Kampung Jajanan Tosagena Belawa; Perpaduan Dua Kultur yang Membangun

Belawa nama kecamatan yang tidak begitu dikenal secara global. Jika melalui mode pencarian inet, malah diarahkan ke Belawan, salah satu kecamatan di Medan Sumatera Utara. Belawa lebih dikenal di lingkungan akademis karena di sana lahir ulama kesohor. Salah satu sumber menyebutkan, nama belawa berasal dari aliran Ba Alawiyah. Aliran yang dibawa oleh salah satu keturunan langsung Nabi Muhammad saw serta Wali dari Jawa yang bernama Syeh Jamaluddin Akbar al-Husaini.

Terbayang sebuah daerah bernuansa agamis, di dalamnya sarat dengan kajian keagamaan, kultur sosialnya ketat dengan aturan syariat, atau kehidupan sosial dengan rasa malu yang tinggi. Sebagian ada benarnya. Aura dan pengaruh ulama terdahulu masih membekas. Apa yang dilakukan masyarakat senantiasa memerhatikan sesuai syariat atau tidak. Sebagian…

Belawa juga merupakan sebuah wanua, yang sebelumnya terbagi atas dua, yakni Wanua Belawa Orai dan Wanua Belawa Alau dibawah konfederasi kerajaan Wajo. Pembagian itu mengindikasikan bahwa Belawa merupakan wilayah (domain) dengan kekuasaan tersendiri sistem ‘demokrasi aristokrat’. Ini membentuk konstruksi identitas masyarakatnya serta simbol-simbol dimana mereka lebih ingin disebut sebagai orang Belawa ketimbang dikatakan sebagai orang Wajo. Bentuk kemandirian itulah melahirkan prinsip orang Belawa selalu merasa berkecukupan, dan diistilahkan tosagena.

Kampung jajanan adalah gerakan menggairahkan ekonomi masyarakat yang sangat tepat dan efektif. Di Bali misalnya, ada kampung jajanan spesial kue dan cemilan dari gula merah. Di garut, terdapat kampung jajanan yang hanya buka sore hari. Semua punya ciri khas sendiri. Kampung jajanan tosagena sepertinya mengedepankan ciri khas yaitu perpaduan dua kultur agamis dan budaya kemandirian orang Belawa. Entah inspirasi dari mana sehingga Andi Nadar, penggagas kampung jajanan ini bisa memadukan dua kultur itu.

Kedua kultur berjalan selaras dan romantis. Kultur agamis dan kultur Tosagena. Misalnya, kampung jajanan Tosagena Belawa hanya buka sampai jam 10 malam, menghindari peluang pelanggaran syariat. Adapun dari kultur tosagena nya, penikmat kampung jajanan bisa dikatakan itu itu saja, namun kampung jajanan ini tak pernah sepi dari pengunjung. Bahkan hampir semua penjual bisa mendapatkan keuntungan bersih sampai 300 ribu dalam sehari. Ciri bahwa tau belawa e tau masagena. Orang Belawa orang berkecukupan.

Kampung jajanan ini hanya buka sore hari sampai malam. 7 hari dalam seminggu, 30 hari sebulan, 360 hari setahun. Kecuali pada malam tahun baru. Tercermin dengan jelas kalau kampung jajanan ini tidak ingin terlibat dengan pelanggaran syariat perayaan tahun baru masehi. Keren bukan?

Sore hari, kampung jajanan Tosagena menjadi tempat refresing para pekerja kantoran dan anak sekolah. Malam hari, milik mereka yang ingin bersama keluarga menikmati aneka rasa kue dan minuman panas atau dingin. Sayangnya, untuk urusan cemilan, kampung jajanan ini tidak menyediakan cemilan khas bugis, misalnya apang pella, barongko, pella butung, dll.

Mau merasakan kuliner di arena dua kultur? Ayo ke Belawa….

Tinggalkan Balasan