Ka’bah Jaman Now …. ….

Tak ada tempat tujuan paling populer sperti ka’bah. Arab Saudi menjadi negara tanpa pajak, juga karena hal itu. Entah sudah berapa ratus ribu tahun Ka’bah menjadi destinasi wisata religi yang menguntungkan negara Arab Saudi. Bayangkan berapa devisa negara yabg dihasilkan dari tamu yang datang sambil belanja, tukar menukar uang, rotasi ekonomi, sampai penjualan jasa.

Sudah menjadi ketetapan Tuhan, sejak dahulu milyaran manusia. Ka’bah yang juga sebagai pusat bumi kemudian memiliki energi asing. Dari sisi teologi kemanusiaan, sangat wajar. Berapa orang pada satu titik, berdoa, bermunajat, menumpahkan rasa, puja dan puji. Bisa dibilang, tak ada ujaran kebencian di titik itu. Ribuan tahun, sehingga titik itu menciptakan energi yang dahsyat. Tak aneh, jika para peziarah sering mengalami hal-hal yang tidak lazim ketika berada atau setelah dari sana.

Era milenial atau istilah anak muda era jaman now, tanpa sadar mengubah itu. Ada titik baru yang yang menjadi tumpuan emosi, rasa, curhat, puja dan puji. Itulah facebook. Saya tak menyebut media sosial. Karena dari sekian banyak media sosial, tumpahan emosi, puja dan puji bersatu hanya ada di Facebook. Berdoa, doanya ditumpahkan di facebook. Meratap, ratapannya di facebook. Ada benarnya kata ustad Abdul Somad. Istilah wall, beranda facebook itu diinisiasi dari ratapan orang orang yahudi pada dinding.

Banyak doa dan harapan di Facebook. Pasang foto yang dibagus-baguskan, bikin puisi mendayu-dayu, menulis status-status bijak dan spiritual, curhat, melampiaskan emosi, memuja, memuji, semua ditumpahkan pada satu titik, facebook. Tak heran, seperti halnya Ka’bah, ada perputaran uang di sana. Menggunakannya gratis, tapi tanpa sadar kita dikumpulkan dalam satu titik, dan itu menjadi pasar. Andai pemilik facebook adalah negara, bisa jadi salah satu negara terkaya di dunia.

Namun, dari sekian banyak persamaan seperti dalam opini di atas, ada beberapa poin perbedaan Ka’bah Jaman Now ini; pertama, di Ka’bah Makkah al Mukarramah, orang melampiaskan emosinya dalam berbagai rupa, dilandasi dengan kesadaran, keikhlasan, dan kejujuran. Saat imam masjid haramain membaca ayat suci dengan menangis, jamaah juga menangis. Mereka menangis karena kesadaran, mereka jujur. Beda dengan facebook. Orang miskin saja bisa menulis motivasi bak orang kaya. Menulis status menyedihkan sambil tertawa, atau berdoa sambil mengumpat.

Kedua, berkumpulnya orang di Ka’bah Makkah al Mukarramah, hanya pada waktu yang ditentukan saja; saat umrah atau musim haji saja. Beda dengan Ka’bah jaman now. Facebook sebagai titik berkumpul meluapkan emosi sungguh banyak menyita waktu. Bangun tidur bahkan sampai tidur lagi.

Ketiga, Ka’bah Makkah al Mukarramah bisa menghasilkan enegri dahsyat sebagai pusat bumi. Energi positif yang bisa membawa para pengunjung yang datang mendapatkan sesuatu yang positif. Jangan harap di facebook juga demikian. Betul, facebook sebagai titik berkumpul menumpahkan rasa, namun tak semua rasa itu dari diri manusia.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Anti Spam. Akismet.