Inspeksi Mendadak (Sidak), Kini Tak Lagi Mendadak

Inspeksi mendadak atau Sidak, adalah kata yang menakutkan terutama bagi PNS setelah libur lebaran. Karena sidak, banyak pegawai terpaksa harus disiplin; disiplin dalam artian tepat waktu masuk kantor setelah libur panjang. Di berbagai daerah, sidak diprioritaskan bagi kalangan PNS saja, tapi tidak di daerah saya. Sidak pun berlaku bagi tenaga honorer. “menjadi bahan pertimbangan menajdi CPNS kelak.” Kata petugas sidak.

Sidak yang ramai dibicarakan di media, adalah sidak setelah libur lebaran. Dari pemberitaan, motivasi pejabat terlihat berbeda-beda; ada yang memang atas dasar kesadaran ingin meningkatkan kedisiplinan pegawai, mencari sensasi, bahkan bisa jadi ada pejabat melakukan sidak karena ikut-ikutan. Indikasi ini terlihat dari para pegawai yang terjaring sidak, capek menunggu dan tidak kita ketahui kelanjutan ceritanya. Menarik pula ketika menarik hikmah cerita teman saya, “saat dipanggil menghadap, kami cuma salam-salaman, dan ngobrol kiri kanan.”

Sidak masa kini dan sidak masa khalifah Umar bin Khattab tentu jauh berbeda. Sidak masa Umar adalah sidak tanpa batasan waktu, tak kenal jam kantor, siang atau malam. Sidak bukan untuk menyambut hari libur lebaran, dan yang terpenting bukan untuk mencari kesalahan para pegawai, tapi sidak menjadi intropeksi pejabat (khalifah) dari ulah dan kejadian di masyarakatnya.

Mungkinkah sidak di Negara kita seperti sidak masa khalifah Umar ra?. Kenapa tidak. Sidak ala Umar bin Khattab murni berasal dari kesadaran pejabat/ khalifah, dan tak butuh rancangan anggaran. Untuk urusan ini, saya pernah iseng menanyakan kepada seorang teman yang bekerja di Badan Kepegawaian. “Kenapa sih sidak tidak harian atau mingguan, atau gk usah pakai waktu dah?”. Jawabannya, “sidak itu tak murah bro.”

Ternyata benar, bahwa perilaku akan merubah makna suatu bahasa dalam kata. Sidak singkatan dari inspeksi mendadak, kini sudah tidak mendadak lagi. Kesan mendadak otomatis hilang, karena sidak kini sudah terjadwal. Semua pegawai sudah tahu jika ada bahaya mengancam pada hari pertama setelah libur lebaran. Harapan dari sidak untuk meningkatkan kedisiplinan pun akhirnya harus berubah menjadi ketaatan menyambut pejabat terhadap waktu yang sudah ditetapkan.

Perubahan makna sidak yang kini tidak menjadi mendadak semestinya menjadi bahan inspeksi baru bagi siapapun yang berharap kedisiplinan pegawai meningkat. Jadikan sidak kembali ke “khittahnya.” Sebelum sidak akan menjadi seremonial belaka pasca libur lebaran.

Tinggalkan Balasan