Kepala Sekolah Ini Memilih Menjadi Ikan; Dilema Kepala Sekolah

Tidak semua kesalahan adalah dosa, seperti halnya tidak semua hal yang baik itu mendapa pahala. Banyak masalah dalam kehidupan ini. Sebahagian mungkin bisa kita hindari dan sebahagian lagi sulit dan tidak bisa. Terkadang kita terjebak dalam kesalahan sistemik dan dibutuhkan nyali berlebihan untuk menghindarinya atas nama menghindari dosa.

Seperti curhat salah seorang kepala sekolah malam ini kepada saya. Menurutnya, selama setahun menjadi kepala sekolah, banyak hal yang dia tak bisa hindari meski dia tahu bahwa jika dia melakukan hal itu, maka itu adalah dosa, dan hukuman Tuhan menantinya.

Ketika pengawas bidang studi, maupun pengawas kelembagaan datang berkunjung ke sekolahnya, jabat tangan dengan amplop berisi sudah menjadi tradisi bertahun-tahun. Tak ada pos anggaran untuk itu, akhirnya dia sedikit memanipulasi pos anggaran lain sebisanya. Pernah setahun dia tak melakukannya, dan apa yang terjadi?, gossip dengan gelar kepala sekolah pelit, tak menghargai tamu, dan dipersulit secara sistemik menjadi taruhannya. Dan secara materil, jumlah anggaran pribadi untuk menghadapi itu jauh lebih mahal ketimbang melakukan kesalahan tadi.

Contoh lain dalam curhatnya; ketika sekolahnya mendapat bantuan langsung untuk pengadaan sarana TIK, bantuan itu tercium oleh Disdik setempat. Walhasil, pengadaan sarana itu diambil alih oleh oknum dengan harga yang tidak sesuai dengan barang. Posisinya sebagai kepala sekolah hanya bertanda tangan, dan mempertanggungjawabkan. Tragis…

Menjawab puluhan ungkapan fakta berujung pertanyaan kepada saya, kesulitan pun menerpa. Dari ceritanya, saya menangkap, kalau dia terjebak dalam pertaruhan jabatan dan diperparah dengan pengucilan berujung mutasi yang marak hadir dalam desain Undang-Undang otonomi daerah. Akhirnya dalam posisi orang yang ditanya, kuberi dia dua pilihan. Pilihan itu kuungkapkan dengan analogi.

Pilihan pertama: “jika suatu saat kita terjebak dalam pusaran air sungai yang deras, jangan sama sekali melawan pusaran air itu, karena bisa menyebabkan tenagamu akan habis. Ikutilah arus air, sembari berpikir dan mengumpulkan kekuatan setidaknya mencengkramkan kaki ke dasar sungai atau berusaha dengan kekuatan ke tepi.”

Pilihan kedua: “Bagaimanapun lamanya ikan laut hidup di air, toh dia tetap ikan, dan rasanya tidak asin.” Semua ketetapan Tuhan adalah mutlak dan ketetapan itu adalah sistem.

Dengan dua pilihan ini, kepala sekolah itu terdiam dan menunduk. Sebelum berpamitan, dia menjabat erat tanganku dan menatapku dalam-dalam. Dengan tegas dia berkata; “besok aku akan seperti ikan, meski hidup di laut, rasanya tidak asin.”

Tinggalkan Balasan