Kami Sekeluarga Bersedih; Itu Pasti…

Kami sekeluarga bersedih itu pasti. Tak ada yang bisa mengelak jika keadaan kami seperti ini karena perjuangan bapak samasa hidupnya. Namun kami sebisa mungkin tidak meneteskan air mata, khawatir menimpa jenazah beliau. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu”. Kalimat tak henti keluar dari mulut Ibuku.

Pukul 18 sore kurang sedikit, ambulance pembawa jenazah tiba di perbatasan kampung halaman. Ketegaran kami yang kokoh akhirnya ambruk, kalah oleh suasana. Ribuan kepala dan pasang mata menyambut di pinggir jalan, anak-anak dan dewasa. Tak terasa air mataku menetes haru, betapa perjuangan bapak semasa hidupnya ternyata dihargai, dihargai oleh rasa kehilangan masyarakat. Kami sekeluarga bersedih itu pasti, tapi kami harus cepat eling kalau itu adalah takdirNya.

Tiga pimpinan pondok pesantren datang, entah siapa yang mengabarkan. Dalam hitungan 5 jam ribuan orang berkumpul di rumah duka, meluber sekampung. Sejak mobil ambulance berhenti, sejak saat itu saya sudah tidak sempat lagi menyentuh langsung bapak kami yang tercinta, kalah oleh desakan para pelayat yang tak sabaran.

Semasa hidup, beliau selalu berpesan agar jenazah tidak lama dan segera dimakamkan. Pesan itu tidak semata terucap, terkadang saudaranya marah-marah jika merasa tidak ditunggu jika prosesi pemakaman ditangani oleh beliau. “Tidak perlu berlama-lama, agama mengajarkan hal itu”. Katanya.

Selesai dimandikan dan dikafankan, jenazah diusung ke masjid kampung dimana para pimpinan pondok pesantren yang sempat datang telah menunggu di sana. Masjid sudah penuh ketika kami tiba. Kini ada tiga masa masjid penuh, saat Jumat, lebaran dan waktu itu. Saya sendiri tak sempat melihat, siapa-siapa yang hadir untuk melaksanakan shalat jenazah.

“Mewakili keluarga, saya minta maaf. Apabila dari almarhum masih memiliki hutang, kiranya segera disampaikan kepada ahli warisnya”. Demikian pesan pimpinan pondok Pesantren Asadiyah dalam takziah singkatnya sebelum acara shalat jenazah dimulai.

Pukul 19. 30 menit, prosesi pemakaman berjalan khusyuk. Sebagai keluarga terdekat, saya hanya mendapat kekuatan mencapai deretan kedua. Deretan pertama diisi oleh para kiyai, dan beberapa murid kesayangan bapak semasa hidupnya. Semua sedih, namun tak ada tangis, dan itu harapan kami selaku keluarga semua.

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend