Jawaban buat yang Malas Melakukan Shalat?

Lama tak pernah debat kusir dengan teman lama yang malas melakukan shalat, rasanya membuatku kaku. Kaku dalam menghadapi gaya mereka, argumen, dan mimik.

Seperti sore ini, membuatku harus memeras otak, merangkai analogi, untuk setidaknya menyadarkan mereka (meski aku sendiri belum sadar. :). Bah… karena aku pun malas shalat… 🙁

Sampai tiba waktu shalat, aku beranjak, tentunya tanpa diikuti oleh satupun dari mereka. Selesai menunaikan kewajiban satu ini, mereka langsung manyambut dengan debat pembuka orang malas shalat,

“friend shalatkan tujuannnya mengingat dan mencegah perbuatan keji dan mungkar, yah kalau kita sudah mengingat plus mencegah ini itu, buat apa lagi mengerjakan simbol dari gerakan shalat?”

Aku menatap mereka dengan tajam. Mereka tersenyum. Senyum kemenangan, karena aku terdiam. Bukan kutak bisa menjawabnya, tapi mereka harus bisa merasakan jawabanku nantinya. Aku bertekad nantinya mereka tak lagi malas mengerjakan shalat…

“Kalian lapar?, sudah makan belum”?, tanyaku. “Belum”, mereka menjawab hampir bersamaan. “Yah sudah, kalau kalian lapar, kita makan biar kenyang, dan aku yang traktir”. Ucapan ini disambutnya dengan mengisi lembar pesanan yang sedari tadi menunggu. “Sudah biar aku yang isi”. Pungkasku.

Tak lama kemudian, pesananku datang, hanya seporsi tergeletak merangsang di depanku, hanya untukku, dan tak ada buat mereka.

Sontak mereka protes, “ini bukan trakatir namanya”?…

“Begini, kalian kan makan karena lapar dan untuk menjadi kenyang, dan itu tujuan. Sekarang ingat itu makan resapi, buang jauh2 nuansa lapar dalam rasa dan dirimu, hadirkan kenyang itu. Kalian tak perlu menyuap, mengunyah, menelan, bersendawa, dan simbol kegiatan lain dari makan, karena tujuannya telah kalian lakukan”.

Kini giliran mereka terdiam…. 🙂

Sedikit uneg-uneg buat yang malas shalat seperti saya: Shalat adalah perilaku, makanya printahnya berasal dari kata dalam bentuk amar. (Baca: tips agar tidak malas Shalat)

Dalam kaidah ushul, kata yang berbentuk perintah, hukumnya wajib, kecuali ada teks lain yang membatalkan kewajiban itu.

Perintah shalat dalam teks suci (al-Quran), substansinya bukan pada pencapaian tujuan, tapi proses. Artinya dengan proses itulah nantinya tujuan bagi orang yang melakukan tercapai.

 

 

 

Tinggalkan Balasan