Janji (Politisi) dalam al-Quran

Dalam al-Quran janji disebut dalam kalimat; al-Wa’d, al-Ahd, al-Mitsaq, dan al-Aqd. 1. Dalam bahasa Arab, jika dikatakan ‘Aqadtu ‘alayhi, maka artinya saya berjanji, membuat kesepakatan kepadanya. Dengan demikian, maka aqd adalah kesepakatan saling mengikat. Tersirat di baliknya sebuah janji. Atau dengan kata ‘Aqadtu Alayya, saya berjanji dengan diriku sendiri, maka ikatan janjinya terhadap dirinya sendiri.

Ada tiga bentuk janji; janji kepada Allah misal dalam doa iftitah kita mengucapkan, “Sesungguhnya shalatku. ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk/milik Allah Tuhan Semesta Alam.” Kedua janji terhadap diri sendiri, misal “jika saya lulus, saya akan memberikan gajiku semua kepada dia.” Ketiga, janji terhadap sesama manusia. Ini beragam, ada janji setia sehidup semati, bayar hutang, janji politik,macam-macam. Makanya, hemat penulis kata al-Aqd yang paling dekat dan tepat untuk menarik hukum terhadap suatu janji politik.

Seorang politisi yang berjanji kepada konstituennya, maka terbangun kesepakatan setidaknya kesepakatan saling menguatkan terhadap diri pemberi janji sendiri. Jika janji itu diterima oleh objek penerima janji dan disepakati dalam bentuk memenuhi keinginan pemberi janji, dicoblos misalnya, maka janji itu adalah kesepakatan dua belah pihak.

Lalu kenapa janji harus ditepati? Al-Quran menjawab hal itu. Dalam al-Quran, setidaknya ada empat alasan; pertama, menepati janji itu adalah perintah. Sebagai seorang hamba, mentaati perintah adalah wajib. “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji …” (an-Nahl: 91)
Kedua, melihat seorang beriman atau tidak, maka lihat sejauh mana orang tersebut menepati janjinya. Jelas disebut sebagai salah satu indikasi orang beriman dalam surah al-Muminun. “Telah beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (al-Muminun: 1-dst)

Ketiga, dalam al-Quran kerap contohkan perbuatan syaithan. Maksudnya jauhi perbuatan itu. Salah satu contoh perbuatan syaithan adalah memberikan janji yang membangkitkan angan kosong, “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (an-Nisa: 120)

Keempat, al-Quran juga menjabarkan kisah sebagai pelajaran bagi manusia. Kisah yang erat kaitannya dengan janji adalah kisah Bani Israil. Bani Israil adalah kaum yang paling suka ingkar janji. Kita dianjurkan menepati janji agar tidak seperti Bani Israil.

Islam adalah agama yang adil. Tak ada dosa yang tidak ada halalnya kecuali zinah dan syirik. Ingkar janji adalah perbuatan dosa, namun ada hal tertentu dengan memperhatikan situasi dan kemampuan seseorang, sehingga hukum atas janji politisi dimaafkan;

Pertama, dipaksa dalam artian tidak ada kemampuan melawan. Bukan dipaksa mampu melawan, tapi lebih memilih ingkar janji. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan kepada umatku dari kesalahan yang tidak disengaja, lupa atau yang dipaksakan atasnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Majah).

Kedua, politisi menjanjikan sesuatu yang dilarang. Misal, jika saya jadi ini, saya akan mendirikan tempat prostitusi, maka janji itu bukanlah sesuatu yang wajib, bahkan lebih baik tidak ditunaikan.

Ketiga, betul-betul tidak mampu. Jika terjadi suatu kejadian yang tidak diduga sebelumnya dan menimpa orang yang berjanji, seperti sakit, kematian saudaranya atau transportasi yang bermasalah dan alasan-alasan lainnya, maka situasi tersebut mungkin bisa menjadi alasan yang tepat apabila dia tidak bisa memenuhi janjinya, sesuai dengan firman Allah swt: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286) .

Janji mudah diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak politisi dengan enteng mengobral janji. Masyarakat tahu, tapi tak bisa berbuat banyak. Akhirnya menikmati janji itu. Jika seorang politisi tidak menepati janji-janji kampanyenya, maka dalam konteks al-Quran, politisi tersebut bisa jadi berada pada salah satu atau lebih poin di atas. Dia tidak beriman, mengabaikan perintah, mengikuti perbuatan syaithan, atau bagian dari sifat Bani Israil. Kecuali politisi yang berjanji itu dalam keadaan terpaksa, tak sengaja mengucapkan janji yang dilarang, atau betul betul tidak mampu menunaikan.

  1. Al-Wa’d disebut paling banyak. Penggunaan al-Wa’d terkait keselamatan manusia di akhirat sampai al-wa’d terus diulang-ulang. Al-‘ahd lebih dominan menyangkut keimanan dan ketaatan kepada rasul. Al-Mitsaq juga berarti janji, namun paling sedikit dalam al-Quran. Allah menggunakan al-Mitsaq kepada manusia hanya satu kali, begitu juga nabi kepada kaumnya hanya satu kali, selebihnya adalah perjanjian dua arah seperti antara Allah dengan Bani Israil. Sedangkan al-‘Aqd bermakna ikatan, pengokohan, dan penguatan