Indahnya Bertemu Sahabat Lama

Waktu berjalan tanpa terasa. Awal tahun, lalu di akhiri dengan gemerlap akhir tahun, mulai lagi, begitu seterusnya. “Orang yang merugi adalah yang panjang umurnya tapi sedikit amalnya. Orang yang beruntung adalah yang panjang umurnya sekaligus banyak amalnya.” Demikian pesan Nabi saw yang diriwayatkan Imam Ahmad ra. Amal tentu banyak, dan amal yang termasuk kecil tapi memiliki manfaat besar adalah bertemu dan bersilaturahim dengan sahabat.

Bertemu sahabat lama memiliki resonansi tersendiri di luar dari koteks ibadah. Umumnya, pertemuan dengan sahabat terjadi di bulan dan waktu tertentu. Tarolah pada hari Ied, pada acara walimah, atau acara hajatan lain yang memang memancing pertemuan dengan orang lain. Tapi di luar dari konteks itu, seakan terasa sulit. Sulit bukan karena tidak mau, tapi sulit sistemik karena tanpa unsur kesengajaan.

Hari ini saya bertemu sahabat lama. Dia seorang pembelajar yang sebenarnya layak mengajar. Berawal dari keinginan untuk mencetak baju dengan desain dan sablon semenarik mungkin, saya kemudian mengingatnya. Dia pada dasarnya seorang yang suka bongkar pasang komputer. Dia marah kalau saya panggil hacker yang belajar mengembangkan kecepatan dan ketepatan secara otodidak. “Saya adalah hacker hati istri saya kok”. Katanya. Namun dia sangat gembira jika diberi gelar tukang sablon. Keseharian memang dia menerima pesanan sablon baju, spanduk, baliho, dan sejenisnya. Di kota tempat saya, saya pastikan dia adalah sabloner terbaik.

Waktu dua jam serasa kurang. Mestinya sudah banyak yang berubah. Dulu kami bersahabat bertemu dengan posisi saya sebagai pelanggan. Sempat belajar sedikit tapi bakat tidak mendukung. Hari ini kami bertemu, dan saya masih jadi pelanggan. Hampir tak ada yang berubah, Saya datang toh tetap sebagai pelanggan. “Lalu kapan saya sebagai produsen K?”. “Yah, Ketika saya sudah jadi konsumen toh.” Katanya.

Sahabat tentu berbeda dengan teman. Seorang teman, masuk dengan memberi salam, duduk yang rapi, melahap cemilan saat dipersilahakan, mohon pamit jika akan pulang. Sahabat lebih dari itu. Biasanya seorang sahabat rentan melanggar etika umum. Datang beri salam, duduk rapi atau tidak bukan masalah, duduk atau baring juga tak masalah, kaki menjuntai tidak sopan dalam etika umum juga tak masalah, cemilan datang dilahap tanpa dipersilahkan. Itulah sahabat, dia lebih dalam dari sekedar teman.

Itulah sebabnya kenapa dalam kitab klasik manapun dalam membahasakan mereka yang bertemu Nabi saw dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan beriman pula, disebut sebagai sahabat, dan bukan teman Nabi saw. Istilah sahabat mencerminkan kedekatan, tapi teman hanya mengilustrasikan adanya interaksi lebih. Dalam bahasa Arab juga jelas, sahabat berbeda dengan teman atau dalam istilah al-Rafiiq.

Bertemu sahabat lama pasti selalu di akhiri rasa tidak puas. Keadaan selalu saja dianggap tidak sinkron, waktu seakan tidak cukup dan berlalu sangat cepat. Bertemu sahabat lama, pasti diakhiri dengan perjanjian baru untuk ketemu lebih cepat, meski sebenarnya hal itu belum dipikirkan masak-masak. “ingat kontak saya kalau kamu di kota, ingat hubungi saya, saya pasti datang.” Inilah bahasa perpisahan setelah bertemu sahabat lama, tanpa sadar kalau kontak dan pesan sebenarnya senantiasa dilakukan.

Dari pertemuan tadi saya juga belajar, bahwa terkadang manusia sebagai individu akan lebih mudah diingat karena skill yang mewakilinya. Semakin erat skill yang Anda punyai, maka semakin mudah Anda diingat oleh orang lain, termasuk sahabat Anda. Sahabat saya memiliki skill komputer termasuk desain yang mumpuni, itulah yang membuat saya mengingatnya. Tak perlu mengingat orang lain yang juga mumpuni, karena dia adalah sahabat.

Salam bahagia #Spesial buat K’Erwin

Tinggalkan Balasan

Pengen Chat?
LihinWhatsApp

Send this to a friend