Kisah Khalifah yang Kalah di Pengadilan Kekuasaanya

Kisah kebijaksanaan khalifah islam yang kedua ditunjukan Sultan Muhammad Al-Fatih, dia adalah Penakluk Konstantinopel tahun 1453. Setelah ditaklukan, konstantinopel pun diubah menjadi ibukota Utsmaniyah.

Suatu ketika, saat khalifah merencakan mendirikan masjid di ibukota, Sultan Muhammad Al-Fatih pun menugaskan hal itu kepada Epsalanti, seorang praktisi Romawi. Praktisi ahli bidang bangunan ini non muslim. Salah satu perintah Sultan, bahwa tiang-tiang masjid Jami itu mesti dibuat dari bahan marmer. Tiang-tiang itu juga harus dibuat tinggi, agar masjid bisa dilihat dari berbagai penjuru. Sultan Al Fatih pun menentukan batas ketinggian yang harus dicapai itu. Perintah itu langsung ditujukannya kepada Epsalanti.

Akan tetapi dalam proses pembangunannya, Epsalanti malah memotong tiang-tiang itu. Hingga ketinggian tiang Masjid itu tak seperti yang dipesan oleh Sultan. Epsalanti bersikap demikian karena suatu sebab pengetahuan yang dipahaminya. Ketika Sultan mengetahui hal itu, dia marah besar. Epsalanti dianggap melakukan pencurian karena mengurangi ketinggian tiang-tiang tadi. Sultan Al Fatih pun memerintahkan agar tangan Epsalanti dipotong.

Keputusan itu membuat Epsalanti tidak terima. Alhasil dirinya pun mengadukan Sultan Muhammad Al-Fatih Mahkamah pengadilan Isti’naf waktu itu. Di Mahkamah Syaikh Shari Khidr Jalabi, memimpin sidang. Dia di kenal sebagai hakim yang sangat adil. Qadhi mengutus orang untuk memanggil Sultan Muhammad Al-Fatih. Mendapat panggilan dari qadhi, Sultan tak ragu menghadiri pengadilan itu.

Ketika hari persidangan, Sultan Muhammad Al-Fatih pun masuk ke ruangan sidang. Sultan Al Fatih kemudian duduk di barisan tempat duduk yang disediakan. Tapi sikap Sultan itu kemudian dihardik oleh qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi.

“Anda tidak boleh duduk, Engkau harus tetap berdiri di samping lawan engkau itu tuan” tegas Qadhi lagi. Sultan Muhammad Al-Fatih pun menurut. Sosok yang begitu disegani oleh belantara Eropa, diam seribu bahasa didepan sang Qadhi. Karena dia sangat mematuhi hukum Islam.

Keduanya kemudian membeberkan argumentasi masing masing. Qadhi Syakh Shari Khidr Jalabi berpikir sejenak. Tidak lama kemudian Qadhi itu mengeluarkan vonisnya. “Berdasarkan aturan-aturan Syariat, maka tangan Engkau juga harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!”

Sultan Muhammad Al-Fatih tidak terkejut, yang terkejut justru sang insinyur ketika mendengarkan putusan itu. Dia tak menyangka, seorang Sultan Islam, yang menunjuk Qadhi itu sebagai hakim, malah dikenakan hukuman potong tangan oleh qadhi itu sendiri. Tubuh Epsalanti sampai bergetar mendengar putusan qadhi itu, atas kasus yang dilaporkannya. Epsalanti sama sekali tak menyangka vonis seperti itu yang bakal dikeluarkan oleh qadhi. Padahal niat awal Epsalanti adalah dia menuntut ganti rugi karena tangannya telah dipotong.

Epsalanti kemudian bangkit. Dengan suara gemetar, tercekak dan terbata-bata, dia malah memutuskan untuk menarik kasusnya itu. “Saya tak menyangka hasilnya seperti ini, saya memutuskan untuk menarik pengaduan saya terhadap Sultan,” tutur Epsalanti terbata-bata.

***

Sangat sulit menemkan pemimpin seperti khalifah Ali bin Abi Thalib dan Sultan Muhammad Al-Fatih. Keduanya adalah penguasa pada zamannya. Hakim, qadhi adalah bawahannya, tapi mereka tidak menginterpensi sedikitpun putusan pengadilan melalui hakim, meski keputusan itu secara kasat mata merugikan khalifah.

Banyak hikmah dari dua kisah khalifah ini. Setidaknya, hal penting bahwa kedua khalifah ini tidak menganggap keputusan hakim merugikan mereka. Tapi mereka berkeyakinan, apapun keputusan hakim dengan menetapan hukum islam, kebaikannya akan menimpa siapa yang menegakkannya

Tinggalkan Balasan