Kehebatan Jokowi Saat Pencabutan Nomor Urut Capres dan Cawapres

Menulislah tentang Jokowi jika ingin dibaca banyak orang, artikel ini pernah saya tulis beberapa waktu lalu di kompasiana, dan terbukti. Sosok fenomenal, terlihat sederhana, menjadi walikota Solo dua priode dengan kemenangan 90% lebih pada priode kedua, menjadi Gubernur DKI mengalahkan Incumbent, dan kini menjadi calon Presiden priode 2014-2019 berpasangan dengan Joesuf Kalla (JK). Tingkah cepat, turun menyapa rakyat, di tengah haus masyarakat akan perhatian pejabat, menjadi senjata pamungkas suami Iriana ini untuk menjadi orang nomor 1 RI. Kehebatan Jokowi melejit dan dikenal sebagai tokoh merakyat karena melakukan hal umum yang kebanyakan dilakukan masyarakat kelas bawah (rakyat).

Celoteh ini tentu saya tulis dengan hati-hati di tengah maraknya black campaign proses pemilihan capres dan cawapres 2014. Untuk itu istilah “kehebatan” saya definisikan sebagai segala hal baik tingkah, perbuatan, ucapan yang dianggap hebat, meski itu hanya anggapan saja. Lalu apa kehebatan Jokowi saat pencabutan nomor urut capres dan cawapres kemaren?

Perilaku sederhana terlihan selaras dengan gestur Jokowi. Kesederhanaan itu tentu akan mudah terlihat “hebat, merakyat” dengan perilaku rakyat kebanyakan. Minum jamu, naik bajaj, masuk got, gulung celana kala banjir, dan tindakan umum di komunitas masyarakat bawah (rakyat) yang lain. Persis seperti saat pasangan Ahok memimpin Jakarta ini datang ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Saat pencabutan nomor urut capres dan cawapres, pasangan Prabowo-Hatta mendapat nomor urut 1 dan Jokowi-JK mendapat nomor urut dua. Menariknya, ketika kedua pasangan disilahkan menyampaikan sambutan dengan waktu yang sama (sekitar 3 menit), Jokowi berkata “Nomor dua, simbol keseimbangan. Ada capres, ada cawapres. Ada mata kanan, ada mata kiri. Ada tangan kanan kiri. Semua harmoni dalam sebuah keseimbangan. Dan, untuk menuju Indonesia yang harmoni penuh keseimbangan, pilihlah nomor dua,”. Kalimat ini sontak membuat beberapa insan pers meledek. Sayup-sayup terdengar, “kok kampanye sih”.

Inilah salah satu kehebatan Jokowi. Badan Pengawas Pemilu sontak menggelar rapat membahas perkataan Jokowi itu. Calon Presiden dan Wakil Presiden (capres-cawapres) Joko Widodo diduga melakukan pelanggaran serius. “Apakah pelanggaran atau belum, nanti kita bicarakan,” kata anggota Bawaslu, Nelson Simanjutak.

Saat pulang dari KPU, pasangan Jokowi-JK kembali memperlihatkan kehebatan “menyentuh” berbeda dengan pasangan Prabowo-Hatta. Pasangan Prabowo-Hatta meninggalkan KPU dengan mengendarai mobil bersama dengan Abu Rizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar. Sedangkan Jokowi datang dan pulang dengan mengendarai Bajaj.

Kehebatan Jokowi hampir sama dengan kalimat sambutan yang diucapkan. Jokowi mengendarai Bajaj dinilai juga melanggar aturan. Seperti diketahui, Bajaj adalah kendaraan yang dinilai menambah kemacetan Ibu Kota. Lajunya yang tidak bisa cepat memperlambat laju kendaraan yang ada di belakangnya. Olehnya itu, Bajaj dilarang melintas di jalan-jalan protokol seperti Jalan Sudirman, MH Thamrin, Medan Merdeka Barat, Rasuna Said, Gatot Subroto, Imam Bonjol, Diponegoro, dan S Parman. Dan seperti diketahui bahwa Gedung KPU terletak di Jl. Imam Bonjol yang merupakan Jalan protokol.

Jokowi Naik Bajaj dan ke Bali Naik Pesawat Pribadi. Sumber: inilah.com
Jokowi Naik Bajaj dan ke Bali Naik Pesawat Pribadi. Sumber: inilah.com

Apa yang dilakukan Jokowi ini bagi saya adalah sebuah kehebatan tersendiri, karena saat Bajaj dilarang melintas di jalan Protokol, bajaj dengan penumpang sosok berkesan sederhana ini justru dapat melintas tanpa teguran dari aparat. Sontak media ramai membicarakan hal ini, namun yang dibicarakan adalah perbedaan kesederhanaan Jokowi dengan bajaj, dan kemewahan Prabowo dengan mobil.

Masyarakat yang haus akan kesederhanaan pejabat dan pemimpin, tentu melihat hal ini sebagai nilai plus dan laik didukung. Pribadi juga memimpikan sosok yang sederhana, tapi bukan sosok yang terkesan sederhana, mencoba sederhana, berpura-pura sederhana, atau sederhana karena ada maunya. Sosok sederhana yang betul sederhana banyak ditampilkan oleh para khalifah pengganti Nabi saw.

Akhirnya, semoga apa yang dilakukan Joko Widodo, bukanlah sebuah kepura-puraan, atau karena ada maunya, sehingga apa yang dicita-citakan masyarakat setidaknya mendapat secercah harapan dari pencalonannya sebagai capres. Kehebatan Jokowi semoga betul murni sebagai kehebatan yang layak, bukan kehebatan yang dikemas dan dibuat-buat.

Salam bahagia …

Sumber 1, 2

 

Tinggalkan Balasan