Jangan Katakan Tidak Bisa; Bapak-ku Sakit (Bag. 1)

Jangan katakan “tidak bisa”, karena secara tidak sengaja, kita menghalangi kemampuan kita sendiri dan menvonisnya tidak bisa. Lalu jangan katakan “Tidak tahu”, karena secara tidak sengaja, kita telah menutup rapat ruang untuk tahu, dan berhenti belajar. Inilah pengetahuan yang saya pelajari dari kejadian fantastis hari ini.

Biasanya, jika akan ada kejadian besar, sedikit banyak saya bisa merasa. Pagi terbangun, tiada apa-apa. Meski mata masih kusut, kepala masih terasa berat, kupakasakan diri untuk bangun. Kulirik kamar sebelah, teman masih larut dalam lelapnya. Saya berkemas, cepat untuk agenda kelengkapan berkas di Dinas Pendidikan.

Sekitar pukul 10.00, setelah semua urusan kelar. Sebelum sampai ke rumah, saya sempatkan diri singgah di penjual “nasu palekko”, lama tidak pernah merasakan masalakan itik basah dengan pedas luar biasa. Belum sempat membayar di kasir, telepon berdering;

“Pulang segera nak, bapakmu masuk Rumah Sakit”. Suara ibuku tanpa kalimat intro sebelumnya.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Tidak jelas. Yang pasti sekarang dalam perjalanan ke Rumah Sakit”.

Tak berlama-lama, kupacu Jupiter merahku segera ke rumah, bukan untuk menikmati “palekko” tadi, niatku hanya ingin mengambil jaket, dan segera pulang ke kampung halaman.

60 Kilometer, kutempuh hanya sekitar 30 menit. Kesadaranku seakan hilang, bahwa apa yang kulakukan dengan kendaraan kecil seperti itu, sangatlah berbahaya. Lupa mencopot sepatu masuk ruang UGD, pelak membuat saya merasakan pedasnya kalimat teguran perawat-perawat bening yang “numpuk” di dekat pintu masuk.

Stroke, mati sebelah, dan kepala terbentur, rentetan penjelasan sebab kenapa bapak-ku tak sadarkan diri sampai detik ini. Kurasakan kulitnya masih hangat di bagian kanan, kontras di bagian kiri. Ada gerakan-gerakan kecil di kaki kanannya. Nafas lemah satu-satu.

Ku mencoba menenangkan diri sebelum berani membisikan sesuatu di telinga beliau, bapak-ku. Alhamdulillah, dia merespon. Bahkan ketika saya menanyakan bagian mana yang sakit, tangan kanannya menunjuk bagian kepala. Pikiranku mencocokan informasi dari perawat tadi, “kepala terbentur”. Namun antitesa berkata lain, sedikitpun tak ada bekas di bagian kepala.

Apa yang ditanam itulah yang akan dituai. Peran agresif bapak-ku sebagai pengajar tanpa balas jasa selama berpuluh tahun, kini kelihatan (mungkin) inilah salah satu hikmahnya. Satpam dan perawat kaget, katanya barusan Rumah Sakit kedatangan penjenguk sampai ratusan seperti itu. Ada yang ikhlas dengan derai air mata, ada pula malah dengan atribut partai segala macam, plus bisikan di telingaku, “Ini dari partai ini, nomor urut sekian”. Semua patut disyukuri, apapun niat dari kedatangan mereka.

Dari TV saya mengenal istilah JKN, Jamkesda, Askes, atau istilah lain yang membius kita sebagai masyarakat untuk mengatakan “woow gitu”. Tapi yang namanya sakit, semua berharap sehat. Bapak yang saya cintai kini terbujur sakit, tak ada harapan lain kecuali, beliau segera sehat seperti sediakala. Tuhan menyediakan ikhtiar, dalam ikhtiarku terselip harapan dari kemampuan dokter. Sayang dokter hanya datang sekilas dengan durasi tak sampai 3 menit, mendiagnosa dengan cubitan di bagian dada, menyuruh perawat memeriksa tekanan darah, sisanya menyuntikan obat penahan rasa sakit.

Waktu demi waktu berlalu sangat lambat dalam buaian kekhawatiran. Azan magrib dengan nada minor membuatku makin sedih. Praktis sudah 7 jam bapak-ku terkulai tanpa penanganan berarti. Segera kuambil inisiatif mencari penanganan medis di tempat lain. Apa daya, orang sakit bukan cuma bapak-ku. Salah satu rumah sakit swasta dengan penganan dokter 24 jam, menolak permintaanku. “Jangan katakan tidak bisa”.

Pukul 9.00 perawat memanggil darurat. Kami sekeluarga segera berkumpul mengitari sosok yang kami cintai. Kakak laki-laki mencoba melafalkan kalimat tauhid. Ada respon dari bapak dengan mengangkat tangannya. Setiap kali kalimat “Allah” di sebutkan, beliau mengangkat tangannya. Detak nadi semakin halus, sampai ketika giliranku melafalkan kalimat tauhid, kurasakan nafas itu tertarik panjang, lalu berhenti. Semua menangis. Tapi hatiku berkata lain, lafal tak kuhentikan. Kisaran 1 menit, saya merasakan ada nafas panjang masuk tertarik. Saya berteriak ke perawat, “Lanjutkan penanganan, dan jangan katakan tidak bisa”.

Akhirnya, hasil rembuk darurat dengan saudara, kami mengambil keputusan untuk meminta rujuk ke Rumah Sakit terbesar yang jaraknya 4 jam perjalanan. Pihak Rumah Sakit akhirnya mengijinkan, meski awalnya sempat ragu. Ada keberanian, ada kekhwatiran, tapi itulah takdir sebuah ikhtiar, di situ ada pelajaran, di situ ada hikmah. “Jangan katakan tidak bisa”.

Bersambung ke Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend