Inna Lillah wa Inna Ilaihi Rajiun

Inna Lillah wa Inna Ilaihi Rajiun… Semua yang dicabut akan menyakitkan, yang hilang, akan menyedihkan, dan yang pergi akan dirindukan. 9 hari di Rumah Sakit dr Wahidin, Makassar, Tuhan menegaskan bahwa cukup sampai hari itu kami di Rumah sakit, cukup sampai saat itu bapak mendapat perawatan intensif dari dokter.

Ahad 16 April, saya mengambil inisiatif pulang ke kampung menyelesaikan kewajiban lain yang kutinggalkan di sekolah sejak hari pertama bapak masuk Rumah Sakit. Besar rasa enggan, meninggalkan bakti menjaga di ruang tunggu Rumah Sakit saat malam hari. Itulah sebuah pilihan, menjaga orangtua adalah kewajiban, menjalankan amanah juga kewajiban. “Biarlah untuk beberapa hari, hari kamis Insya Allah kembali ke Rumah Sakit”. Pikirku.

Hari selasa malam, 18 April, perasaan sangat tidak enak, badan terasa berat, dan ada dorongan agar segera ke Rumah Sakit malam itu juga. Sulit itu pasti, kendaraan ke kota satu satu sudah habis pada pukul 8 malam. Waktu saat itu menunjukkan pukul 10 malam, kecuali naik ojek ke jalan besar. Apapun itu saya putuskan ke Rumah Sakit dengan cara apapun.

Pukul 3 lewat 30 menit, saya tiba di Rumah Sakit. Kakak dan beberapa sepupu penjaga di ruang tunggu terlihat awas selalu berjaga. Mereka antrian istirahat. Tak seperti biasa, selepas shalat subuh, ibu, dan saudara perempuanku sudah berkumpul di Rumah Sakit. Biasanya mereka datang selepas makan siang.

“Semalam ibu bermimpi, bapakmu meminta dibacakan surah Yasin, kemudian saya melihat beliau melambaikan tangannya”. Kata ibuku terbata-bata.

Sejak saat itu, kami sekeluarga tidak beranjak dari ruang tunggu menunggu kabar dari ruang ICU pentilator, harap cema meski jam besuk pukul 11 masih lama. Ibuku sempat menyarankan pulang ke rumah sususun yang saya sewa di hari pertama berada di Rumah Sakit, dan aku menolak.

Tepat jam 11, pertama masuk ke ruang pentilator saya bertemu dengan dokter wanita memakai baju biru dalaman, dia tertunduk lesu. “Panggil semuami keluarga ta”, katanya. Kalimat itu sudah saya mengerti. Degup jantungku cepat, sedih, air mata seakan ingin keluar. Dengan langkah cepat, saya mendekati ibu, dan membimbingnya masuk. Saudaraku yang lain mengekor.

Bismillah wa Ala Millati Rasulillah, dengan menyebut nama Allah dan atas jalan yang dibawa oleh RasulNya. Tiada amalan yang paling baik saat itu kecuali melakukan apa yang diajarkan RasulNya. Bergantian kami melafalkan kalimat “La Ilaha Illa Allah”. Sisi sebelah kanan, ibu menunaikan permintaan bapak dalam mimpi dengan mengulang bacaan surah Yasin.

Inna Lillah wa Inna Ilaihi Rajiun, Sesungguhnya kami dari Allah dan Kami akan kembali kepada Allah. Tepat jam 12 siang hari Rabu, 19 April 2014, bapak kami tercinta menghemburkan nafasnya yang terakhir. Ringan, dan hampir kami tidak merasakan apa-apa. Beliau menghembuskan nafas yang terakhir dengan tenang, senyum menghiasi bibir mulia beliau. Kami sedih, tapi tak perlu meraung, meratap, karena itu sudah takdirNya.

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend