Kaget?

Suatu malam dingin dengan gerimis kecil, saya jalan sendiri di tempat gelap. Tiada yang menemani. Hanya suara jangkrik terdengar. Jalan itu sejak lama dikenal angker. Konon, di sana pernah teradi pembantaian massal tanpa penguburan semestinya… yah, di atas tempat mayat-mayat pembantaian, aku berjalan sendiri. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang… duarrrr…. saya kaget?

Semester ini Anak saya tak pernah belajar. Dia sibuk mengikuti lomba. Meski mendapat ijin dari gurunya, saya yakin saat ujian nanti, dia tak akan bisa berbuat banyak. Tibalah waktu ujian. Anak saya ikut dengan kekuatan bahwa ketidakhadirannya selama ini, toh karena restu gurunya jua…. tibalah saat penerimaan rapor, ada yang aneh, nilai anak saya sangat memuaskan. Saya kaget?

Saya berteman dengannya sejak kecil. Main belajar bersama. Susah senang kami nikmati bersama. Hingga waktulah memisahkan kita. Dia ke negeri seberang mencari nafkah. Saat mengantar ke bandara, saya hanya bisa menitip pesan, lakukanlah perbuatan baik selalu. Pagi itu dengan pesawat dia terbang, dan saya balik haluan dengan harap dia baik-saja di sana. Saya pulang… sampai di kampung, aneh saya melihatnya menenteng cangkul hendak ke sawah. Saya kaget?

(Baca juga: kisah psikopat)

Saya kaget? Pertanyaan tadi opsi jawabannya bisa terperanjat, terkejut dan kaget. Ketiganya bisa digunakan. Karena memang arti kata kaget adalah terperanjat dan terkejut. Namun, dari ketiga cerita di atas, frekuensi kaget nya tentu berbeda. Kaget dalam cerita pertama tentu berbeda dengan cerita kedua dan ketiga. Yang membedakan adalah penyebab dan efek kaget itu sendiri. Akibat takut lalu kaget, efeknya lebih besar. Berbeda dengan kaget yang efeknya menggembirakan seperti cerita kedua. Atau kaget karena heran seperti cerita ketiga.

Ada banyak penyebab kaget dalam kehidupan kita. Kita tentu punya kisah sendiri yang menceritakan ke-kaget-an itu. Entah kaget berawal takut, heran, atau bisa jadi kaget tapi gembira. Namun, ada beberapa syarat kaget yang pasti ada dan menjadi unsur kaget. Hal itu menjadi syarat sesuatu layak disebut kaget. Mari kita lihat;

Pertama, kaget sifatnya bermula dari ketidaktahuan. Tahu tak bisa menyebabkan kaget. Mustahil… “Saya menunggumu datang hari ini. Kamu di Belanda, perjalanan dari sana 1 hari. Kamu berangkat hari ini”. Saya tahu kamu tak bisa datang. Lalu saya kaget kamu tak datang? Itu bukan kaget! Itu sandiwara seolah-olah kaget. Karena saya tahu kamu tak mungkin bisa hadir. Saya akan kaget, jika kamu bisa datang, karena yang saya tahu, itu tak mungkin.

Kedua, kaget itu insidentil, tiba-tiba, tak dipersiapkan. Ekspresi kaget itu tak bisa direncanakan. Makanya, jika ada yang mengatakan “saya kaget”, dia sebenarnya mengatakan “tadi saya kaget”. Atau dia sok kaget, untuk menyampaikan pesan kalau dia heran. Bisa juga hanya sandiwara, karena kaget, atau berbohong. Misal, Seorang kepala desa didemo, dituntut warganya agar bisa hidup layak. Sang kepala desa tahu itu tapi tak berani menemui. Dua bulan kemudian, kepala desa bertemu warganya dan berkata, saya kaget ada warga hidup tak layak. Itu bukan kaget!

Ketiga, kaget disebabkan dari sesuatu yang tak terduga. Tak terduga meningkat atau tak terduga menurun. Artinya, lepas dari tahu atau tidak, tapi dugaan saja. “Saya sudah menduga dia bohong, maka ketika dia bohong, saya tak kaget”. Buat apa?

Apakah kamu kaget membaca tulisan ini?

Tinggalkan Balasan