Jangan Abaikan Tulisan Fiksi

Ada banyak pengarang dan novelis fiksi yang menulis dalam karya mereka, dan apa yang mereka tulis ternyata terjadi belakangan. Sebagai contoh novelis Jules Verne (1828-1905), karyanya sudah banyak menyebutkan tentang temuan masa depan. Ada pula novelis fiksi yang menulis mengenai kemampuan manusia yang mirip dengan manusia milenial. Padahal tulisan itu ditulis beratus tahun sebelumnya.

Perhatikan novelis fiksi lainnya, Mother Shipton (1488-1561), dalam karyanya menulis;

Di bawah air manusia akan berjalan Akan berkendara, akan tidur bahkan akan berbicara Dan di udara manusia akan terlihat Berpakaian putih, hitam, bahkan hijau … Karena di hari menakjubkan yang masih jauh itu Perempuan akan mengenakan pakaian seperti laki-laki Dari memakai celana panjang, hingga memotong gelung rambut mereka …. Ketika gambar kelihatan hidup dan bebas bergerak Ketika perahu-perahu seperti ikan berenang di bawah laut Ketika manusia seperti burung menjelajah langit Saat itu setengah dunia mati terbenam dalam genangan darah … Mother Shipton

Syair fiksi yang luar biasa. Penulisnya seakan sudah bisa melihat pencapaian teknologi modern dan perubahan gaya hidup dengan sangat akurat. Padahal itu ditulis kurang lebih lima abad sebelumnya. Penulisnya seperti seorang peramal ulung yang bisa mendeskripsikan apa yang terjadi sekarang meski tulisan itu fiksi.

Contoh tulisan fiksi yang akurat menakjubkan juga terlihat dari karya Morgan Robertson tahun 1898 dalam tulisannya berjudul Futility. Morgan menulis karya fiksi mengenai tenggelamnya kapal besar yang digambarkan tidak bisa tenggelam karena besarnya. Persis dengan kisah kapal Titanic. Panjang kapal dalam karya fiksi Morgan 800 kaki, hanya 82 kaki lebih pendek dari Titanic. Kapal imajiner itu memiliki 24 sekoci, sedangkan Titanic memiliki 20 sekoci. Keduanya berlayar pertama kalinya pada April dari Shouthampton ke New York. Titik tubrukan keduanya pada sisi sebelah kanan. Kapal fiksi terbentur karam pada tengah malam. Sedangkan kapal asli Titanic 20 menit sebelum tengah malam. Kemiripan luar biasa yang terakhir adalah, kapal dalam fiksi karya Morgan bernama Titan, sedangkan kapal nyata 14 abad setelah karyanya ditulis beranam Titanic

Ini bukan kebetulan. (Baca: tak ada yang kebetulan) Manusia memang dianugerahi fungsi panca indera dengan kualitas berbeda. Kualitas mata bisa saja sama, tapi kualitas penglihatan berbeda. Seorang terkadang menulis dengan kemampuan cenayang di dalamnya. Seperti halnya, seorang ibu yang hamil memiliki kemampuan terawang yang lebih akurat dibanding dengan perempuan yang tidak hamil. Artinya apa? Suatu tulisan, meski tulisan itu fiksi, tak boleh kita sepelekan. Jangan abaikan tulisan fiksi

Ketika Prabowo mengutip novel fiksi Peter W Singer dalam karyanya berjudul GhoostFleet bulan Maret 2018, publik ribut, riuh, hiruk pikuk. Saya melihat itu terjadi karena menggunakan kacamata politis. Andai saja, kita melihat hal ini dalam paradigma kehati-hatian, bukan tak mungkin karya Winger yang mengatakan Indonesia bubar tahun 2030, benar terjadi atau setidaknya mirip seperti karya menakjubkan novelis fiksi yang saya ungkap sebelumnya.

Jangan abaikan tulisan fiksi! Berhati-hatilah…