Ketawa Boleh Menertawakan Jangan

Ketawa boleh menertawakan jangan. Ketawa adalah bentuk kegembiraan. Prosesnya ketika dopamin terlepas dan memberikan stimulus pada sirkuit kesenangan pada otak. Ketawa adalah tanda manusia normal.

Semua orang pasti pernah tertawa, bahkan Malaikat pun pernah tertawa. Membayangkan Malaikat Izrail, sang pencabut nyawa sepertinya sangat angker, seram, dan menakutkan. Tapi tenyata Izrail juga pernah tertawa. Saat ditanya, “Apakau engkau juga pernah tertawa?”

Izrail menjawab, “Ya, aku pernah ketawa sekali. Aku tertawa karena merasa lucu saat seorang laki-laki melakukan tawar-menawar harga sepatu yang tidak akan rusak sampai masa lima tahun, sementara aku mencabut nyawanya saat dia sedang melakukan transaksi.”

Dalam literatur Arab, bentuk orang ketawa bertingkat tingkat; Pertama adalah Tabassum, biasa diartikan tersenyum. Tabassum adalah ketawa sumringah, dan bentuk ketawa inilah yang paling baik.

Kedua, Dahk, yaitu ketawa sambil mengeluarkan suara terbahak, mengeluarkan suara dengungan. Cara ketawa seperti ini masih bisa dimaklumi, namun harus dikurangi.

Ketiga, Thaikhun, yaitu tertawa terbahak-bahak dengan suara melengking. Jenis ketawa ini adalah ketawa yang dilarang dalam agama terutama jika dilakukan wanita.

Dalam ketawa ada rahasia tersembunyi. Orang yang mempunyai selera humor yang tinggi akan mudah membuat orang tertawa. Melihat saja bisa membuat kita tertawa. Bahkan lebih jauh, ada orang mengingatnya saja bisa membuat kita tertawa.

Berbeda dengan orang yang tidak memiliki selera humor. Meski sibuk menghapal lelucon, tampil bak pelawak yang unik dan lucu, tetap saja tidak mampu membuat orang tertawa.

Ketawa dan menertawakan hampir menjadi satu paket dalam acara-acara komedi. Dulu, komedi murni bersumber dari naluri humor komedian. Lelucon yang dibuat sangat natural dan bisa membuat kita ketawa sampai meneteskan air mata.

Sekarang, acara komedi kebanyakan berangkat dari menertawakan, mengolok-olok, mengejek dan sejenisnya. Dari hasil menertawakan orang lain itulah yang diharapkan menjadi lucu dan membuat orang tertawa.

Dampaknya sangat besar. Orang menjadi terbiasa melucu dengan menertawakan, mengolok-olok orang lain. Menertawakan menjadi hal biasa, padahal sangat dilarang dalam agama.

Apa yang menyebabkan orang ketawa? Saya simpulkan dalam tiga sebab utama; ada ketawa karena bahagia, gembira atau peralihan dari rasa takut. Misalnya lulus dalam ujian, berhasil mencetak gol, kita tertawa karena bahagia.

Dalam al-Quran surah Hud ayat 70 dan ayat 71, dikisahkan saat Sarah, isteri Nabi Ibrahim as, kedatangan tamu yang diduga sebagai malaikat. Tamunya enggan mencicipi hidangan sehingga membuat Sarah ketakutan.

Tak lama berselang tamu-tamu yang memang adalah malaikat itu menyampaikan bahwa mereka hendak menghukum kaum Luth. Setelah itu, tamu-tamu itu menyampaikan bahwa Ibrahim dan Sarah akan dikaruniai seorang putera.

Apa yang dikatakan oleh Malaikat itu mengalihkan rasa takut Sarah menjadi gembira. Sarah tertawa riang.

Ada juga ketawa karena ingin menghormati dan ingin membuat senang. Ketawa ini sering dimainkan para pejabat di depan atasannya dalam rangka Asal Bapak Senang. Misalnya, atasannya melucu, padahal leluconnya sebenarnya tidak membuat ketawa karena memang tidak lucu. Tapi karena ingin membuat senang atau menghormati, kita lalu tertawa.

Saat Firaun memerintahkan para tukang sihir, ahli nujum, dukun untuk melawan Musa as, dan mengadakan perjanjian untuk bertemu di suatu tempat di waktu subuh, para tukang sihir, ahli nujum, dan dukun sebenarnya sudah tahu bahwa mereka akan kalah, tapi mereka tertawa seakan menang dalam rangka membuat Firaun, raja mereka senang.

ketawa boleh menertawakan jangan

Bentuk ketawa ketiga adalah ketawa mengejek. Tertawa mengejek juga ada dua. Ada tertawa mengejek saat melihat orang terkena masalah, misal melihat orang jatuh lalu ditertawai. Ada juga ketawa mengejek karena memang tak tahu masalah. Misal, orang berbicara, kita tak tahu masalah. Dalam rangka sok tahu atau menjatuhkan lawan bicara, kita lalu mengejeknya dengan menertawai.

Ketika mantan militer bicara tentang keamanan, lalu hadirin tertawa di area yang dilarang ketawa, maka kemungkinan besar ketawa itu adalah menertawakan. Ketawa boleh menertawakan jangan. (Baca: sikap gila pendukung capres)

Dalam surah al-Muthaffifin ayat 29 disebutkan, Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sifat menertawakan adalah sifat orang yang cenderung berada di garis maksiat.

Banyak hadis yang menjelaskan larangan menertawakan orang lain. Bahkan jika seorang kentut sekalipun dilarang ditertawai. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari 4942 dan Muslim 2855, Nabi saw berkhutbah, dan salah satu poin yang disampaikan adalah larangan menertawakan orang kentut.

Tinggalkan Balasan