imajinasi, maka kitab suci juga bukan fiksi. Posisi kalimatnya kira-kira sama dengan kalimat, “jika manis adalah rasa yang membagkitkan gairah dan nafsu, maka wanita polos itu manis. Manis saya definisikan dengan rasa yang membangkitkan gairah dan nafsu. Jika definisi manis bukan itu, maka wanita polos juga bukan manis.

Masalahnya di mana? Karena definisi itu adalah batasan sepihak, maka objek yang didefinisikan juga dibatasi sepihak. Maksudnya, fiksi juga bisa didefinisikan sebagai nalar hayali yang diungkapkan. Jika fiksi adalah nalar hayali yang diungkapkan, apakah kitab suci fiksi? Jawabannya tentu bukan. Manis bisa didefinisikan sebagai rasa yang membuat cakkollo’. Maka jika manis itu adalah rasa yang membuat cakkollo’, apakah wanita polos itu manis? Saya ingin mengatakan jangan larut dalam permainan definisi karena Anda pun bisa mendefinisikan sesuatu. Jangan larut dengan definisi Rocky Gerung tentang fiksi, bantah saja definisi itu dan buat definisi baru. Dalam berpikir, itu halal kok….

Rocky Gerung yang hebat dengan cerdas menghindari delik. Penyebutan kitab suci bermakna semua kitab suci tanpa terkecuali. Dalam logika manis tadi, penyebutan wanita polos tidak menjudge wanita tertentu, Vanessa, Nike Ardilla, atau siapa. Entah 80 juta atau ceban, yang jelas semua wanita polos. Ups, ada yang terlewatkan; pertama, jika semua kue manis, maka yang kita maksud adalah barongko, bandang-bandang, dll. Penyebutan kata umum tidak menghapus makna khusus. Berbeda dengan penyebutan kata khusus, bisa jadi tidak mewakili makna umum. Penyebutan kitab suci adalah umum yang tidak menghapus makna khusus, artinya al-Quran, injil, dan semua yang dianggap kitab suci include di dalamnya.

Kedua, kitab suci apapun bentuk khususnya, oleh mereka yang menganggap itu kitab suci akan meyakini dan mengimani kitab sucinya. Mengimani adalah wilayah private, tapi meyakini mereka harus lakoni. Artinya, Rocky menganggap orang yang meyakini dan mengimani kitab suci sedang berfiksi dengan kitab sucinya. Anggapan itu setidaknya mengganggu wilayah private orang.

Bantahan selanjutnya, kitab suci itu bukan fiksi meski menggunakan definis fiksi ala Rocky Gerung. Firman Tuhan dalam kitab suci bukan fiksi. Memang ada beberapa poin yang belum terbukti karena belum terjadi, toh juga bukan fiksi, hanya sebatas sesuatu yang belum dialami. Misal, kalimat yang menggambarkan surga dan neraka, itu menggunakan kalimat yang mudah dipahami, bukan kalimat dengan tujuan membangkitkan imajinasi.[note]Ketika Tuhan menantang para penyair untuk membuat satu kalimat saja yang mampu menandingi al-Quran, para penyair tidak mampu. Karena kemampuan syair dan penyair hanya sebatas membangkitkan imajinasi dari sumber imajinasi juga. Beda dengan al-Quran. Al-Quran yang juga merupakan kitab suci, tidak serendah syair. Itulah sebabnya para penyair tidak mampu. Di sini pulalah letak kemukjizatan al-Quran sebagai kitab suci, bukan sebagai kitab fiksi[/note] Artinya, bukan fiksi meski dalam definisi fiksi ala Rocky sekalipun. Kalau toh, kalimat penggambaran itu membangkitkan imajinasi pembaca kitab suci, itu bukan berarti Tuhan sedang membuat karya fiksi bukan? Karena tuduhan kitab suci itu fiksi, artinya Tuhan sedang berfiksi melalui firmanNya.

Sekarang mari kita lihat dari sisi efeknya. Jika kitab suci dianggap fiksi meski dengan definisi bahwa fiksi adalah hal yang bisa membangkitkan imajinasi, jangan heran jika kelak, al-Quran, Injil, Taurat, dan kitab suci lainnya dikelompokan dalam karya fiksi. Bayangkan Anda masuk di sebuah toko buku, dan Anda mendapatkan al-Quran diletakkan di rak “fiksi” bersama novel, dongeng, kumpulan cerpen dan karya fiksi lain.

Naudzu billah….

*Penting, jika artikel ini sulit dipahami, saran saya agar dibaca berulang ulang