Kenapa Cuma Hari Ibu?, Ini Jawabannya…

Tanggal 22 Desember, terkesan semua orang ingat ibunya. Media sosial riuh mengucapkan selamat hari ibu. Ucapan dengan berbagai istilah, diantaranya mother’s day, hari emak-emak, dan hari ibu.

Segelintir masyarakat Islam mengharamkan hari ibu untuk dirayakan, alasannya, hari ibu terkait dengan Sejarah bahwa hari ibu sebagai perayaan musim bunga orang-orang Greece, bentuk penghormatan terhadap Rhea, ibu sebagai tuhan mereka.

Pada tahun 1600, di Inggris, hari ibu dirayakan pada hari Ahad keempat setiap Lent (masa selama 40 hari samada dalam bulan Februari atau Maret). Dalam masa ini, sebahagian orang-orang Kristian akan berhenti melakukan atau memakan makanan tertentu atas alasan agama. Amalan tersebut adalah sebagai penghormatan mereka terhadap Mother Mary. Mother Mary adalah Maryam, ibu kepada Nabi Isa Jesus (bagi mereka), yang mereka anggap sebagai tuhan.

Tradisi inilah kemudian diklaim sebagai tradisi yang menular ke seluruh dunia sebagai Mother’s Day.

Di Indonesia, hari Ibu ditetapkan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Tahun 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 yang menetapkan 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional. Bahkan pada masa Orde Baru gerakan perempuan dikembangkan menjadi dua arah, pertama Dharma Wanita, dan yang kedua, Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Keduanya memiliki peran tersendiri dalam menyokong kekuasaan waktu itu.

Lantas kenapa adanya cuma hari ibu, dan tidak ada hari Ayah?, demikian pertanyaan, yang umumnya keluar dan dinominasi kaum laki-laki. Diprediksi, pertanyaan ini bukanlah bentuk kecemburuan, namun sebagai loncatan mengkritisi kehadiran hari ibu.

Pertama; hadis Nabi saw, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” Demikian bunyi hadis yang sangat populer. Begitu mulianya seorang ibu tersirat dari hadis ini. Ibu mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan menjaga, hampir sepenuhnya oleh ibu.

Kedua; “Di balik suami sukses, terdapat istri hebat.” Demikian bunyi kalimat motivator untuk menjadi istri dan ibu sebagai motivator keluarga yang baik. Dan, ini fakta. Hampir semua orang sukses di dunia dimotivasi oleh seorang ibu/ istri yang hebat.

Ketiga; “Laki-laki yang baik, pasti berkarater ke-ibu-an.” Demikian ungkapan seorang bijak. Demikian pula Mario Teguh pernah berpesan, “pilihlah laki-laki baik. Tandanya sederhana; 1) menyukai orang tua, 2) Tidak merendahkan wanita, dan 3) Suka sama anak-anak. Tiga hal oleh Mario Teguh, semuanya adalah karakter keibuan yang baik.

Keempat; Ibu tidak sekedar orang tua yang melahirkan. Kata ibu berbeda dengan induk. Induk disematkan pada binatang. Antara ibu dan induk memiliki persamaan. Keduanya melahirkan. Namun, memiliki banyak perbedaan. Seorang Ibu mendidik anak-anaknya, ibu takkan tega sama anaknya, ibu menjaga bahkan sampai kepada anak dari anaknya, dst.

Kelima; Sehebat apapun ayah, takan mampu menyaingi kehebatan ibu terhadap anak-anaknya. Sebuah tweeet unik mengatakan, “MOM jika dibalik menjadi WOW, karena ibu memang WOW terhadap anak-anaknya.

Kenapa hari ibu

Sebenarnya hari ayah di berbagai negara telah dirayakan. Hari Ayah atau Father’s Day dirayakan pada hari Minggu di pekan ke tiga bulan Juni. Dirayakan hampir di seluruh dunia, dan dimulai pada awal abad ke-12.

Jadi, sedikit keliru jika pertanyaannya, kenapa adanya cuma hari ibu?. Karena pertanyaan yang paling ideal adalah, kenapa di Indonesia tidak dirayakan hari ayah ?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.