Jangan Lupa Memilih Caleg Ini…

Hiruk pikuk menuju 17 April 2019 sepertinya didominasi topik pemilihan presiden dan wakil presiden saja. Saya kadang berkata, kenapa tak ada hoax terkait legislatif? Saya tak mengharapkan hoax, hanya kawatir fokus publik terhadap calon presiden dan wakil presiden mengakibatkan lupa akan calon legislatif (caleg), yang posisinya juga tidak kalah penting. Kebijakan pemerintah harus disetujui legislatif. Itu poin pentingnya. Tiga fungsi legislator, yaitu fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran, tak akan berguna jika legislatornya tak paham, atau paham tapi bermain-main dengan hal itu. Olehnya itu, penting memahami siapa caleg yang layak siapa yang tidak.

Sebelum memilih caleg, mari kita kenali dulu tipe caleg. Saya menemukan ada 4. Pertama, caleg yang mencari pekerjaan. Biasanya caleg seperti ini tak paham masalah, tapi ingin memakai sepatu di pagi hari. Kedua, caleg yang ingin mempertahankan dinasti. Mantan kepala daerah, anaknya, keponakannya, dll, yang mana tujuannya murni mempertahankan dinasti kekuasaan yang sementara diduduki. Ketiga, caleg yang mencari popularitas. Harta cukup, pekerjaan ada, tapi yang bersangkutan ingin populer, ingin dikenal. Tak ada panggung yang ditemukan kecuali panggung legislasi. Keempat, caleg yang ingin mengabdi terhadap masyarakat. Untuk poin ini tak usah dibahas lama-lama. Nanti di akhir. Selain jarang, seperti mimpi saja. Tapi jangan pesimis!

Dari keempat tipe caleg tadi, semua memiliki sisi baik untuk dipilih. Caleg yang mencari pekerjaan memiliki kesadaran berbuat baik lebih tinggi, namun rawan lupa diri. Caleg seperti ini juga akan lebih giat, karena belum mengetahui arena pekerjaan yang sebenarnya. Pun juga jika terpilih nanti akan memakan waktu lama untuk beradaptasi.

Caleg yang tujuannya mempertahankan dinasti layak dipilih jika dinasti yang ingin dipertahankan juga baik. Kita tak boleh pesimis dan mengklaim kalau semua dinasti itu buruk. Ada dinasti yang baik. Dalam mimpi atau dalam buku fiksi misalnya. Kelemahan utamanya, yang dipertahankan oleh caleg dinasti ini adalah masyarakat yang terkait dinastinya juga. Jangan berharap pengawasan akan berfungsi jika itu terkait dinasti yang dipertahankannya.

Bagaimana dengan caleg yang mencari popularitas? Caleg seperti ini baik untuk dipilih jika popularitas yang diburu mengikutsertakan popularitas daerahnya. Ada? Mungkin… kekurangan utamanya, jatuhnya popularitas lebih buruk dibanding hilangnya harta dan jabatan. Akhirnya lambat laun, caleg pemburu popularitas akan berubah menjadi caleg pemburu dinasti.

Sisa yang terakhir, caleg yang murni mengabdi untuk masyarakat. Pilih yang seperti ini. Sisi kebaikannya sangat banyak. Sisi buruknya, hanya satu; langka. Namun mudah “menemukannya.” Coba saja menanyakan kepada caleg, apa tujuannya jadi caleg? Tak ada yang ingin menyebut tiga tipe sebelumnya.

Bukan Caleg
Poto hanya pemanis dan bukan CALEG

Apa ciri dari caleg ideal yang ingin mengabdi kepada masyarakat? Pertama, karena fungsi legislator sebagai legislasi, caleg ini pandai berkomunikasi, cerdas melobi, disegani, tahu menyimpulkan masalah di masyarakat terutama daerah pemilihannya. Mengujinya gampang, suruh saja bicara mengenai masalah yang ada, dan solusinya. Rongrong dengan pertanyaan dan silahkan nilai sendiri.

Kedua, karena salah satu fungsi legislator adalah fungsi anggaran, anggaran terkait uang, baik pengelolaan dan peruntukannya. Maka caleg pengabdi adalah dia yang tidak terpengaruh dan tidak mempengaruhi pemilih dengan uang. Bisa dibayangkan proyek-proyek pembangunan yang pengelolaan anggarannya yang tidak baik. Harga dimark up, atau bahkan kejahatan itu didukung legislator.

Ketiga, caleg yang ingin mengabdi, naluri pengawasannya tinggi. Mulai dari hal-hal kecil. Caleg seperti ini, tak terbiasa membiarkan sesuatu yang menyimpang. Hal kecil, ada mobil salah parkir, dia tegur. Caleg seperti ini juga berani namun penuh perhitungan. Bisa anda uji dengan pertanyaan, bagaimana cara Anda mengawasi kepolisian?

Jangan lupa memilih caleg ini pada 17 April nanti. Jangan pilih caleg yang callege lege. Ingat datang mencoblos. Suaramu menentukan nasibmu. Dan suaramu akan dimintai pertanggungjawaban!

Tinggalkan Balasan